Inspirasi

Ajeng Puji Lestari dan Seni Berdamai dengan Harapan Lewat Buku Kau Tak Jahat: Kau Hanya Bukan Keniscayaanku

93
×

Ajeng Puji Lestari dan Seni Berdamai dengan Harapan Lewat Buku Kau Tak Jahat: Kau Hanya Bukan Keniscayaanku

Sebarkan artikel ini
Ajeng Puji Lestari dan Seni Berdamai dengan Harapan Lewat Buku Kau Tak Jahat Kau Hanya Bukan Keniscayaanku
Ajeng Puji Lestari, penulis buku Kau Tak Jahat: Kau Hanya Bukan Keniscayaanku. (Dok. Detak Pustaka).

Detak Tribe – Ajeng Puji Lestari atau yang akrab disapa Ajeng, merupakan seorang penulis yang lahir di Cirebon, Jawa Barat. Ia tumbuh menjadi seorang perempuan yang menjadikan kata sebagai tempat berpulang. Dalam karya yang berjudul Kau Tak Jahat: Kau Hanya Bukan Keniscayaanku, Ajeng memaknai menulis sebagai proses berdamai dengan diri sendiri.

Ajeng yang kini bekerja sebagai staf administrasi di salah satu sekolah swasta di Cirebon, telah lama bersentuhan dengan dunia kata. Bagi Ajeng, menulis adalah bagian dari rekam jejak hidup yang tak terpisahkan dari perasaan dan pengalaman personalnya.

Menulis sebagai Refleksi

Penulis yang sejak lama sudah tertarik pada puisi, cerita, dan novel itu memandang kegiatan menulis sebagai ruang refleksi. Ia menyebut bahwa perempuan, kata, dan tulisan adalah tiga elemen yang tak bisa terpisahkan dari dirinya. Menulis membantunya mengurai perasaan yang kerap terasa acak dan tak beraturan.

“Dengan menulis, perasaan yang loncat-loncat bisa tersusun. Kata-kata menjadi alat untuk merapikan emosi dan sekaligus menjadi cermin diri,” ujarnya.

Baginya, menulis adalah wadah untuk memindahkan beban pikiran dan perasaan ke ruang lain. Dengan demikian, saat tulisan itu dibaca kembali, tulisan bisa menjadi parameter tentang apa saja yang pernah dirasakan, dilalui, dan dihadapi.

Tulisan Personal yang Jujur dan Apa Adanya

Buku Kau Tak Jahat: Kau Hanya Bukan Keniscayaanku lahir dari pengalaman yang sangat personal. Ajeng tidak menampik bahwa seluruh isinya merupakan rekaman perasaan yang ia alami sendiri.

“Buku ini semua isinya adalah personal, yang mana aku tulis berdasarkan pengalaman yang aku alami,” katanya.

Ia menyadari, bagi sebagian orang, tulisannya mungkin tampak seperti omelan atau belum sepenuhnya bermakna. Namun, tulisan justru membantu Ajeng untuk menurunkan intensitas emosi serta mengontrol perasaan yang sempat membuncah dalam diri.

Tentang Harapan dan Ketidakberdayaan

Buku ini berangkat dari perjalanan batin Ajeng menghadapi harapan. Ia mengisahkan fase butterfly era serta masa ketika harapan tumbuh karena perhatian dari seseorang. Akan tetapi, harapan itu perlahan berubah menjadi ketergantungan pada sosok yang sejatinya tak memiliki kuasa untuk menjadi tempat bergantung.

“Daripada mengutuk orang lain dan merasa tersakiti, setelah menulis aku sadar ternyata bukan dia yang jahat. Aku saja yang belum mengerti takdir,” ungkapnya.

Dari sanalah judul buku itu lahir, sebagai kesimpulan dari perjalanan menulis yang telah rampung. Sebuah pengakuan bahwa duka tidak selalu datang dari orang lain, melainkan dari harapan yang ia letakkan tidak pada tempatnya.

Bagi Ajeng, buku ini awalnya bukan ia tujukan untuk publik. Ia mengaku, awalnya menulis demi menyembuhkan dirinya sendiri, karena tulisan-tulisan tersebut harus menjadi obat terlebih dahulu, sebelum ia bagikan kepada orang lain.

Di samping itu, keputusannya untuk memublikasikan buku juga ia landasi dengan keinginan menemukan teman seperasaan. Ia ingin menunjukkan bahwa perasaan tidak harus selalu dipendam, tetapi bisa disalurkan secara indah—melalui kata dan buku.

Bab “Harapan” yang Paling Membekas

Dari seluruh isi buku, bab berjudul Harapan menjadi bagian yang paling membekas bagi Ajeng. Ia menggambarkan bagaimana Tuhan mengambil harapan-harapan yang sempat ia genggam, lalu menggantinya dengan cara yang tak selalu manusia sadari.

Ia meyakini, Tuhan menjauhkan harapan tertentu sebagai bentuk pengingat bahwa manusia tidak seharusnya menggantungkan harapan kepada selain Tuhan.

Proses Menulis yang Spontan

Ajeng tidak memiliki ritual khusus dalam menulis. Ia menulis ketika kata atau prosa tiba-tiba terlintas di kepalanya. Catatan bisa lahir di kertas, ponsel, atau aplikasi catatan sederhana. Setelah itu, barulah ia mengembangkan tulisan tersebut ketika memiliki waktu, menyusunnya menjadi satu bab utuh sesuai alur yang ia rasakan.

Tantangan Perempuan dalam Dunia Kepenulisan

Menurut Ajeng, tantangan terbesar perempuan dalam dunia kepenulisan—khususnya fiksi personal—adalah stigma. Perempuan yang mengungkapkan perasaan kerap dianggap berlebihan. Padahal, setiap perempuan memiliki hak untuk menyuarakan isi batinnya.

Menulis buku, baginya, menjadi ruang aman. Buku tidak memaksa siapa pun untuk membaca, dan pembaca datang dengan kesadaran sendiri tanpa menghakimi.

Detak Pustaka sebagai Ruang Aman Berkarya

Dalam proses penerbitan, Ajeng mengaku Detak Pustaka memiliki peran besar. Ia menyebut penerbit tersebut sebagai partner yang menemani penulis pemula sepertinya dengan penuh keterbukaan.

“Tulisan aku seperti menemukan ibunya,” katanya, menggambarkan kenyamanan dan kepercayaan yang ia rasakan selama proses penerbitan.

Harapan untuk Penulis Perempuan Indonesia

Ajeng berharap perempuan Indonesia tidak mengabaikan panggilan batin. Menurutnya, ketika sebuah motivasi terasa “srek” di detik pertama, itu adalah tanda yang patut kamu dengarkan.

“Jangan diabaikan. Lakukan selagi itu baik untuk diri kita dan lingkungan,” pesannya.

Melalui Kau Tak Jahat, Kau Hanya Bukan Keniscayaanku, Ajeng Puji Lestari tidak hanya menulis kisah patah dan harapan, tetapi juga menghadirkan pengakuan jujur tentang proses menerima takdir.

Apabila kamu ingin membaca lebih dalam kisah dari Ajeng di bukunya, kamu bisa membeli buku tersebut di sini: Buku Ajeng. Buku karya Ajeng Puji Lestari merupakan sebuah tulisan yang lahir dari luka, namun bisa menjadi pelukan bagi siapa saja yang pernah merasa berharap terlalu jauh.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.