Detak Tribe – Perjalanan mencetak buku terkadang penuh tantangan. Inilah yang Inggrid Ivonne Susan Truly Sagune alami. Penulis buku Tangisan Terakhir yang kini menetap di Los Angeles, California, Amerika Serikat, tersebut telah terjun ke dunia penulisan pada 2023.
Namun, pada awal kariernya sebagai penulis novel, rintangan banyak ia hadapi. Sebagai seorang penulis skenario film, dunia kepenulisan novel sangat berbeda dengan apa yang telah ia kerjakan.
“Pekerjaan saya sebagai penulis skenario film. Dan menulis novel saya baru di tahun 2023,” ungkapnya. Meski begitu, ide dari novel pertamanya, Tangisan Terakhir, sesungguhnya sudah ia rangkai jauh sebelum itu.
Ide yang Lama Tersimpan
Ide cerita ini pertama kali muncul pada 2016, ketika Inggrid mulai menuliskan kisah yang ia peroleh dari seorang narasumber. Namun, saat itu, bentuknya masih jauh dari sebuah novel.
“Saya cuma nulis semacam buku harian karena rata-rata orang nulis berdasarkan kisah nyata atau ide terlintas,” ceritanya.
Kebingungan soal format tulisan juga sempat menghambat prosesnya. Sebagai penulis skrip, ia tidak yakin apakah tulisan itu layak disebut novel atau bukan. Hingga akhirnya pada 2023, narasumber yang menjadi inspirasinya viral dan ceritanya menemukan titik terang. Inggrid pun memutuskan untuk menyelesaikannya.
Buku Tangisan Terakhir memang berbasis kisah nyata, tetapi Inggrid menegaskan bahwa cerita tersebut telah ia samarkan dan tidak ia buat sama persis dengan kejadian aslinya. Idenya nyata, tetapi interpretasinya adalah milik sang penulis sepenuhnya.
Perempuan Tegar di Tengah Pengkhianatan
Novel ini mengisahkan seorang perempuan bernama Ine yang memilih melepaskan Mondy, demi sosok pria dewasa yang ia anggap sebagai jawaban atas pencarian cintanya. Satu hal yang membuat cerita ini terasa berat sekaligus menyentuh adalah pergulatan batin sang tokoh utama dalam mempertahankan pernikahannya demi keyakinan agamanya.
Sebagai perempuan Kristen, sang tokoh memahami bahwa perceraian bukanlah jalan yang Tuhan restui. Oleh karena itu, ia bertahan, meski dalam penderitaan.
Namun, di detik-detik terakhir tokoh perempuan itu akhirnya memilih untuk bercerai, meski harus menghadapi tentangan dari keluarga dan lingkungannya. Melalui cerita ini, Inggrid menyampaikan pesan yang menurutnya penting untuk didengar.
“Harapannya, jangan jadiin alasan agama untuk nggak bercerai, tetapi kitanya tersiksa,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dalam ajaran Kristen memang ada ruang untuk bercerai, meski dengan konsekuensi tertentu. Stigma itulah yang ingin ia kikis lewat bukunya bahwa bercerai demi keselamatan diri dan kewarasan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.
Perdebatan Ending yang Tak Terduga
Proses penulisan tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar Inggrid justru datang dari bagian yang paling pembaca nantikan, yaitu ending cerita. Ia dan editor yang merupakan teman dekatnya sempat berselisih pendapat.
Sang editor ingin ending dibiarkan menggantung, seolah membuka peluang untuk sekuel Tangisan Terakhir kedua. Namun, Inggrid punya pendirian berbeda, ia ingin cerita ini selesai dengan tuntas.
“Saya tidak menginginkan cerita lagi di Tangisan Terakhir, maksudnya sudah finish aja,” tegasnya. Perdebatan itu sempat membuatnya stres, tetapi pada akhirnya ia berhasil melewatinya.
Respons pembaca pun beragam. Ada yang kagum karena tokoh utamanya berani mengambil keputusan besar, namun ada pula yang mempertanyakan mengapa tokoh itu harus menanggung penderitaan begitu lama sebelum akhirnya memilih pergi.
“Ada yang bilang hebat karena berani bercerai, tetapi kenapa harus tersiksa dulu,” kata Inggrid.
Jalan Berliku Menuju Penerbitan
Di balik lahirnya buku ini, ada kisah panjang soal penerbitan yang tak kalah dramatis. Cetakan pertama Tangisan Terakhir berhasil terbit bersama sebuah penerbit yang kemudian bermasalah, mulai dari ISBN yang tidak beres hingga kekacauan antara kantor cabang dan pusat.
Buku yang sudah banyak dipesan akhirnya tidak bisa dicetak ulang, dan penerbit pusat memutuskan memutus hubungan kerja sama dengan cabangnya.
Upaya Inggrid berlanjut ke cetakan kedua, lalu ketiga, namun keduanya juga berakhir mengecewakan. Cetakan ketiga bahkan dicetak tanpa pengecekan yang memadai. Situasi semakin rumit karena Tangisan Terakhir sedang dalam proses promosi untuk diangkat ke layar lebar.
Hingga akhirnya ia menemukan jalan keluar melalui Detak Pustaka. “Saya puas di Detak karena saya sempet hopeless,” akunya.
Di sana, Detak Pustaka memeriksa bukunya dengan teliti. Mereka merancang cover dengan baik, dan yang terpenting, seluruh kelengkapan legalnya—termasuk ISBN dan HAKI—terpenuhi dengan benar.
Tujuh Buku dan Satu Lagi Menanti
Meski buku Tangisan Terakhir adalah novel pertamanya, Inggrid bukan penulis yang baru belajar berjalan. Ia mengaku sudah menyiapkan tujuh naskah buku lain, dan buku kedelapannya kini sedang dalam tahap persiapan. Bahkan pada tahun ini saja, ia sudah menerbitkan tiga buku sekaligus.
Perjalanan panjang dari skenario film ke novel, dari 2016 ke 2023, dari satu penerbit ke penerbit lain, rupanya tidak menyurutkan langkahnya. Sebaliknya, semua itu justru menjadi bagian dari cerita yang terus ia tulis. Tidak hanya di atas kertas, tetapi juga dalam hidupnya sendiri.
Buku Tangisan Terakhir karya Inggrid Ivonne Susan Truly Sagune dapat kamu temukan di laman resmi Detak Pustaka Toko. Kamu juga bisa mengaksesnya langsung lewat tautan ini: Buku Karya Inggrid.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











