News

BI Beberkan Penyebab Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS

31
×

BI Beberkan Penyebab Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
BI Beberkan Penyebab Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS
BI beberkan penyebab rupiah tembus Rp18.000 per Dolar AS. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman).

Detak Tribe – Bank Indonesia (BI) angkat bicara mengenai pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS dan kembali mencatatkan posisi terlemah sepanjang sejarah.

Pada perdagangan Kamis (04/06/2026) pagi, nilai tukar rupiah dibuka di level Rp18.016 per dolar AS. Mata uang Garuda tercatat melemah 49 poin atau 0,27 persen.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas dan menghambat prospek perdamaian di kawasan tersebut.

Menurut Destry, kondisi itu membuat harga minyak dunia tetap berada di level tinggi. Dampaknya, risiko inflasi global meningkat dan memicu arus modal keluar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging,” kata Destry dalam keterangan resmi, Kamis (04/06/2026).

Selain faktor eksternal, Destry menyebut kebutuhan valuta asing (valas) di dalam negeri juga masih cukup besar. Kebutuhan tersebut terutama berasal dari repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN).

Untuk meredam gejolak di pasar keuangan, BI memastikan akan meningkatkan intensitas intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi domestik.

“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya,” ujar Destry.

Ia menjelaskan, intervensi dilakukan secara berkelanjutan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Di sisi lain, BI juga terus memperkuat daya tarik aset keuangan domestik melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang lebih pro-pasar. Langkah ini ditempuh untuk menjaga aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia.

Selain itu, bank sentral juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.