Inspirasi

Citra Gandhini Putri dan Perjalanan Panjang Lahirkan Novel Hard to Say

37
×

Citra Gandhini Putri dan Perjalanan Panjang Lahirkan Novel Hard to Say

Sebarkan artikel ini
Citra Gandhini Putri dan Perjalanan Panjang Lahirkan Novel Hard to Say
Citra Gandhini Putri, penulis novel Hard to Say. (Dok. Detak Pustaka).

Detak Tribe – Nama Citra Gandhini Putri kini melekat pada sebuah novel berjudul Hard to Say, karya pertamanya yang terbit di Detak Pustaka. Namun, di balik nama tersebut, ada perjalanan panjang penuh liku yang ia jalani.

Perjalanan itu ia mulai dari masa kecil tanpa televisi hingga menjadi ibu rumah tangga yang sibuk dengan urusan rumah. Proses menulis tersebut berlanjut hingga memakan waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya rampung.

Mengenal Sosok di Balik Nama Citra

Citra Gandhini Putri, yang semasa kecil akrab dengan panggilan Putri, memilih menggunakan nama Citra sejak buku pertamanya terbit. Di luar aktivitas menulis, kesehariannya kini ia jalani sebagai ibu rumah tangga yang mengurus suami dan tiga anak laki-laki.

Di sela kesibukan tersebut, ia tetap menyempatkan diri membaca dan menonton sebagai bagian dari riset penulisan. Mulai dari mencari referensi lokasi untuk latar cerita, gaya berpakaian tokoh, profesi, hingga memahami karakter-karakter yang akan ia hidupkan dalam tulisan.

Buku pertamanya, Hard to Say, mengisahkan perjalanan seorang perempuan yang telah memasuki usia 30 tahun. Namun, kehidupan sang tokoh justru terasa berjalan di tempat.

Tokoh tersebut ia gambarkan sebagai lulusan kedokteran gigi yang kariernya belum sesuai harapan. Sang tokoh juga terjebak dalam kisah cinta yang rumit, serta berasal dari keluarga yang tidak harmonis.

Inspirasi dari Realita Anak Muda Masa Kini

Ide cerita ini lahir dari pengamatan Citra terhadap kondisi banyak anak muda zaman sekarang. Di mana, banyak anak muda di usia 30 tahun masih bergantung pada orang tua, belum menikah, belum mapan secara ekonomi. Bahkan, banyak yang masih sibuk mencari pekerjaan yang cocok hingga tanpa sadar waktu terus berjalan.

Menariknya, naskah ini bukan tulisan baru. Citra pertama kali menuliskannya saat berusia 17 tahun. Namun, saat itu ia mengakui masih memandang persoalan dengan kacamata remaja, sehingga konflik dalam cerita belum memiliki dasar yang kuat.

Barulah di usia 35 tahun, ketika ia mulai kembali mencari jati dirinya, Citra membaca ulang naskah lama tersebut dan merombaknya dengan sudut pandang yang lebih matang. Konflik-konflik dalam cerita pun ia perkuat agar lebih relevan dengan kondisi zaman sekarang.

Proses Panjang dan Pergulatan Batin

Berbagai fase kehidupan Citra turut mewarnai rentang waktu penulisan yang panjang. Setelah menyelesaikan naskah awal di usia remaja, ia kemudian berkuliah di jurusan Sastra Arab, dan lanjut studi S2 Linguistik.

Saat menyusun tesis, ia juga bekerja di sebuah perusahaan forwarder, kemudian menikah di usia 26 tahun. Pada periode ini, menurut pengakuannya, ia tidak mengalami kendala berarti. Proses menulis saat itu berjalan santai dan menyenangkan.

Titik balik terjadi setelah ia menikah dan memiliki dua anak dengan jarak usia yang berdekatan. Citra memutuskan resign dari pekerjaannya, dan pada masa itulah ia mulai merasa kehilangan jati diri. Berulang kali ia mencoba menulis kembali, namun tidak ada yang berhasil ia tuangkan.

Ia mengaku masih berproses menerima berbagai perubahan dalam hidupnya, baik dari sisi aktivitas maupun fisik. Barulah setelah melalui dan menerima semua perubahan tersebut dengan ikhlas, ia kembali membuka naskah lamanya, dan saat itulah ia merasa benar-benar bisa menulis kembali.

Kegemaran Menulis yang Tumbuh Sejak Kecil

Kecintaan Citra pada dunia tulis-menulis sebenarnya sudah tumbuh sejak sebelum ia menikah, tepatnya sejak masa remaja. Ia menceritakan bahwa masa kecilnya dihabiskan di sebuah kompleks kehutanan, di rumah yang tidak memiliki televisi.

“Sejak masih remaja saya sudah menulis,” katanya.

Waktu kecilnya lebih banyak ia isi dengan bermain di luar rumah dan membaca buku, Mulai dari majalah Bobo, aneka komik, hingga novel-novel remaja saat SMP dan SMA. Dari kebiasaan membaca itulah, ia kemudian mulai menulis.

Alasan Memilih Detak Pustaka

Dorongan terbesar Citra untuk menerbitkan buku adalah keinginannya berdiri di atas nama sendiri, menjadi Citra Gandhini Putri yang memiliki sebuah karya. Setelah mencari-cari penerbit yang sesuai, ia menemukan Detak Pustaka melalui Instagram.

Menurutnya, Detak Pustaka mampu memenuhi kebutuhan penerbitan, memberikan respons yang cepat, serta memberi kebebasan bagi penulis dalam mempromosikan karyanya, tanpa mengabaikan dukungan dalam hal penjualan buku.

“Setelah saya mencari penerbit dan menemukan Detak Pustaka di Instagram saya. Detak Pustaka dapat memberi semua yang saya butuhkan untuk penerbitan,” ujar Citra.

Pesan untuk Pembaca dan Rencana Masa Depan

Melalui Hard to Say, Citra berharap para pembacanya dapat berdamai dengan luka masa lalu, mengikhlaskan hal-hal yang sudah terjadi, dan menemukan jalan mereka sendiri untuk mencapai tujuan hidup.

Ia berpesan agar pembaca tidak perlu terburu-buru atau mengikuti ekspektasi orang lain, melainkan mengikuti kata hati sendiri tanpa melupakan fokus dalam menjalani prosesnya.

Menutup perbincangan, Citra juga menyampaikan bahwa ia berniat untuk terus menulis. Saat ini, ia tengah menggarap novel keduanya yang mengusung tema slice of life.

“Saya akan terus menulis. Untuk novel kedua sedang proses pengerjaan dengan tema slice of life,” pungkasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.