Inspirasi

Dwi Ayu Lestari dan Perjalanan Menulis dari Kehilangan ke Penerimaan

79
×

Dwi Ayu Lestari dan Perjalanan Menulis dari Kehilangan ke Penerimaan

Sebarkan artikel ini
Dwi Ayu Lestari dan Perjalanan Menulis dari Kehilangan ke Penerimaan
Dwi Ayu Lestari dan bukunya yang berjudul Manusia dan Duka-nya. (Dok. Detak Pustaka).

Detak Tribe – Namanya Dwi Ayu Lestari, atau biasa disapa Tari. Perempuan asal Sumatera Utara ini tengah menuntut ilmu di UIN Sunan Kudus, Jawa Tengah, sekaligus menjalani kesibukan lain yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya, yakni menulis.

Sejak 2022, saat pertama kali menginjakkan kaki di bangku kuliah, Tari mulai serius meniti karier di dunia kepenulisan. Ia kerap mengikuti lomba menulis puisi tingkat nasional secara daring. Bahkan, tak jarang namanya masuk sebagai penulis terbaik maupun penulis terpilih.

Kini, di usianya yang masih muda, ia telah menggenggam 10 karya buku, baik antologi maupun solo. Salah satu dari karya-karya itu lahir dari tempat yang paling dalam, yaitu duka.

Ketika Duka Menjadi Karya Sastra

Buku karya Dwi Ayu Lestari berjudul Manusia dan Duka-nya adalah kumpulan prosa dan puisi yang berfokus pada perasaan terdalam manusia saat menghadapi kehilangan, kekecewaan, dan segala bentuk duka yang kerap tak bernama.

Dalam buku ini, Tari menyampaikan bahwa menjadi manusia berarti harus siap menghadapi hal-hal yang berada di luar kendali, termasuk duka. Dan duka, menurutnya, tidak selalu soal kematian. Ia bisa hadir dalam wujud hilangnya harapan, patah hati, atau kegagalan meraih sesuatu yang sangat manusia inginkan.

“Tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja,” pesannya.

Melalui narasi yang ia bangun, Tari ingin merangkul para pembaca yang terlalu sering dipaksa oleh lingkungan untuk selalu tampak kuat. Menangis atau merasa hancur, lanjutnya, adalah proses yang sangat manusiawi dan tidak perlu terburu-buru untuk sembuh.

Buku ini juga menghadirkan ruang dialog dengan diri sendiri. Banyak bagian di dalamnya terasa seperti monolog antara seseorang dengan jiwanya yang sedang terluka.

Tari mengajak pembaca untuk berhenti menyalahkan diri sendiri, memahami bahwa setiap orang memiliki waktu pulih yang berbeda, dan perlahan menemukan kembali serpihan diri yang hilang setelah badai kesedihan berlalu.

Pada akhirnya, buku ini tidak berhenti pada rasa duka semata. Namun, ia hadir untuk menggiring narasi menuju penerimaan dan transformasi. Menjadikan duka sebagai guru yang mendewasakan dan mempertajam empati seseorang terhadap penderitaan orang lain.

Proses Panjang Lahirnya Karya

Proses penulisan buku ini tidaklah lurus. Tari mengaku menyelesaikannya dalam kurun waktu sekitar dua bulan. Namun, di balik angka itu tersimpan perjalanan yang jauh lebih panjang. Kesibukan sebagai mahasiswi semester akhir membuatnya sempat mengalami writer’s block selama lebih dari satu tahun, tanpa bisa menyentuh naskah sama sekali.

Yang menggerakkannya kembali bukan hanya waktu atau kelapangan pikiran, melainkan sebuah peristiwa yang menyentuh langsung hidupnya. Tari kehilangan seseorang yang ia sayangi dan lebih menyakitkan lagi, ia tidak bisa hadir untuk menemani maupun mengantarkan orang itu ke peristirahatan terakhirnya. Di sinilah buku itu menemukan jalannya.

Selain pengalaman pribadi, dorongan untuk menulis juga datang dari banyaknya orang-orang terdekat yang datang kepadanya untuk bercerita tentang kehilangan, kegagalan, dan duka dalam berbagai bentuk.

Semua itu akhirnya bertemu di satu titik, ketika Tari sendiri merasakan apa yang selama ini ia dengar dari orang lain. Ia baru bisa menyelesaikan buku tersebut setelah berhasil mencapai fase penerimaan atas dukanya sendiri.

Dari sekian banyak bagian dalam buku, ada satu yang paling membekas baginya. Bagian itu adalah Chapter II berjudul Hening, pada bagian Doa tanpa Nama.

“Bahwa sesuatu yang lebih besar dari duka itu sendiri adalah kemauan untuk tetap berdoa,” ungkapnya.

Rumah yang Tepat untuk Karya yang Lahir dari Luka

Untuk menerbitkan buku ini, Tari memilih Detak Pustaka. Alasannya sederhana, ia melihat Detak Pustaka sebagai wadah yang tidak hanya berperan sebagai penerbit, tetapi juga menjembatani para penulis pemula untuk berani berkarya.

Baginya, pengalaman menerbitkan buku bersama Detak Pustaka terasa seperti perjalanan yang menyenangkan, yang dibantu oleh tim profesional, ramah, dan memberikan dukungan penuh kepada penulisnya.

“Terima kasih karena Detak Pustaka sudah berkenan menjadi perantara saya berkarya lagi setelah stuck lebih dari satu tahun,” katanya.

Untuk Kamu yang Sedang Membawa Beban Duka

Di penghujung perbincangan, Tari berbagi tentang apa yang ia harapkan untuk para pembaca setelah menyelesaikan buku ini. Ia ingin mereka tidak lagi merasa sendirian dalam membawa beban dukanya. Duka, katanya, sering kali menjadi ruang yang sangat tertutup dan buku ini mencoba meruntuhkan dinding pembatas itu.

“Ada perasaan lega, melihat duka bukan sebagai musuh yang harus segera diusir, melainkan sebagai tamu yang membawa pesan,” harapnya.

Lebih dari itu, ia ingin buku ini menjadi semacam pelukan hangat dalam bentuk prosa dan menjadi sebuah ketenangan bagi jiwa yang berduka, di saat dunia luar terasa begitu bising memaksa untuk selalu bahagia.

Bagi siapa pun yang saat ini sedang dalam fase berduka, Tari menitipkan pesan yang ia tuliskan dengan penuh ketulusan.

“Terimalah duka itu, mulailah dari satu langkah kecil, maafkan dirimu sendiri, dan jangan pikul semuanya sendirian. Yang terpenting, perbanyaklah berdoa. Mintalah keikhlasan, kesabaran, kekuatan, dan pelangi setelah badai,” pesan Tari.

“Pelan-pelan saja. Duka itu tidak akan hilang total, tetapi lama-lama dia akan mengecil, dan kamu akan jadi lebih kuat untuk membawanya. Berdamai dengan duka bukan soal cepat-cepat sembuh, tetapi soal belajar jalan lagi meski kaki terluka,” lanjutnya.

Ke depan, Dwi Ayu Lestari masih menyimpan banyak rencana. Ia ingin terus berkarya, bahkan menaruh minat untuk menulis novel, meski ia mengaku masih ingin belajar lebih dulu sebelum benar-benar melangkah ke sana. Satu hal yang pasti, perempuan yang menemukan suaranya di antara duka ini belum akan berhenti menulis.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.