Detak Tribe – Kisah panjang perjalanan kepenulisan datang dari Vivien Uli atau yang akrab disapa Uli. Uli sendiri merupakan penulis buku Yang Tersisa di Antara Kita. Ia adalah seorang ibu tunggal dengan tiga anak yang sehari-hari bekerja sebagai sekretaris penuh waktu di sebuah perusahaan farmasi di Jakarta.
Di balik kesibukannya yang padat itulah, ia menyimpan kisah panjang perjalanannya, hingga kini telah berwujud menjadi buku novel dengan judul Yang Tersisa di Antara Kita. Tulisan tersebut merupakan karya pertamanya yang berhasil terbit lewat Detak Pustaka.
Inspirasi yang Datang dari Kehidupan Sekitar
Novel ini mengisahkan perjalanan cinta dua tokoh, yakni Uli dan Lee. Kisah bermula dari perasaan sederhana dan tulus. Namun, seperti banyak kisah cinta di dunia nyata, waktu membawa jarak, dan hidup bergerak ke arah yang tak pernah direncanakan. Keputusan-keputusan yang diambil dan kenyataan yang datang terlambat mengubah segalanya.
“Kisah ini adalah yang dewasa, tentang keberanian untuk melepaskan sesuatu yang pernah menjadi rumah,” ujar Uli.
Meski ia mengategorikan sebagai fiksi murni, novel Yang Tersisa di Antara Kita tak lahir dari ruang kosong. Uli mengakui bahwa banyak adegan dalam cerita terinspirasi dari kejadian nyata dalam hidupnya dan orang-orang di sekitarnya.
Ia bahkan menggunakan namanya sendiri dan nama pasangannya saat itu sebagai nama karakter utama. Ironinya, hubungan tersebut tidak bertahan hingga karya ini selesai ia tulis.
Perjalanan Kepenulisan dengan Mood yang Berubah
Uli sebenarnya bukan orang baru dalam dunia tulis-menulis. Sejak SMP, ia sudah gemar menulis cerita pendek yang kemudian beredar di antara teman-teman sekelasnya.
“Lucunya mereka mulai menanyakan, kapan ada cerita baru lagi,” kenangnya. Namun, selama bertahun-tahun, tidak ada satu pun karya yang pernah benar-benar ia selesaikan. Mood datang, lalu pergi begitu saja.
Hingga akhir Agustus tahun lalu, sesuatu berubah. Di tengah guncangan dalam hubungannya, dorongan menulis itu datang kembali, dan kali ini jauh lebih kuat.
Di sela jam kerja dan mengurus tiga anak, Uli menulis. Lima lembar menjadi dua puluh, dua puluh menjadi lima puluh, hingga akhirnya menyentuh seratus lembar dan selesai pada akhir Oktober.
“Bisa dibilang, saya lebih produktif saat ada pressure,” akunya.
Tantangan Menulis di Atas Kertas
Sebagai penulis yang tak memiliki latar belakang formal dalam penulisan karya sastra, Uli menghadapi tantangan yang tidak kecil. Tantangan terbesarnya adalah menerjemahkan rasa cinta, sakit, pedih, kehilangan ke dalam kata-kata yang benar-benar bisa terasa oleh pembaca.
Caranya, Ia kembali ke dua hal yang paling ia cintai, yakni membaca dan menonton film. Dari sana, ia belajar memperhatikan bagaimana para penulis dan sutradara menghidupkan sebuah karya, lalu menerapkannya dengan caranya sendiri.
Jalan Menuju Penerbitan
Setelah naskah selesai, Uli meminta pendapat dari orang-orang terdekatnya. Respons mereka positif, dan itu menjadi dorongan yang ia butuhkan untuk melangkah lebih jauh. Ia mulai mempelajari proses penerbitan novel, dan dalam satu sesi scrolling media sosial, ia menemukan Detak Pustaka.
“Saya hubungi dan mengajukan banyak pertanyaan,” ceritanya.
Menurutnya, paket yang Detak Pustaka tawarkan juga cukup lengkap, dan dari situ keputusan pun bulat. Proses penyuntingan berlangsung dari Desember hingga April, dan novel ini resmi terbit bertepatan dengan bulan ulang tahunnya.
“Hadiah ulang tahun terbaik tahun ini,” katanya.
Harapan untuk Para Pembaca
Uli tidak muluk-muluk dalam harapannya. Ia ingin novelnya menjadi teman bagi siapa pun yang pernah mencintai dan terluka, sekaligus pengingat bahwa keduanya adalah bagian tak terpisahkan dari hidup.
Lewat tiap babnya, ia mengajak pembaca merasakan detak jantung para tokoh. Mulai dari aroma tempat yang mereka singgahi, hangatnya pelukan, hingga tawa yang hilang lalu kembali muncul.
Ia berharap pembaca bisa memahami bahwa penyembuhan membutuhkan kesabaran dan keberanian untuk melepas masa lalu, bukan untuk dilupakan, melainkan untuk menjadi kenangan sebagai pijakan menuju babak kehidupan baru.
Terima Kasih dan Harapan ke Depan
Di penghujung perbincangan, Uli menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tim Detak Pustaka, mulai dari CS yang dengan sabar menjawab seluruh pertanyaannya, Mbak Ayu selaku editor yang teliti dan sabar meladeni permintaannya yang cukup mendetail, hingga Mbak Iin sebagai project manager yang menjelaskan setiap tahapan proses dengan jelas.
“Semoga bisa bekerja sama kembali di karya berikutnya,” pungkasnya.
Buku karya Uli dengan judul Yang Tersisa di Antara Kita bisa kamu akses lewat laman resmi Detak Pustaka. Kamu juga bisa melihatnya di sini: Buku Karya Uli. Ikuti kisah kedua tokoh dalam buku ini sekarang dan renungkan lika-liku kisah mereka untuk menjadi penguat dalam kehidupan ini.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.












