Inspirasi

Buku Merah Putih Keliling Dunia, Kisah Rangga Ajudya dan Tantangan Menulis Era AI

95
×

Buku Merah Putih Keliling Dunia, Kisah Rangga Ajudya dan Tantangan Menulis Era AI

Sebarkan artikel ini
Buku Merah Putih Keliling Dunia, Kisah Rangga Ajudya dan Tantangan Menulis Era AI
Rangga Ajudya dan kedua karyanya. (Dok. Detak Pustaka).

Detak Tribe – Di tengah derasnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), dunia kepenulisan ikut mengalami perubahan. Banyak yang merasa terbantu, tak sedikit pula yang merasa terancam. Bagi Rangga Ajudya, penulis buku Merah Putih Keliling Dunia, AI menghadirkan kegelisahan sekaligus tantangan.

Rangga merupakan penulis asal Banyuwangi yang memiliki minat menulis sejak bangku SMA, ketika ia aktif mengisi majalah dinding sekolah. Cita-citanya sederhana, yakni ingin menjadi jurnalis. Namun, hidup membawanya ke jalur lain dengan menjadi seorang pelaut. Meski takdir berkata lain, menulis tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya.

“Dulu saya sering nulis status WhatsApp yang isinya agak nyeleneh. Sampai suatu hari sahabat saya bilang ‘kenapa enggak nulis aja?’” ujar Rangga.

Kalimat sederhana itu menjadi titik balik untuk kehidupannya. Hingga pada sekitar tahun 2022, di sela-sela jadwal kerja di kapal, Rangga mulai menulis lagi. Ia memulai dari blog, sebelum akhirnya memberanikan diri menerbitkan buku melalui penerbit Detak Pustaka.

Ancaman AI yang Perlu Disikapi dengan Bijak

Ketika ditanya tentang maraknya penggunaan AI dalam dunia tulis-menulis, Rangga tak menampik adanya rasa terancam. Menurutnya, ancaman itu sangat bergantung pada cara manusia menyikapinya.

“AI memang bisa meniru bentuk, pola bahasa, bahkan sastra. Tapi dia belum bisa menggantikan rasa manusia,” ” ujarnya.

Menurut Rangga, ada tiga hal utama yang mustahil digantikan oleh AI. Pertama, niat batin. Baginya, puisi atau tulisan manusia sering kali lahir bukan untuk terlihat indah, melainkan untuk bertahan hidup.

Kedua, kejujuran emosional—menulis karena ada luka, keyakinan, kegundahan, atau pengalaman personal. Ketiga, pengalaman hidup nyata, seperti rasa kehilangan, rindu, atau trauma, yang tidak bisa direkayasa oleh mesin.

“Itu semua nggak ada di AI,” tegasnya.

Pengalaman Nyata yang Tak Bisa Direplikasi

Perubahan paling terasa sejak hadirnya AI, menurut Rangga, adalah kemudahan akses informasi. Namun, hal itu tidak serta-merta menggantikan proses kreatifnya. Dalam bukunya Merah Putih Keliling Dunia, pengalaman justru menjadi fondasi utama.

Buku tersebut banyak lahir dari cerita nyata para pelaut. Salah satunya berasal dari saudaranya sendiri, seorang pelaut senior yang membagikan pengalaman hidup di laut. Dari situlah Rangga merangkai narasi, lalu memperluasnya dengan kisah-kisah lain dari rekan sesama pelaut—bahkan ada yang harus ia datangi langsung ke rumahnya, meski tak semuanya bersedia berbagi.

“Pengalaman kayak gitu nggak ada di AI. Itu hasil relasi manusia dengan manusia,” ungkapnya.

Tulisan Manusia dan Kejujuran Emosi

Banyak yang mengatakan AI bisa menulis, tapi tak bisa merasakan. Pernyataan itu disetujui oleh Rangga. Menurutnya, perbedaan paling mendasar antara tulisan manusia dan AI terletak pada kejujuran emosional.

“Manusia menulis karena pernah mengalami. Karena ada luka, keyakinan, atau perjalanan hidup. AI nggak punya itu,” tambahnya.

Dalam dua karya yang telah ia terbitkan, Rangga mengaku tidak menggunakan bantuan AI sama sekali. Jika pun membutuhkan kosakata yang lebih puitis, ia memilih cara konvensional, dengan mencari referensi lewat mesin pencari.

Roh Tulisan dan Relasi dengan Pembaca

Bagi Rangga, AI hanyalah alat. Ia tidak percaya teknologi bisa menghilangkan gaya khas seorang penulis. Menurutnya, tulisan manusia memiliki relasi batin dengan pembaca—sesuatu yang tak bisa tergantikan oleh mesin.

“Pembaca bisa kangen sama gaya nulis kita. Itu relasi. AI nggak punya relasi batin,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Rangga juga mengungkapkan bahwa roh dalam sebuah tulisan tidak datang dengan sendirinya. Ia tumbuh dari proses. Menulis baginya adalah identitas, bukan sekadar aktivitas. Ia menyarankan penulis untuk tidak menunggu waktu ideal.

“Nulis aja. Nanti dari situ ciri khas akan muncul sendiri,” pesannya.

Menjaga Kejujuran di Era AI

Di tengah pesatnya teknologi, menjaga kejujuran emosi dan pengalaman personal menjadi tanggung jawab masing-masing penulis. Rangga percaya, penggunaan AI kembali pada pilihan manusia itu sendiri—apakah sekadar alat bantu, kombinasi, atau justru menggantikan proses kreatif sepenuhnya.

Ia juga tak menampik kemungkinan karya tulis menjadi seragam akibat ketergantungan pada AI. Namun alih-alih khawatir, Rangga melihatnya sebagai tantangan agar karya manusia tetap relevan dan hidup.

Soal batas etis penggunaan AI, Rangga berpendapat bahwa ke depan perlu ada regulasi, bahkan campur tangan pemerintah, untuk mengatur penggunaannya dalam dunia kepenulisan. Ketika ditanya keterampilan apa yang paling penting bagi penulis di era AI, jawaban Rangga kembali pada satu kata kunci, yakni kejujuran.

“Kalau bisa, jujur tanpa AI,” katanya singkat.

Merah Putih Keliling Dunia: Kisah Pelaut dan Nasionalisme

Buku Merah Putih Keliling Dunia menghimpun kisah nyata para pelaut Indonesia—dari ruang mesin kapal hingga dek yang menghadapi badai. Rangga menulisnya dengan gaya naratif yang jujur, lucu, dan menyentuh, buku ini menyoroti perjuangan, tantangan, dan kebanggaan menjadi pelaut Indonesia di kerasnya dunia maritim internasional.

Tak hanya membahas soal gaji dan pelayaran, buku ini juga merekam nilai persaudaraan, kecerdikan menghadapi situasi darurat, serta pengorbanan yang kerap luput dari sorotan. Lebih dari sekadar kumpulan cerita, buku ini menjadi bentuk penghargaan bagi para pelaut—pekerja tangguh yang membawa Merah Putih berkeliling dunia, meski sering tak terlihat.

Sebagai informasi, buku karya Rngga Ajudya dengan judul Merah Putih Keliling Dunia ini, bisa kamu dapatkan lewat laman resmi Detak Pustaka di detakpustakatoko.com.

Di tengah gelombang teknologi dan kecerdasan buatan, Rangga Ajudya memilih tetap percaya pada satu hal, bahwa tulisan yang lahir dari pengalaman dan kejujuran akan selalu menemukan pembacanya sendiri.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.