Detak Tribe – Di tengah kesibukan sekolah, Albian Auriga Hernawan atau Bian, siswa kelas 11 IPA SMAN 12 Bekasi, menyempatkan diri menekuni dunia kepenulisan. Kesibukan Bian tidak berhenti di situ, ia juga tercatat aktif sebagai Wakil Ketua Divisi KEI di ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR).
Dalam kegiatan tersebut, ia mengikuti kegiatan Karya Tulis Ilmiah (KTI) sekaligus eksperimen. Musik juga menjadi salah satu minatnya, di samping proyek pribadinya mengembangkan sebuah novel bergenre fiksi ilmiah. Di dunia kepenulisan, Bian dua kali ikut lomba Halo Penyair, yakni di Batch 21 Vol 3 dan Batch 22 Vol 3.
Predikat yang Berbeda di Dua Kesempatan
Menariknya, hasil yang Albian Auriga Hernawan raih di kedua batch tersebut tidak sama. Pada Batch 21 Vol 3, ia meraih predikat Juara 1. Sementara itu, di Batch 22 Vol 3, predikatnya adalah penulis terpilih.
Bian menduga penurunan prestasi tersebut karena eksperimen gaya penulisannya di batch 22. Di batch 22, ia mencoba menulis puisi dengan metafora yang lebih dekat ke ranah sains.
“Keliatannya kayak turun, mungkin karena di batch 22 aku bikin puisi yang “beda” dengan menggunakan domain metafora yg lebih ke sains,” ungkapnya.
Menemukan Inspirasi dari Sekitar
Soal sumber inspirasi, Bian menuturkan bahwa ia kerap menemukannya dari hal-hal kecil yang dekat dengan keseharian. Misalnya, perasaan yang belum terungkap atau momen sederhana yang mudah terlewat begitu saja.
Tidak jarang, ia juga mengambil istilah sains maupun matematika, kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa perasaan. Baginya, pendekatan semacam ini memungkinkan tulisannya tetap personal, namun tidak sepenuhnya terbuka.
Ketika Kebuntuan Datang
Bian mengakui bahwa dirinya cukup akrab dengan writer’s block, bahkan kerap mengalaminya meskipun ide di kepala sebenarnya sudah banyak. Kendala biasanya muncul ketika ia berusaha mencari diksi atau rasa yang pas. Oleh karena itu, ia lebih memilih berpikir matang-matang daripada menulis sembarangan.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Bian biasanya menulis draf kasar lebih dulu tanpa memedulikan kualitasnya. Selain itu, ia juga terkadang memilih beristirahat sejenak agar kembali menulis dengan pikiran yang lebih segar.
“Cara saya ngatasinnya biasanya nulis draf kasar dulu tanpa mikirin bagus atau enggak. Atau istirahat sebentar terus balik lagi pas kepala udah lebih jernih,” katanya.
Titik Awal Kecintaan pada Menulis
Ketertarikan Bian pada dunia tulis-menulis bermula sejak ia mulai melek literasi. Ketertarikan tersebut semakin besar saat ia menonton film Kimi No Nawa. Ia terkesan dengan cara sang sutradara merangkai alur cerita, membangun karakter, dan menyusun world building yang menurutnya tersaji dengan rapi tanpa membingungkan.
Kekaguman itu memunculkan keinginan untuk mencoba menciptakan karyanya sendiri. Sejak saat itu, Bian mulai rajin membaca novel-novel karya penulis ternama dan mencoba menulis cerpen dalam skala kecil, saat masih duduk di kelas 1-2 SMP.
Motivasi di Balik Keikutsertaan di Halo Penyair
Menurut Bian, alasannya bergabung dalam Halo Penyair adalah untuk menguji sejauh mana kemampuan menulisnya di luar lingkungan sekolah, sekaligus keluar dari zona nyaman bidang cerpen yang selama ini ia tekuni. Ia juga ingin menimba ilmu dari komunitas yang secara khusus berfokus pada kepenulisan.
Sebelumnya bergabung dengan Halo Penyair, ia pernah mencoba peruntungan di lomba cerpen online, namun belum berhasil menang. Kegagalan itu sempat menimbulkan keraguan dan rasa takut untuk kembali mengikuti lomba, karena khawatir karyanya kurang bagus.
Meski begitu, ia akhirnya memberanikan diri mencoba lagi, dan menyadari bahwa esensi berkompetisi sesungguhnya terletak pada proses belajar dan keberanian menunjukkan karya, bukan semata hasil menang atau kalah.
Perbaikan yang Membawa Perubahan
Kegagalan di lomba sebelumnya mendorong Bian melakukan sejumlah evaluasi pada tulisannya. Ia mulai membiasakan diri menonjolkan detail-detail konkret ketimbang hal-hal yang abstrak.
Dengan demikian , ia tak lagi mengungkapkan perasaan secara umum, melainkan lewat gambaran atau momen yang spesifik. Bian juga belajar menjauhi gaya bahasa yang terkesan berlebihan. Ia lebih memilih diksi jujur meski sederhana.
Sebelum mengirimkan karyanya, ia terbiasa membaca ulang dan merevisi berdasarkan masukan yang ia terima, bukan langsung merasa puas dengan draf pertama. Kebiasaan tersebut, menurutnya, membuat tulisannya menjadi lebih rapi dan lebih terasa dekat di hati pembaca.
Menutup dengan Kesan yang Membekas
Di penghujung wawancara, Albian Auriga Hernawan membagikan kesan positifnya terhadap Halo Penyair. Ia merasa ajang ini memberi ruang yang berharga bagi penulis pemula seperti dirinya untuk berani menampilkan karya, dengan proses yang transparan dan komunitas yang suportif.
Pengalaman mengikuti Halo Penyair, menurut Bian, turut membentuk rasa percaya diri yang lebih kuat untuk terus menulis dan mengikuti kompetisi-kompetisi lain di masa depan.
“Ini jadi salah satu pengalaman yang bikin saya makin percaya diri buat terus nulis dan ikut lomba-lomba lain ke depannya,” tutup Bian.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











