Inspirasi

Dita Suryo Ungkap Perjalanan Menerbitkan Buku Lights, Life, Legacy Bersama 15 Perempuan Inspiratif

54
×

Dita Suryo Ungkap Perjalanan Menerbitkan Buku Lights, Life, Legacy Bersama 15 Perempuan Inspiratif

Sebarkan artikel ini
Dita Suryo Ungkap Perjalanan Menerbitkan Buku Lights, Life, Legacy Bersama 15 Perempuan Inspiratif
Dita Suryo, penulis buku Lights, Life, Legacy. (Dok. Detak Pustaka).

Detak Tribe – Dita Kusuma Hapsari atau akrab dengan nama Dita Suryo di media sosial adalah seorang dosen di Politeknik Jakarta Internasional. Selain menjadi dosen, ia adalah penggerak dua komunitas, yakni Momakece Community dan Sinkola atau Sinergi Kolaborasi Indonesia.

Melalui komunitas itulah, ia turut melahirkan sebuah karya buku bersama rekan-rekannya. Buku tersebut berjudul Lights, Life, Legacy, terbit di Detak Pustaka, dan merupakan buku antologi kedua dari komunitas Momakece.

Kisah di Balik Buku Lights, Life, Legacy

Buku ini adalah karya dari 15 Duta Momakece dari Batch 2 dan 3, termasuk Dita. Setiap penulis menuangkan kisah hidupnya masing-masing dalam format biografi yang penuh nilai inspiratif. Mulai dari cerita seputar kepemimpinan dalam organisasi perempuan hingga kisah seorang ibu tunggal yang membesarkan dua anak seorang diri.

“Dalam buku tersebut ada yang bercerita tentang kehidupan single mom. Bagaimana dia bisa bertahan, dia bisa kuat menjadi single mom, punya dua anak. Jadi, kisah-kisah inspiratif dari 15 orang penulis,” katanya.

Enam hingga Delapan Bulan Menuju Naskah Rampung

Dita Suryo mengungkapkan, perjalanan buku Lights, Life, Legacy dari tahap ide hingga siap terbit memakan waktu sekitar 6 sampai 8 bulan.

“Nah ini up and down ya. Sebenarnya kita kalau enggak dipaksa susah banget tuh nemuin feel-nya untuk menulis. Ini jadi agak terkendala, lumayan, ada sekitar 6 sampai 8 bulan menulis untuk jadi buku,” ungkapnya.

Proses yang cukup panjang ini terjadi karena setiap penulis mendapat pendampingan langsung dari mentor secara one-on-one, mulai dari cara menulis, susunan kalimat, hingga tata bahasa, sebelum masuk ke tahap editing dan penyempurnaan akhir naskah.

Dita sendiri mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Ani Berta. Baginya, Ani adalah seorang kakak, sahabat, mentor, dan advisor MomaKECE Community dan Sinkola Indonesia untuk menulis buku antologi ini.

Tanpanya, perjalanan menulis buku tidak akan mulus. Ia dan tim juga mengapresiasi atas dedikasi Ani Berta yang tidak pernah padam membantu dan memberikan support penuh tanpa lelah dan pamrih.

“Perjalanan menulis buku antologi ini tidak akan berjalan mulus tanpa dukungan dan support dari teh Ani Berta. Demi memajukan perempuan berliterasi melalui karya penulisan dalam pembuatan buku antologi hingga terbit di Detak Pustaka. Terima kasih atas semuanya dari saya pribadi dan atas nama komunitas tercinta ini,” jelasnya.

Pilih Detak Pustaka Lewat Rekomendasi

Alasan pemilihan penerbit, Dita menuturkan bahwa nama Detak Pustaka cukup sering ia lihat di linimasa komunitas Momakece. Terlebih lagi, ada rekomendasi dari salah satu anggota komunitas yang sebelumnya sudah pernah menerbitkan karya di Detak Pustaka.

“Awalnya lewat aja gitu di timeline. Terus kebetulan juga ada referensi dari salah satu member yang pernah menulis juga di Detak Pustaka,” jelas Dita.

Beragam Kesibukan Jadi Tantangan Utama

Menurut Dita, tantangan terbesar dalam proses penulisan buku ini berasal dari latar belakang para penulis yang tidak seragam.

Selain ada yang berprofesi sebagai dosen, di antara 15 Duta Momakece ini juga terdapat pramugari dan dokter, yang tentu memiliki kesibukan masing-masing di luar menulis. Di sisi lain, sebagian dari mereka juga belum terbiasa menulis, sehingga sempat kesulitan menentukan arah dan isi tulisannya.

Harapan Agar Pembaca Ikut Menguatkan Diri

Menutup perbincangan, Dita Suryo menyampaikan harapan besar dari seluruh penulis agar buku ini dapat memberikan inspirasi dan wawasan baru bagi para pembacanya, khususnya terkait sosok perempuan yang kuat dan tangguh.

Ia berharap, melalui rangkaian kisah dalam buku ini, para pembaca—terutama perempuan dan ibu—dapat ikut merasakan kekuatan yang sama dalam menjalani peran masing-masing.

“Nah harapannya untuk pembaca di luar sana itu terinspirasi dan mereka mendapatkan insight baru tentang perempuan. Perempuan yang memang harus kuat, perempuan yang memang harus resilience gitu ya,” pungkas Dita.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.