Inspirasi

Dedi Mahardi Luncurkan Sense of Intelligence, Soroti Manusia yang Mulai Kalah oleh Teknologi

72
×

Dedi Mahardi Luncurkan Sense of Intelligence, Soroti Manusia yang Mulai Kalah oleh Teknologi

Sebarkan artikel ini
Dedi Mahardi Luncurkan Sense of Intelligence, Soroti Manusia yang Mulai Kalah oleh Teknologi
Dedi Mahardi, penulis buku Sense of Intelligence. (Dok. Detak Pustaka).

Detak Tribe – Nama Dedi Mahardi bukan sosok asing di dunia literasi Indonesia. Predikat inovator nasional terbaik di bidang teknologi telah dua kali ia sandang. Di balik pencapaian itu, ia juga menjadi penulis produktif dengan 28 judul buku yang telah terbit di Gramedia.

Sejumlah karyanya bahkan menembus status best seller dan ditetapkan sebagai buku utama Kopekari. Selain itu, buku karya Dedi Mahardi juga telah menjangkau hingga Amazon, perpustakaan negara asing, serta berbagai perpustakaan universitas.

Kiprahnya sebagai narasumber pun tak kalah mentereng. Undangan demi undangan ia hadiri dalam forum-forum bergengsi, mulai dari debat calon presiden, summit, konferensi, hingga seminar dan kuliah umum.

Wajahnya juga beberapa kali menghiasi layar televisi nasional, termasuk tampil dalam program Kick Andy di Metro TV. Semua itu ia jalani dengan prinsip bahwa hidup manusia memang tidak kekal. Namun, bila terisi dengan sesuatu yang bermakna, karya itu akan menjadi abadi.

Kegelisahan di Balik Sense of Intelligence

Buku terbarunya, Sense of Intelligence, lahir dari kegelisahan Dedi terhadap fenomena yang ia amati di tengah masyarakat. Fenomena itu adalah memudarnya sense atau rasa pada sebagian orang. Menurutnya, rasa inilah yang menjadikan manusia istimewa dan membedakannya dari makhluk lain ciptaan Tuhan.

Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi kecerdasan buatan dan robot yang justru meniru serta menggantikan fungsi-fungsi manusia, semestinya manusia terpacu untuk meningkatkan keistimewaannya melalui kompetisi sehat dengan teknologi.

Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Manusia justru kehilangan keistimewaan itu dan mulai terkalahkan oleh teknologi ciptaannya sendiri.

“Seharusnya, dengan berkompetisi dengan teknologi ini, manusia meningkatkan keistimewaannya. Ini malah sebaliknya. Padahal, teknologi itu sendiri adalah ciptaan manusia,” ungkapnya.

Menulis di Sepertiga Malam

Soal proses penulisan, Dedi mengaku menyelesaikan Sense of Intelligence dalam waktu sekitar tiga bulan. Namun, ia menegaskan tidak pernah mematok target waktu untuk setiap bukunya. Ada yang rampung dalam dua minggu, ada pula yang butuh hingga satu atau dua tahun, tergantung inspirasi yang mengalir.

Selain itu, Dedi juga mempunyai kebiasaan khusus yang ia jaga selama menulis. Ia mengatur hidupnya secara teratur dengan tidur paling lambat pukul delapan malam setelah salat Isya, lalu bangun sekitar pukul dua atau tiga dini hari untuk menulis.

Menurutnya, pada jam-jam tersebut inspirasi mengalir begitu deras, bahkan kecepatan pikirannya kerap melampaui kecepatan jarinya mengetik di laptop. Sense of Intelligence sendiri tercatat sebagai buku ke-35 yang telah ia selesaikan.

Dari Keraguan Menuju Puluhan Judul Buku

Perjalanan Dedi menjadi penulis tidak ia mulai dengan rasa percaya diri. Sebagai orang berlatar belakang teknik, ia mengaku awalnya malas menulis, bahkan untuk sekadar laporan pekerjaan.

Titik baliknya terjadi ketika kebiasaannya menulis imbauan untuk rekan kerja di Facebook saat menjabat sebagai pengurus Serikat Karyawan menarik perhatian banyak orang, termasuk seorang komisaris Telkom bernama Arif Arryman.

Sang komisaris melihat potensi dalam tulisan-tulisan Dedi dan mendorongnya untuk membukukan karya tersebut, meski Dedi sendiri sempat ragu. Dari dorongan itulah lahir buku pertamanya, Tidak Semua Bisa Dibeli. Buku tersebut menjadi awal perjalanannya hingga berhasil menerbitkan buku kedua berjudul Messages of Act.

Sejak mulai menulis pada 2008, Dedi Mahardi mengaku tidak pernah menemui kendala berarti. Justru sebaliknya, semakin banyak orang mengenalnya sebagai penulis, semakin banyak pula kesempatan berharga yang ia dapatkan.

Ia mendapat kesempatan hadir sebagai narasumber debat calon presiden hingga memenuhi undangan Menteri Koordinator. Dukungan dari lingkaran pertemanannya pun tak kalah besar. Setiap kali bukunya terbit, teman-temannya turut membantu promosi dan mencarikan sponsor untuk acara peluncuran.

Keprihatinan atas Minat Baca Bangsa

Sebagai penulis senior, Dedi tak menutup mata terhadap kondisi literasi Indonesia yang menurutnya masih memprihatinkan. Ia mengungkapkan, dalam sebuah diskusi bedah buku Sense of Intelligence di Universitas Indonesia bersama sejumlah guru besar, kekhawatiran bersama muncul terkait pola pikir dan sikap generasi muda.

Menurutnya, generasi muda kini kian bergantung pada teknologi, sehingga interaksi sosial, baik itu dengan dosen, mengalami kemunduran dari sisi etika.

“Jadi sebelum acara diskusi saya dengan mereka. Itu, beliau-beliau mencemaskan kondisi anak-anak muda sekarang ya, karena pola pikir, pola tindak, pola sikap anak muda sekarang yang justru kena ketergantungan,” jelasnya.

Data yang ia sampaikan menyatakan bahwa minat baca bangsa Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 62 negara yang disurvei.

Dedi membandingkannya dengan kemajuan China, yang menurutnya berhasil mengubah bonus demografi dari beban menjadi kekuatan berkat kebijakan pemerintah yang gencar mendirikan perpustakaan dan pusat penelitian, sebagaimana diulas dalam buku China’s Megatrend.

Pesan untuk Generasi Muda dan Detak Pustaka

Menutup perbincangan, Dedi menitipkan pesan khusus bagi anak-anak muda. Ia berpesan agar anak muda tidak habiskan waktu hanya untuk bermain gim atau berinteraksi dengan gawai, melainkan kembalilah pada esensi manusia seutuhnya.

Dedi Mahardi mencontohkan Swedia yang kini kembali menerapkan metode pendidikan konvensional—papan tulis dan ujian tertulis—sebagai upaya menjaga nilai kemanusiaan di tengah gempuran teknologi.

Kepada Detak Pustaka, penerbit yang menaungi dua bukunya tahun ini, yaitu Hikmah Ibadah dan Sense of Intelligence, Dedi menyampaikan rasa terima kasih serta harapan agar kerja sama ini terus membawa kemajuan bersama, dengan cita-cita agar Sense of Intelligence dapat menembus pasar best seller internasional.

“Jadi, saya berterima kasih kepada teman-teman Detak, semoga semakin maju, semakin sukses, mari kita maju bersama. Semoga buku ini menjadi best seller, kalau bisa internasional best seller, sehingga Detak juga ikut,” pungkasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.