Inspirasi

Alfatah Hidayat, Menjembatani Dunia Mengajar dan Menulis Lewat Karya

329
×

Alfatah Hidayat, Menjembatani Dunia Mengajar dan Menulis Lewat Karya

Sebarkan artikel ini
Alfatah Hidayat, Menjembatani Dunia Mengajar dan Menulis Lewat Karya
Alfatah Hidayat, penulis teraktif di Halo Penulis. (Dok. narasumber).

Detak Tribe – Bagi sebagian orang, mengajar dan menulis adalah dua dunia yang sulit bersatu. Hal ini karena keduanya sama-sama menyita waktu dan energi. Namun, bagi Alfatah Hidayat, keduanya justru menjadi ruang kesehariannya.

Alfatah Hidayat adalah salah satu guru SMK di Kota Batam yang kreativitasnya muncul di sela-sela kesibukan mengajar. Sejak Maret lalu, ia aktif mengikuti berbagai ajang lomba sastra tingkat nasional, khususnya di kategori cerpen dan puisi.

Berawal dari Waktu Luang

Perjalanan Alfatah di dunia tulis-menulis tidak ia mulai dari cita-cita besar menjadi penulis. Semua bermula dari keinginan sederhana untuk mengisi waktu luang. Ia mulai menulis novel untuk para siswanya yang akan lulus pada tahun 2026. Awalnya, karya tersebut hanya dibaca oleh dirinya sendiri serta murid-muridnya.

Titik balik terjadi ketika seorang rekan kerja membaca naskah tersebut. Sang rekan kemudian meyakinkannya bahwa tulisan itu punya daya tarik dan sayang jika hanya berhenti di lingkaran kecil.

“Dari dorongan sederhana dan kepercayaan dari orang lain itulah, keberanian saya akhirnya muncul sampai akhirnya keterusan dan aktif ikut perlombaan sampai sekarang,” katanya.

Alfatah mengikuti lomba yang oleh Halo Penulis selenggarakan sejak batch 5 hingga batch 9. Karya-karyanya dari batch 5 dan 6 terbit dalam Buku 1, batch 7 masuk ke Buku 2. Sementara, batch 8 dan 9 tergabung dalam Buku 3. Tak hanya itu, pada malam ulang tahun ajang tersebut, ia bahkan terpilih sebagai peserta teraktif.

Tantangan yang Tak Pernah Sepi

Meski terus berkarya, bukan berarti prosesnya berjalan mulus. Alfatah mengaku menghadapi sejumlah hambatan, mulai dari kebuntuan ide hingga keterbatasan waktu. Ini karena jadwal mengajarnya berlangsung hingga sore. Selain itu, kurangnya rasa percaya diri dan kebutuhan riset juga jadi tantangan tersendiri.

Untuk mengatasi kebuntuan ide, ia terbiasa mencari inspirasi lewat jalan-jalan, mengikuti berita, atau mengamati realita di sekitarnya. Soal waktu, ia menyiasatinya dengan menyisihkan sekitar dua jam setiap malam khusus untuk menulis.

Sementara untuk mengatasi rasa kurang percaya diri, Alfatah Hidayat memilih untuk menulis terlebih dahulu. Barulah kemudian meminta masukan dari rekan kerja maupun murid-muridnya. Hal ini karena mereka aktif membaca karyanya dan mampu memberikan penilaian apakah tulisan tersebut perlu direvisi atau tidak.

Dukungan dari rekan kerja satu ruangan pun menjadi bahan bakar tersendiri baginya. Ia masih mengingat betul kalimat yang pernah rekannya ucapkan. “Buat apa karya hanya disimpan di laptop, padahal lebih baik dijadikan buku agar bisa dibaca banyak orang.”

Alasan Memilih Halo Penulis

Alfatah mengungkapkan alasan mengapa memilih Halo Penulis sebagai wadah untuk karya-karyanya. Ia menjelaskan bahwa keputusan itu berdasarkan pada ekosistem Halo Penulis yang sangat mendukung pengembangan penulis.

Mulai dari penyelenggaraan perlombaan sastra secara berkala hingga kesempatan bagi karya-karya terpilih untuk terbit secara resmi menjadi buku cetak ber-ISBN.

Selain proses penerbitan dan pendampingan yang profesional, ia juga menilai platform ini memberikan legalitas portofolio. Selain itu, Halo Penulis juga membuka jalan untuk menjangkau pembaca yang lebih luas serta terhubung dengan komunitas penulis di seluruh Indonesia.

Karya yang Paling Membekas

Dari sekian banyak karya yang telah ia tulis, Alfatah mengaku ada satu yang paling berkesan baginya, yaitu cerpen berjudul “Peron yang Tak Pernah Kosong”. Menurutnya, karya ini berhasil menggambarkan kasih sayang seorang ayah yang sunyi, namun begitu dalam.

Bagian yang paling menyentuh dari cerita ini terletak pada penemuan puluhan tiket kereta yang tak terpakai serta catatan harian bersampul cokelat milik sang ayah.

Fakta bahwa sang ayah selalu membeli dua tiket di setiap penantiannya, agar sang anak tidak perlu berdiri sendirian saat pulang, menjadi simbol kasih sayang tanpa kata yang mengharukan.

Bagi Alfatah, cerita ini bukan sekadar kisah tentang penantian di stasiun, melainkan pesan bahwa orang yang paling setia dalam hidup adalah mereka yang tetap menyediakan jalan pulang, bahkan ketika kita memilih untuk pergi jauh.

Pesan untuk Penulis Pemula

Kepada para penulis pemula yang masih ragu mengirimkan karyanya ke perlombaan, Alfatah berpesan agar jangan biarkan tulisan hanya menjadi penonton dan mengendap diam di laptop atau catatan. Sebuah tulisan, katanya, baru benar-benar hidup ketika dibaca, dirasakan, dan memberi makna bagi orang lain.

Ia mengakui bahwa keberanian untuk mengirimkan karya ke perlombaan memang menakutkan, tetapi menang atau kalah sejatinya adalah urusan belakangan.

Hal yang paling penting adalah keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman, sembari menjadikan kompetisi sebagai ajang uji mental, wadah evaluasi, dan sarana belajar agar kualitas terus berkembang.

“Karya terbaikmu tidak akan pernah bisa menginspirasi siapa pun, jika kamu sendiri terus menyembunyikannya dari dunia,” tegasnya.

Harapan bagi Dunia Literasi

Sebagai seorang guru, Alfatah Hidayat juga menaruh harapan besar bagi dunia literasi Indonesia. Ia berharap tolak ukur literasi tidak lagi sekadar dari seberapa tebal buku yang orang baca. Namun, dari seberapa dalam kegiatan membaca mampu mengasah empati, pemikiran kritis, dan kepedulian murid terhadap sekitarnya.

Ia bermimpi ruang-ruang kelas dan pojok baca di seluruh pelosok negeri dapat menjadi tempat yang hangat bagi anak-anak untuk mengeksplorasi imajinasi tanpa rasa takut akan penilaian orang lain,

Dengan begitu, lahir generasi yang tidak hanya pandai memahami kata, tetapi juga berani bersuara dan menciptakan perubahan nyata melalui karya-karya yang penuh makna.

Ia menutup harapannya dengan sebuah kutipan dengan nama pena Lentera_Prasa: bahwa literasi bukan sekadar merangkai kata di atas kertas, melainkan menyalakan lentera empati agar anak-anak mampu membaca dunia dengan hati dan mengubahnya melalui sebuah karya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.