Inspirasi

Desy Fatmasari Pohan, Mahasiswi Berprestasi Aceh yang Lahir dari Kerja Keras dan Perjuangan

97
×

Desy Fatmasari Pohan, Mahasiswi Berprestasi Aceh yang Lahir dari Kerja Keras dan Perjuangan

Sebarkan artikel ini
Desy Fatmasari Pohan, Mahasiswi Berprestasi Aceh yang Lahir dari Kerja Keras dan Perjuangan
Desy Fatmasari Pohan, mahasiswi berprestasi Aceh. (Dok. narasumber).

Detak Tribe – Banyak mahasiswa tidak mampu menjalani banyak kegiatan sekaligus, mulai dari kuliah, memimpin organisasi, meneliti bersama dosen, mengikuti lomba tingkat nasional, hingga menerbitkan buku. Namun, hal ini tidak berlaku untuk Desy Fatmasari Pohan.

Perempuan asal Kabupaten Simalungun yang kini menempuh studi di Program Studi Administrasi Publik Universitas Malikussaleh tersebut menunjukkan kemampuannya menjalani semua sekaligus. Baginya, kesibukan semacam itu sudah menjadi bagian dari keseharian sejak semester-semester awal perkuliahan.

Di semester 7, nama Desy sudah terkenal bukan hanya di kampusnya sendiri. Ia menyabet gelar Mahasiswa Berprestasi ke-1 Universitas Malikussaleh 2025 sekaligus meraih posisi ke-3 Mahasiswa Berprestasi Provinsi Aceh 2025.

Dua pencapaian yang Desy raih tersebut tidak ia rencanakan sejak awal, melainkan tumbuh dari rasa ingin tahu yang tak pernah padam.

Ketua UKM yang Lahir dari Inspirasi Sederhana

Saat ini, Desy menjabat sebagai Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Studi Mahasiswa Creative Minority (KSMCM). Posisi itu bukan datang begitu saja. Ada titik awal yang cukup menginspirasi di balik perjalanannya, yakni kekaguman pada seorang teman.

“Pernah suka sama teman, dan teman ini sangat berprestasi—sering menang lomba debat, keren banget. Dari situ mulai ikut lomba, organisasi, kemudian ikut penelitian dosen,” ungkapnya.

Dari titik yang sederhana itu, Desy membangun dirinya dengan serius. Ia mengakui bahwa sejak kecil memang sudah terbiasa berprestasi, karena selalu masuk deretan juara kelas dan umum. Namun di perguruan tinggi, semangat itu menemukan bentuk yang lebih besar dan lebih bermakna.

“Semua ini cara saya untuk menaikkan derajat orang tua. Saya anak pertama,” ujarnya lugas.

Dua Buku, Dua Cerita yang Berbeda

Di tengah padatnya jadwal, Desy Fatmasari Pohan masih menemukan ruang untuk berkarya lewat tulisan. Ia telah menerbitkan dua buku, masing-masing dengan latar belakang yang berbeda, namun sama-sama lahir dari proses yang tidak mudah.

Buku pertamanya, Arunika, adalah kumpulan cerita yang menghimpun karya para pemenang lomba cipta puisi nasional yang diselenggarakan oleh KSMCM. Nama Arunika sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti cahaya matahari yang baru terbit—sebuah metafora tentang harapan dan permulaan baru.

“Temanya bebas, supaya peserta lebih leluasa mengekspresikan perasaannya. Harapannya, seperti pagi yang cerah setelah matahari terbit, hari ini harus lebih baik dari kemarin,” katanya.

Berbeda dari Arunika yang lahir dari lomba, buku kedua Desy justru bermula dari sebuah program resmi pemerintah. Si Gempi adalah buku komik yang lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang didanai oleh Kementerian senilai sekitar Rp7.500.000.

Komik ini mengisahkan petualangan karakter Si Gempi dan kawan-kawannya sebagai anak-anak Aceh, yang secara ringan dan informatif membahas Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, termasuk hukum cambuk dan berbagai larangan jarimah di dalamnya.

“Inovasinya adalah menyampaikan hukum yang kompleks lewat media komik anak-anak, sehingga mudah dipahami dan menjauhi pelanggaran,” papar Desy. Program ini, menurutnya, merupakan inovasi yang belum pernah orang lain lakukan sebelumnya.

