Detak Tribe – Tidak semua buku lahir dari kebahagiaan. Ada buku yang lahir dari kejenuhan, dari luka yang terlalu sering terabaikan, bahkan dari kejujuran yang justru membuat seseorang terasingkan. Buku Inner Void adalah salah satunya.
Buku yang telah Penerbit Has terbitkan ini memosisikan diri bukan sebagai bacaan ringan, melainkan sebagai sebuah manifesto yang sunyi, tajam, dan provokatif bagi mereka yang merasa terlalu waras di tengah dunia yang justru semakin kehilangan akal sehatnya.
Penulisnya, TANPUS, memulai premis Inner Void dari pengakuan yang jarang berani orang ucapkan secara terbuka. TANPUS menuliskan bahwa menjadi orang baik dan jujur tidak selalu berakhir dengan penghargaan. Sebaliknya, orang jujur kerap berakhir dengan pengkhianatan.
Narasi buku ini TANPUS bangun dari suara seorang tokoh yang merasa telah mencoba segalanya. Mulai dari mencoba menjadi baik hingga mencoba mencintai, namun dunia seolah tidak ramah terhadap mereka yang tidak mau berpura-pura.
Perasaan cinta, alih-alih menjadi pelabuhan, justru menggali lubang yang lebih dalam untuk jatuh. Kejujuran, bukannya dihargai, malah membuat seseorang sulit untuk disukai.
“Aku bukan korban. Aku hanya orang yang terlalu waras di dunia yang gila,” begitu suara tokohnya berbicara.
Yang membedakan Inner Void dari buku-buku sejenis adalah sikapnya yang tidak menawarkan solusi palsu. Penulis tidak mengajak pembaca mencari cahaya di ujung terowongan. Sebaliknya, pembaca harus berani untuk berdiri tegak dan menatap kegelapan itu sendiri, Ini adalah bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia.
Setiap pagi tergambarkan sebagai kebangkitan yang tidak diminta. Setiap malam adalah pengulangan dari apa yang disebut “kematian kecil”. Rutinitas yang melelahkan jiwa tanpa pernah ada yang benar-benar bertanya apakah seseorang baik-baik saja.
Buku ini mengajak pembaca menyelami apa yang digambarkan sebagai lubang kehampaan, bukan untuk tenggelam di dalamnya, melainkan untuk memahami bahwa mengakui kegelapan bisa menjadi bentuk ketahanan yang sesungguhnya.
Lebih dari sekadar curahan jiwa, buku Inner Void juga membawa dimensi satir. TANPUS menyentil rutinitas pagi yang tak pernah diminta, hubungan sosial yang penuh kepura-puraan, serta harapan-harapan yang pupus begitu berbenturan dengan kenyataan.
Dalam konteks itulah buku ini menyebut dirinya sebagai bacaan wajib bukan untuk semua orang, melainkan khusus bagi mereka yang sudah lelah dengan sandiwara dan ingin menemukan kekuatan sejati melalui penerimaan atas sisi paling gelap dari diri sendiri.
Jika kamu penasaran dengan buku ini, Inner Void tersedia melalui kanal resmi Penerbit HAS. Selain itu, kamu juga dapat memesannya langsung di sini: Inner Void karya TANPUS.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











