Inspirasi

Ajay Ahdiyat dan Tiga Karya Reflektif yang Mengantarkannya ke Semi-Finalist Kompetisi Dunia

93
×

Ajay Ahdiyat dan Tiga Karya Reflektif yang Mengantarkannya ke Semi-Finalist Kompetisi Dunia

Sebarkan artikel ini
Ajay Ahdiyat dan Tiga Karya Reflektif yang Mengantarkannya ke Semi-Finalist Kompetisi Dunia
Ajay Ahdiyat dan salah satu karya yang berhasil masuk Semi-Finalist Kompetisi Dunia. (Dok. narasumber).

Detak Tribe – Kabar membanggakan datang dari Azhar Natsir Ahdiyat atau yang akrab disapa Ajay Ahdiyat, yang karyanya resmi masuk Semi-Finalist Illustrators of the Future Contest periode 4th Quarter Volume 42 (2025) dalam ajang bergengsi L. Ron Hubbard’s Writers & Illustrators of the Future.

Prestasi ini menempatkan Ajay dalam salah satu tahapan seleksi kompetisi ilustrasi internasional yang diikuti oleh peserta dari berbagai negara dan latar belakang. Meski belum mencapai posisi pemenang utama, capaian tersebut menjadi bukti bahwa karyanya mampu bersaing di tengah seleksi ketat berbasis penilaian anonim atau blind review.

“Perasaannya tentu bangga dan gembira, walaupun belum mencapai sebagai pemenang utama. Ini menjadi motivasi untuk saya pribadi dalam berproses meningkatkan kualitas karya dan mengembangkan relevansi terhadap industri ilustrasi di kancah internasional,” ungkap Ajay.

Jejak Prestasi yang Konsisten

Bagi Ajay, capaian ini bukanlah titik awal perjalanan berkaryanya. Sebelumnya, ia telah menorehkan sejumlah prestasi, di antaranya:

  • 1st Winner—Himasra Art Awards 2015 “Jati Diri Jiwa Seni”, Thee Huis Gallery, Taman Budaya Jawa Barat, Bandung.
  • Visual Art Category Winner—Go Ahead Challenge 2019 “Biar Tapi Jadi Bukti”, Garuda Wisnu Kencana, Bali.
  • Special Conch Awards—International Pioneer Design Exhibition, International Ocean Art Festival (IOAF) 2023, Korea Selatan.
  • Top 20—“Your Art Your Icon” Illustration Competition, Wuling BinguoEV X Jicaf, 2025, Indonesia.

Meskipun demikian, keikutsertaan Ajay dalam kompetisi internasional kali ini justru berawal dari hal yang tidak ia rencanakan sebelumnya.

Berawal dari Mencari Peluang untuk Mahasiswa

Menariknya, Ajay mengaku tidak sejak awal berniat mengikuti kompetisi tersebut. Ia justru sedang mencari informasi open call kompetisi atau pameran internasional untuk direkomendasikan kepada mahasiswanya.

“Saat itu saya sedang mencari open call-open call kompetisi atau pameran internasional untuk direkomendasikan ke mahasiswa saya. Lalu menemukan kompetisi ini yang ternyata terbuka untuk umum. Saya share ke mahasiswa, dan saya juga ikut submit karena temanya sesuai dengan beberapa karya saya,” jelasnya.

Karya yang ia ikutsertakan pun bukan karya baru. Ia hanya mengirimkan karya yang telah selesai sebelumnya melalui sistem submit online. Proses seleksi berlangsung tertutup dan anonim, sehingga peserta tidak mengetahui jalannya penilaian. Informasi lolos sebagai semi-finalist pun ia terima langsung melalui email dari penyelenggara.

Tantangan utama, menurutnya, bukan pada proses teknis, melainkan pada persaingan global. “Tantangannya paling bersaing dengan banyaknya peserta dari berbagai negara. Tetapi semuanya berdasarkan penilaian juri,” katanya.

Tiga Karya, Satu Benang Merah

Dalam kompetisi tersebut, Ajay mengirimkan tiga karya. Ketiga karya tersebut adalah The Traveler, Bloody Queen, dan Lady Stork. Ketiganya memiliki filosofi dan arti tersendiri. Berikut adalah penjelasannya menurut Ajay:

Ajay Ahdiyat dan Tiga Karya Reflektif yang Mengantarkannya ke Semi-Finalist Kompetisi Dunia
Tiga karya Ajay Ahdiyat yang mengantarkannya ke Semi-Finalist kompetisi dunia.
  • The Traveler menggambarkan sosok pengelana yang melintasi batas antara alam dan teknologi. Tubuhnya menjadi ruang pertemuan naluri purba dan sistem buatan, menghadirkan refleksi tentang kemajuan, evolusi, dan kemungkinan kehilangan makna kemanusiaan.
  • Sementara itu, Bloody Queen menampilkan figur penguasa yang lahir dari luka dan kekuasaan. Elemen darah, tanduk, sayap burung hitam, serta struktur mekanis menjadi metafora tentang paradoks kepemimpinan—kuat namun rapuh, sakral sekaligus tercemar.
  • Adapun Lady Stork menghadirkan sosok perempuan dalam lanskap peralihan antara dunia purba dan masa depan mekanis. Bangau menjadi simbol migrasi dan ketahanan, sementara unsur sibernetik menandai perubahan cara manusia melihat dan memahami dunia.

Secara garis besar, ketiga karya tersebut menyuarakan benang merah yang kuat, yakni refleksi eksistensial tentang manusia yang terus bernegosiasi dengan teknologi, kekuasaan, dan perubahan zaman.

Akademisi yang Tetap Berkarya

Sebagai dosen DKV, Ajay Ahdiyat memandang partisipasi dalam kompetisi internasional sebagai hal penting, khususnya di bidang seni dan desain.

“Keikutsertaan dalam kompetisi global menjadi bagian dari upaya menjaga relevansi praktik kreatif dengan standar industri desain dan ilustrasi dunia. Pengalaman itu bisa dibagikan ke mahasiswa, jadi motivasi juga untuk mereka—mulai dari strategi presentasi karya, memahami kriteria lomba, sampai menyusun portofolio untuk pasar global,” ujarnya.

Baginya, kompetisi bukan semata tentang gelar juara, melainkan sarana pengujian karya secara objektif di ruang terbuka.

Selain aktif mengikuti ajang internasional, Ajay juga produktif dalam ranah literasi visual. Ia merupakan penulis buku Ilustrasi dalam Pusaran Komunikasi Visual yang diterbitkan oleh Detak Pustaka.

Buku tersebut membahas peran ilustrasi dalam lanskap komunikasi visual kontemporer, mulai dari fungsi estetika hingga strategi pesan dalam industri kreatif. Karya ini menjadi referensi yang relevan bagi mahasiswa DKV, praktisi desain, maupun pegiat visual yang ingin memahami ilustrasi secara lebih konseptual dan kontekstual.

Pesan untuk Ilustrator Muda

Di akhir wawancara, Ajay menyampaikan pesan sederhana dengan bermakna yang cukup menginspirasi bagi mahasiswa dan ilustrator muda yang ingin bersaing di tingkat global.

“Terus berkarya dan eksplorasi, tetap produktif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Jalin relasi seluas-luasnya, bangun reputasi baik di setiap kesempatan, dan jangan ragu untuk memulai.”

Dari ruang kelas di Kabupaten Kuningan hingga panggung kompetisi internasional, perjalanan Ajay Ahdiyat membuktikan bahwa konsistensi, eksplorasi, dan keberanian untuk mencoba dapat membuka peluang di kancah global.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.