Detak Tribe – Bencana banjir bandang yang dipicu longsornya massa es dan batu terjadi di perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/08/2026) lalu menyebabkan sedikitnya 552 orang meninggal dunia. Sebanyak 547 korban meninggal dunia berada di Nepal, sementara lima orang lainnya meninggal di kawasan Tibet, China.
Tim penyelamat di Nepal dan China kembali melanjutkan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) korban banjir bandang di kawasan Pegunungan Himalaya pada Jumat (28/08/2026). Operasi tersebut dilanjutkan setelah ancaman luapan danau baru dinyatakan terkendali oleh otoritas setempat.
Sebelumnya, kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya banjir susulan akibat luapan danau sempat membuat proses evakuasi dan pencarian korban banjir bandang dihentikan sementara. Selain korban tewas, hampir 1.000 orang masih dilaporkan hilang di kedua wilayah tersebut.
Gelombang banjir membawa material berupa batu, es, lumpur, dan puing-puing yang meluncur deras melalui sistem sungai di Pegunungan Himalaya. Terjangan material tersebut kemudian memicu terbentuknya danau alami yang menampung aliran air dalam jumlah besar.
Pada Jumat pagi, volume air di danau tersebut meningkat hingga lebih dari 2,5 juta meter kubik atau sekitar 90 juta kaki kubik. Jumlah tersebut naik cukup drastis dibandingkan estimasi sebelumnya yang berada di kisaran 1,5 hingga 2 juta meter kubik. Air kemudian meluap ke Sungai Lhende Khola dan mengalir menuju Sungai Trishuli.
Situasi tersebut sempat memicu kepanikan serta peringatan bahaya dari otoritas Nepal. Akibatnya, operasi SAR untuk mencari dan menyelamatkan korban banjir di Nepal dihentikan sementara selama kurang lebih tiga jam.
Juru bicara Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet, mengatakan kenaikan permukaan air sungai setelah aliran luapan relatif masih terkendali.
“Operasi penyelamatan sempat dihentikan sementara setelah adanya peringatan banjir, namun ditemukan bahwa kenaikan tinggi muka air hanya sekitar 2 kaki (0,6 meter),” kata Raja Ram Basnet.
Banjir bandang yang menerjang wilayah Nepal dan Tibet juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas vital. Kerusakan tersebut meliputi stasiun pembangkit listrik, jalan raya, serta jembatan utama yang menghubungkan Kota Kathmandu di Nepal dengan Lhasa di Tibet. Jalur tersebut merupakan salah satu rute yang digunakan para pendaki gunung dan peziarah keagamaan.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











