Inspirasi

Menua Bersamanya: Kisah Pengalaman, Harapan, dan Konsistensi Kak Adim

×

Menua Bersamanya: Kisah Pengalaman, Harapan, dan Konsistensi Kak Adim

Sebarkan artikel ini
Menua Bersamanya: Kisah Pengalaman, Harapan, dan Konsistensi Kak Adim
Buku Menua Bersamanya karya Ahmad Dimyati Ridwan. (Dok. Detak Pustaka Toko).

Detak TribeAhmad Dimyati Ridwan, atau akrab disapa Kak Adim, mungkin kini dikenal sebagai penulis buku Menua Bersamanya. Namun, di balik perjalanan menulisnya, tersimpan cerita yang tidak sederhana. Mahasiswa S2 UPI Bandung ini justru memulai langkah kepenulisannya dari sebuah kabar yang membuat hidupnya berubah.

Lahir dan besar di Cianjur, Kak Adim menempuh pendidikan sarjana di jurusan Bahasa dan Sastra Arab dengan predikat lulusan terbaik. Pada 2021, ia memutuskan merantau ke Bandung. Di kota inilah proses kreatif sekaligus proses penyembuhan itu dimulai.

Dalam podcast Kataloka, Kak Adim menceritakan tentang awal mula ketertarikannya dengan dunia tulisan saat menempuh semester 3. “Ketika SMA saya punya guru yang suka menulis, tapi saya tidak begitu tertarik,” tuturnya.

Minat itu baru muncul setelah ia menerima kabar bahwa perempuan yang ia sukai menikah. Peristiwa tersebut menjadi titik balik. “Akhirnya saya memutuskan untuk merantau ke Bandung dan mulai menulis buku tentang dia,” katanya.

Dari sebuah kehilangan tersebut, lahirlah tekad kuat untuk menulis, dan akhirnya menjadi sebuah langkah besar yang awalnya tidak pernah ia bayangkan.

Sebagai penulis pemula, keraguan adalah teman lama yang terus menghampiri. Namun, Kak Adim punya cara sendiri untuk melawannya.

“Untuk mengatasi keraguan, salah satu solusinya konsistensi. Kalau kita sudah punya target ingin jadi penulis, ingin melahirkan karya, apapun kendalanya lambat laun bisa terlewati dengan konsistensi,” ujarnya. Baginya, menulis bukan sekadar kemampuan, tetapi komitmen untuk terus melangkah.

Dalam proses menulis, ada satu motivasi yang selalu ia pegang. Baginya, setiap tulisan adalah peluang untuk memberi manfaat bahkan setelah dirinya tiada.

“Ketika kita punya tulisan, entah nanti kita sudah meninggal atau apapun itu, ya kita masih ngasih manfaat untuk orang lain,” katanya. Prinsip sederhana itulah yang menjadi pendorong Kak Adim agar terus berkarya.

Kak Adim memahami betul keresahan penulis pemula, yakni takut dinilai jelek, merasa belum cukup, dan tidak percaya diri. Namun, ia percaya bahwa langkah pertama adalah bagian terpenting.

“Mulai saja dulu. Buku saya yang pertama juga begitu,” ungkapnya dengan jujur. Ia bahkan baru menemukan formula menulis yang lebih menarik pada buku keenamnya. Dari sana ia belajar bahwa proses adalah bagian dari pendewasaan kreativitas.

Seperti penulis lain, Kak Adim juga sering menghadapi writer’s block. “Kalau saya pribadi, tantangan terbesar itu ketika mengalami mandek di tengah nulis,” akunya. Cara mengatasinya pun sederhana, yakni dengan berhenti sejenak.

“Biasanya saya rehat beberapa menit dan nggak dipaksain,” lanjutnya. Ia percaya bahwa memaksakan diri hanya akan membuat tulisan kehilangan nyawa.

Ketika keraguan datang dari dalam diri atau ketika karya terasa tidak memuaskan, Kak Adim memilih menyeimbangkan introspeksi dan kolaborasi.

“Kalau masalahnya bisa diselesaikan sendiri ya sudah dengan diri sendiri. Tapi kalau benar-benar berat, saya selalu minta saran,” katanya. Dalam dunia kepenulisan, ia mengandalkan teman sesama penulis. Dalam kehidupan, ia akan datang kepada senior atau mentor.

Dalam buku Menua Bersamanya, Kak Adim menumpahkan banyak hal yang pernah ia simpan lama. Cerita-cerita masa lalu dan harapan yang ia titipkan pada masa depan.

“Saya dekat dengan perempuan dan ingin membukukan cerita saya yang masa lalu dan yang sekarang. Buku ini perpaduan antara pengalaman dan harapan,” ucapnya.

Buku Menua Bersamanya itu menjadi ruang bagi dirinya untuk berdamai sekaligus merayakan perasaan. Kak Adim menutup bincang dengan kalimat yang mencerminkan perjalanannya sendiri.

“Ketika kita memulainya, orang lain tidak akan pernah percaya. Tapi ketika kita berhasil, orang lain akan bertanya bagaimana cara meraihnya,” ungkapnya menutup perbincangan.

Buku karya Kak Adim ini bisa kamu dapatkan di toko resmi Detak Pustaka. Kamu juga bisa langsung mengunjungi laman berikut: Buku Kak Adim, untuk melihat detail bukunya.

Kalau kamu suka mendengar cerita dan obrolan seputar dunia kepenulisan, kamu bisa mampir di kanal YouTube Detak Pustaka untuk menikmati berbagai podcast inspiratif lainnya. Siapa tahu, kisah dan obrolannya bisa menemani perjalanan menulismu juga.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.