Multitasking Bukan Pilihan, Tetapi Keharusan

Mengelola semua tanggung jawab itu tentu bukan tanpa tantangan. Desy berterus terang bahwa rasa kewalahan adalah hal yang nyata dan pernah ia rasakan. Namun, alih-alih menyerah, ia mengembangkan caranya sendiri untuk bertahan.

“Coba terapkan multitasking. Lagi rapat, saya bisa sambil mengerjakan tugas kuliah atau naskah lomba. Lagi nongkrong sama teman, yang lain ngobrol, saya sambil buka laptop,” ujar Desy.

Laptop, baginya, adalah perangkat yang tak pernah absen ke mana pun ia pergi. Selain itu, ia juga tak segan meminta bantuan teman ketika beban terasa terlalu berat untuk ia tanggung sendiri.

Yang terpenting, Desy selalu menyisihkan waktu di akhir hari untuk melakukan finishing. Ia berusaha menyelesaikan semua yang sudah ia mulai di sela-sela kesibukan, di tempat yang lebih tenang seperti kamar kos.

Soal kekhawatiran akan kesalahan akibat multitasking, Desy menjawab santai. “Sejauh ini alhamdulillah tidak pernah. Fokus masih bisa dibagi. Kalau rapat ya sambil mengerjakan ini-itu, nanti di tempat yang sepi baru finishing-nya,” katanya.

Prestasi yang Datang Tanpa Rencana

Ironisnya, dua penghargaan bergengsi yang ia raih justru datang tanpa pernah ia targetkan secara eksplisit. Desy mengaku tidak pernah menetapkan mimpi spesifik seperti “semester 7 aku harus jadi Mapres”. Semua mengalir dari proses panjang yang ia jalani dengan sungguh-sungguh.

“Rasanya campur aduk—ada bahagianya, ada kagetnya, dan ada rasa tantangan juga. Karena ketika mendapat gelar seperti itu, kita harus bisa mempertahankannya,” kenang Desy. Namun, di balik rasa syukur itu, ada perjuangan yang tidak terlihat dari luar. Desy adalah penerima KIP-K (Kartu Indonesia Pintar Kuliah).

Sang ayah bekerja sebagai sopir angkutan batu, sementara ibunya membantu berjualan dengan cara menusuk sate di tempat orang lain. Keterbatasan ekonomi itu kerap menjadi penghalang nyata ketika ingin mengikuti kegiatan atau perlombaan yang membutuhkan biaya awal.

“Kadang nggak sempat ikut karena ekonomi,” akunya. Namun, tantangan itu tidak pernah membuatnya berhenti. Justru, dari keterbatasan itulah motivasinya tumbuh semakin kuat.

Pesan untuk Generasi yang Menginginkan Hasil Instan

Bagi Desy, generasi muda saat ini—yang sering masyarakat anggap pemalas dan ingin serba cepat—sebenarnya hanya butuh arah yang tepat. Ia punya empat pesan sederhana, namun penuh makna mendalam.

Pertama, Desy menyarankan untuk membuat target yang jelas. Kedua, bangun dan branding diri sendiri, jangan malu untuk dikenal. Ketiga, sadari bahwa tidak ada hasil yang datang secara instan. Ia mengungkapkan bahwa kerja keras dan keberanian keluar dari zona nyaman adalah syarat mutlaknya. Dan keempat, temukan motivasi yang kuat sebagai pendorong di saat lelah melanda.

“Motivasi itu buat kita tetap jalan waktu capek. Kalau sudah punya motivasi yang besar, capek pun terasa lebih ringan,” pesannya.

Si Gempi Jilid 2 dan Mimpi yang Masih Panjang

Ke depan, Desy tidak berencana untuk berhenti. Ia tengah menyiapkan Si Gempi Jilid 2 dan melanjutkan petualangan karakter komik yang ia buat. Kecintaan Desy pada animasi dan cerita dongeng membuatnya yakin bahwa medium komik masih punya banyak hal yang bisa ia eksplorasi.

Selain itu, lomba-lomba berikutnya sudah menanti, dan ia mengisyaratkan masih ada kegiatan-kegiatan baru yang belum pernah ia coba dan ingin segera ia jelajahi. Bagi Desy Fatmasari Pohan, perjalanan ini belum selesai. Justru baru saja dimulai.

Jika kamu ingin mengenal sosok Desy Fatmasari Pohan lebih dekat, kunjungi Instagramnya di @desyfpohan. Kedua buku karya Desy juga bisa kamu beli lewat laman detakpustakatoko.com.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.