Inspirasi

Arum Abygail dan Perjalanan Menulis Buku Memeluk Trauma hingga Tenang

22
×

Arum Abygail dan Perjalanan Menulis Buku Memeluk Trauma hingga Tenang

Sebarkan artikel ini
Arum Abygail dan Perjalanan Menulis Buku Memeluk Trauma hingga Tenang
Arum Abygail, penulis buku Memeluk Trauma hingga Tenang. (Dok. Detak Pustaka).

Detak Tribe – Bagi sebagian orang, menulis adalah cara untuk berbagi cerita. Namun, bagi Arum Weni Yekti Lestari, atau yang lebih dikenal dengan nama pena Arum Abygail, menulis adalah cara untuk bertahan dan memahami diri sendiri.

Perempuan yang sehari-harinya berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus pengajar bahasa Korea secara daring dan privat ini telah menerbitkan dua buku di Detak Pustaka. Buku pertamanya, Kopi dan Narasi, ia tulis bersama rekan sesama penulis.

Sementara, buku keduanya yang berjudul Memeluk Trauma hingga Tenang, merupakan karya solo yang jauh lebih personal. Buku tersebut berisi sebuah memoar reflektif yang lahir dari pengalaman hidupnya sendiri.

Tentang Buku Memeluk Trauma hingga Tenang

Memeluk Trauma hingga Tenang bukan buku yang menawarkan resep kesembuhan instan. Arum menggambarkannya sebagai teman perjalanan bagi mereka yang sedang belajar memahami diri, menerima masa lalu, dan menemukan ketenangan secara perlahan.

“Gagasan utamanya adalah bahwa ketenangan bukan datang karena kita melupakan luka, tetapi karena kita belajar hidup berdampingan dengannya dengan lebih sehat dan penuh penerimaan,” ungkap Arum.

Judul buku itu sendiri lahir dari sebuah kesadaran yang datang setelah perjalanan panjang. Arum menyadari bahwa yang kerap seseorang butuhkan bukan memaksa diri untuk terlihat baik-baik saja, melainkan keberanian untuk melihat bagian diri yang terluka.

Proses yang Tidak Mudah

Menulis buku ini ternyata bukan perkara sederhana. Proses penulisan Memeluk Trauma hingga Tenang berlangsung selama sekitar 14 hingga 15 bulan. Total pengerjaan itu hasil dari perhitungan sejak pengumpulan ide, refleksi pengalaman, penyusunan naskah, hingga revisi dan penerbitan.

Sebagian besar waktu itu justru bukan ia habiskan untuk mengetik, melainkan untuk berhenti sejenak. Arum mengaku harus banyak mengambil jeda selama proses penulisan. Alasannya, karena kembali menengok ke belakang ternyata menjadi hal yang paling menakutkan.

“Saya harus mengimbangi dengan melindungi psikologis saya dari trigger-trigger selama penulisannya, dan konseling dengan psikolog saya,” ceritanya.

Tidak hanya soal psikologis, keraguan terhadap diri sendiri pun turut menjadi hambatan. Arum sempat mempertanyakan apakah cerita yang ia tulis cukup berarti bagi pembaca.

Selain itu, pertanyaan tentang apakah ia sudah siap membagikan bagian-bagian yang begitu personal kepada orang lain turut menyertai. Menulis buku ini, katanya, terasa seperti melepaskan semua topeng yang selama ini ia kenakan saat menghadapi dunia luar.

Ada pula pertimbangan lain yang membuatnya sempat ingin berhenti. Rasa khawatiran soal dampak buku tersebut terhadap putrinya, juga soal menjaga privasi orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan hidupnya.

Namun, dukungan dari orang-orang terdekatnya berhasil memberinya alasan untuk terus melanjutkan. Pesan yang ia pegang, yakni jadikan proses penulisan itu sendiri sebagai perjalanan untuk pulih.

Waktu Luang sebagai Modal Menulis

Di tengah kesibukan sebagai ibu dan pengajar, Arum Abygail tidak menerapkan jadwal menulis yang kaku. Ia lebih mengandalkan konsistensi dalam memanfaatkan waktu-waktu luang, meski hanya satu hingga dua jam sehari.

“Saya biasanya menulis ketika suasana hati dan pikiran sedang cukup tenang, karena bagi saya menulis bukan sekadar menyusun kata-kata, tetapi juga mengolah pengalaman dan emosi,” jelasnya.

Ia menyusun kegiatan hariannya berdasarkan skala prioritas, dan menulis menjadi salah satu yang tetap ia jaga progresnya, meski ia lakukan sedikit demi sedikit. Baginya, setiap buku punya waktunya sendiri untuk lahir.

Memilih Kembali Detak Pustaka

Untuk buku keduanya, Arum kembali mempercayakan naskahnya kepada Detak Pustaka. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Pengalaman positif dari penerbitan buku pertama memberinya keyakinan bahwa ia menemukan penerbit yang memberi ruang bagi penulis untuk mempertahankan karakter dan identitas tulisannya.

Lebih dari sekadar soal teknis penerbitan, Arum melihat keselarasan antara visi penerbit dengan pesan yang ingin ia sampaikan melalui buku yang sangat personal itu.

“Kalau diibaratkan, saya sudah menemukan ‘rumah’ yang nyaman untuk bertumbuh sebagai penulis,” ujarnya.

Pesan untuk Penulis yang Masih Ragu

Di penghujung percakapan, Arum Abygail menyampaikan pesan kepada para penulis yang ingin mengangkat tema serupa, tentang trauma, kesedihan, kehilangan, namun masih ragu-ragu.

Ia mengingatkan agar tidak terburu-buru menulis demi menyembuhkan orang lain sebelum memberi ruang bagi diri sendiri untuk memahami apa yang dirasakan.

Menulis dari luka yang masih terbuka, katanya, sering kali hanya melahirkan amarah dan kalimat-kalimat yang tersasar. Sebaliknya, menulis dari proses memahami luka akan melahirkan makna.

Arum juga menegaskan bahwa tidak semua cerita harus segera dibagikan kepada dunia. Sebuah tulisan tetap punya nilai meskipun belum dipublikasikan.

Dan yang terpenting, jangan meremehkan kekuatan satu cerita, sebab bisa jadi, di luar sana ada seseorang yang sedang berjuang sendirian dan menemukan penghiburan dari satu kalimat yang kita tulis.

“Tulisan yang lahir dari kejujuran akan selalu menemukan pembacanya. Jadi, jika ada keraguan, jangan fokus pada pertanyaan ‘Apakah tulisan saya cukup baik?’, tetapi cobalah bertanya, ‘Apakah ada kebenaran yang ingin saya sampaikan?'” pesannya.

Bagi Arum Abygail, menulis pada akhirnya bukan hanya tentang meninggalkan jejak bagi orang lain. Lebih dari itu, menulis adalah cara untuk menemukan jalan pulang bagi diri sendiri.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.