Inspirasi

Amanda Destya Maharani Ungkap Inspirasi dan Tantangan Menulis Puisi Lomba Halo Penyair

93
×

Amanda Destya Maharani Ungkap Inspirasi dan Tantangan Menulis Puisi Lomba Halo Penyair

Sebarkan artikel ini
Amanda Destya Maharani Ungkap Inspirasi dan Tantangan Menulis Puisi Lomba Halo Penyair
Amanda Destya Maharani, penulis berprestasi di Halo Penyair. (Dok. Detak Tribe).

Detak Tribe – Amanda Destya Maharani atau Manda, merupakan penulis muda yang telah dua kali berpartisipasi dalam ajang Halo Penyair, tepatnya pada batch 21 dan 22. Di sela kesibukannya menulis, ia gemar membaca buku, bernyanyi, dan tengah menekuni hobi baru, yakni belajar baking.

Ketertarikan Manda pada dunia menulis telah terbentuk sejak duduk di kelas 5 SD. Namun, perjalanan hingga akhirnya berani mengirimkan karya ke ajang perlombaan tidak lepas dari beberapa alasan. Ia menjelaskan bahwa keinginan mendapatkan pengalaman dan relasi baru menjadi salah satu pendorong utama.

Di sisi lain, banyaknya karya tulis yang selama ini hanya menganggur tanpa ia salurkan turut menjadi alasan mengapanya memutuskan mengikutsertakan dalam kompetisi. Bagi Manda, mengikuti lomba juga menjadi cara untuk menguji kemampuan diri sekaligus memperluas pembaca atas karya-karyanya.

Cerita Sahabat sebagai Titik Awal Inspirasi

Setiap penulis pasti mempunyai sumber inspirasinya masing-masing, termasuk Manda. Menurutnya, sumber inspirasi puisi yang ia kirim ke Halo Penyair berasal dari kisah nyata sahabatnya.

Sahabat Manda tersebut memiliki kedekatan dengan seorang teman laki-laki, hingga muncul perasaan suka yang tumbuh secara perlahan tanpa sadar. Perasaan itu pun hanya terpendam diam-diam, kadang timbul, kadang meredup, namun di lain waktu justru menyala dengan begitu kuat.

Cerita yang berulang kali sahabatnya sampaikan inilah yang akhirnya menjadi sumber inspirasi bagi Manda. Saat kesempatan lomba dari Halo Penyair muncul dan relevan dengan kisah tersebut, Manda pun meminta izin terlebih dahulu kepada sahabatnya sebelum menuliskannya dalam bentuk puisi.

Hambatan yang Kerap Muncul Saat Menulis

Di balik proses kreatifnya, Manda sering kali berhadapan dengan berbagai kendala. Ia mengaku kerap mengalami kebuntuan ide, di mana gagasan yang semula sudah terpikirkan tiba-tiba menghilang begitu saja. Belum lagi gangguan dari ponsel yang kerap membuat aktivitas menulisnya tertunda.

Untuk menyiasati hal tersebut, Manda menerapkan beberapa langkah sederhana, yaitu segera mencatat ide yang muncul, menjauhkan diri dari ponsel, dan mencari suasana yang nyaman agar dapat lebih fokus berkarya.

“Untuk kendala sih paling sering itu blank ya. Idenya udah muncul, tetapi tiba-tiba hilang. Biasanya yang saya lakukan catat ide, jauhkan hp, dan cari tempat yang nyaman,” jelas Manda.

Merambah Dunia Cerpen

Selain menulis karya lewat puisi, Manda juga memiliki pengalaman menulis cerita pendek atau. Salah satu karyanya, berjudul “Jarak Selembar Seng”. Karya tersebut juga telah terbit dalam antologi berjudul Bingkai Cerita Kita.

“Untuk cerpen saya pernah menulis cerpen berjudul “Jarak Selembar Seng”, yang masuk ke dalam buku berjudul Bingkai Cerita Kita,” ungkapnya.

Menulis dari Hati Tanpa Rumus Baku

Terkait tips menulis, Manda mengaku tidak memiliki formula khusus yang ia terapkan. Baginya, proses menulis bermula dari menuangkan apa yang terasa, kemudian ia lanjut dengan tahap penyuntingan hingga tulisan tersebut enak dibaca. Ia juga selalu berusaha menghadirkan tulisan yang menarik, baik dari segi judul maupun isi ceritanya.

“Saya gak punya cara khusus. Biasanya saya akan nulis sesuai apa yang saya rasakan terus saya edit dan rapikan,” kata Manda.

Harapan untuk Masa Depan Literasi Tanah Air

Di akhir perbincangan, Manda membagikan kesan mendalamnya terhadap program Halo Penyair. Menurutnya, program ini memberikan wadah yang sangat berharga bagi para penulis muda dan pemula untuk terus berkembang serta mendapatkan pengakuan atas karya yang mereka hasilkan.

Adapun harapannya untuk literasi Indonesia adalah agar ke depannya orang-orang tidak lagi memandang buku sebagai barang mewah. Ia juga berharapmasyarakat tidak lagi menganggap menulis hanya sekadar bakat, melainkan menjadi kebutuhan bagi setiap orang.

Selain itu, Amanda Destya Maharani pun berharap setiap sudut di Indonesia memiliki kisahnya masing-masing, dan selalu ada yang bersedia mendengarkannya.

“Semoga setiap sudut di Indonesia punya ceritanya tersendiri dan ada yang mau mendengarkan,”pungkasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.