Inspirasi

Ayu Lina Pertiwi: Menulis di Antara Kesibukan Seorang Guru

27
×

Ayu Lina Pertiwi: Menulis di Antara Kesibukan Seorang Guru

Sebarkan artikel ini
Ayu Lina Pertiwi Menulis di Antara Kesibukan Seorang Guru
Ayu Lina Pertiwi dan salah satu event yang pernah ia ikuti. (Dok. Detak Tribe).

Detak Tribe – Ayu Lina Pertiwi merupakan perempuan yang sehari-hari menjalani dua peran sekaligus, yakni seorang guru SD dan seorang penulis. Peran ini bukan kombinasi yang mudah, tetapi ia menjalaninya dengan cara yang sederhana dan penuh kesadaran.

Ketertarikan Ayu pada dunia tulis-menulis sebenarnya sudah tumbuh sejak bangku sekolah menengah. Namun, saat itu menulis hanyalah hobi yang ia nikmati sendiri, tanpa ada niat untuk membagikannya ke khalayak luas. Waktu terus berjalan, dan aktivitas menulis pun perlahan terpinggirkan.

Barulah pada tahun 2023, Ayu memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Ia mengirimkan tulisannya untuk pertama kali ke sebuah platform kepenulisan bernama Halo Penulis.

Karya perdananya, Menunggu Sebuah Jawaban, adalah cerita tentang pertemuan tak terduga dua insan yang pada akhirnya terikat oleh takdir. Sederhana, namun sarat makna personal.

“Itu adalah tonggak awal saya menulis lagi setelah lama vakum,” ujarnya.

Tujuh Karya Lahir

Sejak saat itu, Ayu tidak berhenti. Ia tercatat telah mengikuti sejumlah kegiatan kepenulisan di Halo Penulis, baik dalam program Menulis Bareng maupun lomba menulis. Beberapa karyanya antara lain Dari Aku Untuk Aku, Kisah di Balik Pertemuan, Kamu dan Segala Kenangan.

Kemudian ada juga karya berjudul Harapan di Tengah Penantian, Saat Semesta Mempertemukan Kita, hingga Kamu dan Langkah yang Menjauh. Tujuh karya tersebut, menurut Ayu, masing-masing menyimpan kesan tersendiri.

Tantangan di Balik Setiap Tulisan

Perjalanan menulis Ayu tentu tidak selalu mulus. Ia mengakui bahwa ide tidak selalu datang begitu saja. Ada kalanya ia menghadapi kebuntuan, saat pikiran terasa kosong dan kata-kata enggan mengalir.

Untuk mengatasinya, ia memilih cara yang cukup sederhana, dengan sekadar berjalan-jalan untuk menyegarkan pikiran, membaca karya penulis lain, atau kembali membuka tulisan-tulisan lamanya.

Selain hambatan kreatif, Ayu juga pernah mengalami kegagalan dalam sebuah lomba. Penyebabnya bukan karena kualitas tulisan, melainkan karena ia kurang teliti membaca syarat kepenulisan yang penyelenggara minta. Alih-alih berlarut dalam kekecewaan, pengalaman itu justru mengajarkannya untuk tidak tergesa-gesa dalam berkarya.

Dua Peran Jadi Semangatnya

Mengelola dua peran sekaligus memang membutuhkan kedisiplinan tersendiri. Ayu menyiasatinya dengan menjaga kegiatan menulis agar tidak masuk ke dalam jam mengajar. Ia menulis di waktu luang, sehingga kedua aktivitas itu bisa berjalan beriringan tanpa saling mengganggu.

Dari posisinya sebagai guru sekaligus penulis, Ayu memiliki harapan yang konkret untuk dunia literasi Indonesia. Ia ingin ada lebih banyak karya sastra yang berpihak pada anak-anak, terutama karena di lingkungan tempatnya mengajar, buku-buku semacam itu masih sangat terbatas.

Lebih dari sekadar harapan, ia pun menargetkan dirinya sendiri untuk suatu hari menjadi salah satu kontributor yang bisa mewujudkan hal tersebut.

Wadah untuk Berkarya Tanpa Rasa Takut

Bagi Ayu, Halo Penulis bukan sekadar platform lomba. Lebih dari itu, ia menyebutnya sebagai wadah yang tepat untuk berbagi tanpa takut orang lain hakimi. Sebagai penulis yang kerap dihinggapi keraguan soal kualitas karyanya sendiri, ia merasakan bagaimana lingkungan yang suportif bisa perlahan mengikis rasa tidak percaya diri itu.

“Dengan mengikuti event di Halo Penulis, segala keraguan itu perlahan sirna,” katanya.

Kini, Ayu Lina Pertiwi terus melangkah. Satu tulisan demi satu tulisan, ia membuktikan bahwa keberanian untuk berkarya bisa ditemukan kembali, bahkan setelah sekian lama terdiam.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.