Detak Tribe – Bagi sebagian orang, menulis hanyalah hobi yang cukup disimpan dalam buku harian. Namun, bagi Andi Hasana, menulis justru menjadi jalan untuk membuktikan sesuatu, terutama kepada dirinya sendiri. Andi sendiri adalah siswi SMA yang sudah jatuh cinta pada kata-kata sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Nama Andi Hasana kini bukan nama asing di komunitas Halo Penulis. Ia adalah penulis muda berbakat yang berhasil menyabet beberapa gelar juara, seperti Juara 2 LM_BATCH19, Juara 3 LM_BATCH21, Juara 1 LS_BATCH8, hingga Penulis Terbaik 4 MB_BATCH16.
Tak berenti sampai di sana, Andi juga pernah meraih belasan kali predikat Penulis Terpilih di berbagai batch, mulai dari lomba cerpen, puisi, hingga surat. Namun, di balik daftar panjang prestasi itu, ada perjalanan yang jauh lebih jujur dan menginspirasi yang datang darinya.
Awal yang Sederhana
Andi mengaku mulai menulis bukan karena dorongan prestasi, melainkan karena rasa suka. Kebiasaan itu tumbuh alami sejak SD, dari kegemaran membaca novel yang ia koleksi. Dari membaca itulah, tumbuh keinginan untuk mempunyai karya sendiri, hingga sejak SMP, ia mulai benar-benar mencoba menulis.
Perjalanannya ke dunia lomba baru ia mulai sekitar akhir tahun lalu, tepatnya di bulan November, ketika ia memberanikan diri mengikuti lomba menulis cerpen untuk pertama kalinya. Dari sana, pintu-pintu lain pun terbuka.
Saat masih menjadi santriwati di pondok, ia gemar mengikuti tradisi menerbitkan karya santri setiap tahun. Para siswa yang berminat bisa mengikuti proses penulisan dengan bimbingan guru, dan karya mereka kemudian akan dicetak menjadi buku. Pengalaman itulah yang menjadi salah satu fondasi awal kepercayaan dirinya sebagai penulis.
Menang dan Rasa yang Mengikutinya
Ketika ditanya soal perasaannya saat pertama kali memenangkan lomba, Andi menjawab dengan singkat, dan mengungkapkan perasaan senangnya. Namun, ini bukan sembarang senang.
“Sebelumnya saya kurang percaya diri buat nunjukin karya saya ke orang-orang,” ungkapnya.
Kemenangan itu bukan hanya soal nama yang tercantum di pengumuman, melainkan tentang keberanian yang tumbuh setelahnya. Apalagi kalau bukan keberanian untuk menunjukkan karyanya kepada lebih banyak orang.
Kepercayaan diri itu pun ia bangun bukan tanpa jatuh. Andi mengakui pernah mengalami kegagalan dalam lomba. Namun, cara ia menyikapinya sederhana dan konsisten, yaitu dengan belajar lagi. Membaca novel, mencoba menulis hal-hal baru, dan percaya bahwa hari ini belum menang bukan berarti esok tidak bisa.
Proses di Balik Layar
Bagi Andi, inspirasi tidak datang dari tempat yang jauh. Ia hanya butuh malam yang tenang, kamar yang sepi, dan laptop yang terbuka.
“Kalau malam biasanya udah pada tidur, jadi biasanya di kamar buka laptop langsung lancar,” katanya.
Entah bagaimana, suasana malam membuatnya tahu harus menulis apa, bagaimana membangun paragraf demi paragraf. Satu ritual kecil yang selalu menemaninya adalah musik. Tidak ada genre tertentu yang ia sebut, tetapi musik rupanya cukup untuk membangun suasana yang ia butuhkan.
Soal persiapan lomba, Andi punya caranya sendiri. Ia selalu meluangkan waktu mematangkan ide sebelum mulai mengetik, serta mengingat tema lomba yang sudah panitia tentukan. Ia juga tidak segan meminta masukan dari teman-temannya untuk menggali ide, lalu mulai menulis setelah merasa cukup siap.
Ketika Kata-Kata Macet
Writer’s block bukan sesuatu yang asing baginya. Andi mengaku sering mengalaminya, dan ia sudah punya cara sendiri untuk menghadapinya, yaitu dengan berhenti sejenak.
“Kalau misalnya saya nulis tetap lanjut, nanti waktu saya udah merasa oke terus saya cek lagi, saya nggak suka,” jelasnya.
Daripada memaksakan diri dan berakhir tidak puas, ia lebih memilih istirahat sejenak, dengan pergi jalan-jalan, bertemu teman, melupakan tulisan untuk sementara. Ketika mood kembali, ia akan fokus pada tulisan dan melanjutkan.
Lomba yang Paling Berkesan
Di antara semua pencapaian di Halo Penulis, ada satu lomba di luar platform yang ternyata paling membekas, yaitu FLS3N atau Festival dan Lomba Seni Sastra Siswa Nasional. Andi tidak memenangkannya, tetapi itu justru tidak mengurangi maknanya.
“Udah lama ngincar,” akunya.
Satu hal yang membuatnya bangga adalah kesempatan untuk mewakili sekolahnya. Ini merupakan sebuah kehormatan yang tidak semua siswa bisa meraihnya. Baginya, lolos mewakili sekolah saja sudah cukup untuk menjadi kebanggaan tersendiri.
Pesan untuk yang Masih Ragu
Kepada sesama penulis pemula yang masih menimbang-nimbang untuk ikut lomba, Andi punya satu pesan yang ia sampaikan dengan tenang, namun tegas.
“Kadang memang ada beberapa orang yang merasa karyanya nggak bagus. Tetapi bukan berarti karya itu nggak bagus,” tegasnya.
Ia percaya bahwa setiap karya akan selalu menemukan pembacanya. Ini karena ada yang tidak suka, tetapi selalu ada yang suka dengan sebuah karya adalah sesuatu yang normal terjadi. Oleh karena itu, tidak perlu menunggu karya sempurna untuk mulai berani.
Untuk Halo Penulis sendiri, Andi menitipkan harapan sederhana. Ia menyampaikan harapan agar komunitas ini terus berkembang dan bisa menampung lebih banyak aspirasi para penulis.
Andi Hasana membuktikan bahwa prestasi tidak selalu lahir dari bakat luar biasa, melainkan dari keberanian kecil yang ia pilih setiap hari. Dengan tetap dan terus menulis, meski ragu menghampiri. Ia membuktikan bahwa konsistensi akan berbuah manis di kemudian hari.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.












