Detak Tribe – Bagi sebagian orang, menulis adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu luang berlimpah. Namun, bagi Ayu Rismayanti, menulis justru menjadi ruang pelarian di sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus staf administratif di sebuah sekolah dasar swasta.
Perempuan berusia 28 tahun ini membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukan penghalang untuk terus berkarya. Bahkan, di tengah kesibukan itu, ia berhasil mengubah karyanya menjadi buku antologi dua kali, lewat ajang Halo Penulis.
Semangat Menulis yang Tak Pernah Padam
Setiap harinya, Ayu Rismayanti menjalani rutinitas yang cukup padat. Pagi hingga sore hari ia habiskan untuk bekerja di sekolah, biasanya pulang sekitar pukul tiga sore. Selepas itu, ia masih mengambil kerja sampingan sebagai penjahit baju kebaya. Barulah pada malam hari, ia memaksakan diri untuk meluangkan waktu membaca.
Menariknya, ketertarikan Ayu pada dunia tulis-menulis sebenarnya sudah tumbuh sejak lama. Hanya saja, ia mengaku sempat menghadapi rasa tidak percaya diri terhadap gaya bahasanya sendiri.
Menurutnya, tulisan yang ia buat sering kali terasa monoton. Ia bahkan mengakui lebih menikmati membaca komik ketimbang novel dengan tulisan padat berparagraf panjang, karena komik lebih membuatnya tetap terjaga saat membaca.
Kebiasaan menulis di buku diary menjadi wadah bagi Ayu untuk menuangkan segala hal yang ia rasakan, baik maupun buruk. Kebiasaan pribadi ini pada akhirnya menjadi modal berharga ketika ia mengenal ajang lomba menulis Halo Penulis melalui media sosial TikTok dan Instagram.
Dua Kali Jadi Penulis Terpilih
Ketertarikannya mengikuti lomba menulis Halo Penulis membawa hasil yang tidak ia sangka-sangka. Pada ajang LM-Batch 6 Vol 3, tulisan Ayu berhasil masuk dalam buku antologi berjudul Bingkai Cerita Kita jilid 5.
Pencapaian tersebut menjadi pembuktian tersendiri baginya bahwa kekhawatirannya selama ini terhadap kemampuan menulis tidak seburuk yang ia bayangkan.
Tak berhenti di situ, Ayu kembali mengikuti ajang serupa pada LM-Batch 7 Vol 3. Hasilnya, ia kembali meraih predikat penulis terpilih lewat buku Akhir Sebuah Cerita edisi jilid 3. Baginya, dua pencapaian berturut-turut ini merupakan perjalanan yang tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya.
“Sungguh ini merupakan perjalanan yang baik dan juga pencapaian yang sangat tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” katanya.
Antara Kisah Pribadi dan Imajinasi
Soal inspirasi menulis, Ayu mengungkapkan bahwa karya-karya yang ia kirimkan ke ajang lomba merupakan perpaduan antara kisah pribadinya dan imajinasi, yang ia rangkai menjadi satu cerita utuh. Menurutnya, jika sebuah cerita tidak berangkat dari pengalaman pribadi, ia justru kesulitan menjaga alur agar tetap terarah.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua detail dalam kisah aslinya ia tulis secara terang-terangan. Beberapa bagian yang terlalu frontal sengaja ia belokkan alurnya.
Tujuannya, agar pihak yang benar-benar menjadi inspirasi cerita tidak merasa kisahnya terumbar secara gamblang. Terlebih lagi karena sudah terbit dalam bentuk buku dan berpotensi dibaca oleh orang-orang terdekatnya.
Sebagai penulis yang masih terbilang baru menjajaki dunia kepenulisan, Ayu juga mengaku menghadapi tantangan dalam membangun emosi cerita agar terasa hidup, tidak monoton, dan tidak terkesan garing.
Ia mencontohkan kesulitannya saat menggambarkan emosi marah dalam sebuah tokoh, di mana penulis pada umumnya menunjukkannya lewat dialog maupun aksi tokoh, sesuatu yang menurutnya masih perlu terus ia asah.
Inspirasi di Jam Tiga Pagi
Menariknya, inspirasi menulis bagi Ayu justru kerap muncul pada waktu yang tidak biasa, yakni sekitar pukul tiga dini hari. Selain itu, ia juga memanfaatkan waktu-waktu luang di sekolah untuk membaca novel. Begitu inspirasi datang, ia biasanya langsung menuliskannya tanpa menunda.
“Bisanya inspirasi saya muncul di jam 3 pagi, kadang juga pas ada waktu luang di sekolah saya sempatkan membaca novel,” ungkap Ayu Rismayanti.
Dorongan utama yang membuatnya terus mengirimkan karya ke berbagai ajang lomba menulis, menurut Ayu, adalah keinginannya untuk mengukur sejauh mana kemampuan dan pencapaiannya di dunia kepenulisan.
Halo Penulis sebagai Ruang Belajar
Ayu menilai, kehadiran berbagai ajang lomba yang rutin Halo Penulis gelar membuka peluang bagi siapa saja yang ingin menceritakan kisahnya. Utamanya, untuk mereka yang sebelumnya ragu menampilkan karyanya meski sebenarnya memiliki kemampuan.
Menurutnya, ajang-ajang tersebut turut membangkitkan semangat para penulis pemula untuk terus belajar dan berkembang. Ia menambahkan, banyak penulis yang awalnya hanya berstatus sebagai penulis terpilih kemudian termotivasi untuk mengejar posisi sebagai penulis juara.
Karya yang berhasil menjadi buku pun bisa ia banggakan sebagai pencapaian, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
Pesan untuk Penulis Pemula
Menutup perbincangan, Ayu Rismayanti menitipkan pesan bagi para penulis pemula yang masih ragu untuk mengirimkan karyanya ke ajang lomba.
Menurutnya, menjadi penulis hebat bukan semata soal menghadirkan cerita yang mampu menyentuh pembaca hingga terasa nyata. Namun, menjadi penulis hebat lahir dari tekad dan keyakinan bahwa setiap proses serta setiap kata yang dituliskan memiliki maknanya sendiri.
Ia meyakini bahwa langkah kecil sekalipun sudah cukup berarti untuk melahirkan sebuah karya. Sebab, di setiap kata yang tertulis, selalu ada perasaan yang sungguh nyata untuk dirasakan dan diceritakan.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











