Inspirasi

Ella Irawan dan Detak yang Tersisa: Cerita dari Hati yang Paling Dalam

122
×

Ella Irawan dan Detak yang Tersisa: Cerita dari Hati yang Paling Dalam

Sebarkan artikel ini
Ella Irawan dan Detak yang Tersisa Cerita dari Hati yang Paling Dalam
Ella Irawan dan beberapa karya tulisnya di Halo Penulis. (Dok. narasumber).

Detak Tribe – Bagi sebagian orang, menulis hanyalah sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Namun, bagi Ella Irawan, menulis adalah sesuatu yang jauh lebih dalam. Ia adalah kegiatan terapi, pelarian, dan sebuah cara untuk tetap waras di tengah riuhnya kehidupan.

Perempuan yang kini bekerja sebagai staf Hubungan Masyarakat dan Informasi di sebuah organisasi wanita ini telah membuktikan bahwa konsistensi dalam menulis bisa membawa seseorang berkembang jauh.

Ia tercatat telah menjadi penulis terpilih di berbagai batch lomba menulis yang Halo Penulis selenggarakan, mulai dari Batch 17, 19, 20, 21, 22, 23, 24, hingga Batch 25. Meski belum pernah masuk tiga besar, pencapaian itu tetap menjadi kebanggaan tersendiri bagi Ella.

Karya yang Lahir dari Pengalaman Nyata

Dari sekian banyak karya yang pernah ia tulis, ada satu yang paling membekas di hatinya. Karya itu adalah sebuah cerpen berjudul Detak yang Tersisa. Tulisan ini merupakan karya terakhir yang ia ikutsertakan dalam perlombaan. Sesuatu yang membuat tulisan itu istimewa bukan karena tema, melainkan soal kisah di dalamnya.

“Aku selalu merasa ada diri yang lain dalam tubuh aku. Jadi, aku gak pernah kesepian. Aku selalu ngobrol sama diri aku yang lain,” ungkap Ella. Ia menjelaskan bahwa dalam tulisannya, sosok itu ia gambarkan pergi, namun dalam kenyataan, sosok itu masih ada, menemaninya setiap hari.

Proses penulisan cerpen tersebut terbilang singkat, hanya dua hari. Ella mengaku kebiasaannya baru mulai menulis ketika tenggat waktu sudah mendekat. Namun, justru di situlah ia merasa paling fokus.

Mood, Musik, dan Kekuatan Menulis

Tantangan terbesar dalam proses kreatif Ella bukanlah soal ide atau teknik, melainkan soal suasana hati. Mood yang naik-turun kerap menjadi penghambat utamanya. Ketika semangat menurun, ia biasanya mendengarkan musik terlebih dahulu sebagai jembatan untuk kembali ke ritme menulis.

Bagi Ella Irawan, menulis bukan sekadar menyusun kata-kata. Ia menyebut kegiatan itu sebagai salah satu bentuk terapi. Saat masalah datang, ia memilih untuk tidak larut di dalamnya, melainkan mengalihkan fokus melalui tulisan.

“Dengan menulis sesuatu yang gak mungkin, hal itu akan mungkin dalam tulisan aku,” katanya. Ia mengaku hobi berimajinasi, dan di atas kertas, imajinasi itu bisa menjadi kenyataan.

Dari Buku Harian ke Panggung Lomba

Kebiasaan menulis Ella sebenarnya sudah tumbuh sejak masa sekolah menengah atas, meski saat itu hanya dituangkan di buku harian. Ia baru mulai percaya diri untuk mengikuti perlombaan setelah memasuki dunia kerja.

Keputusan itu juga diperkuat oleh saran dari rekan-rekannya yang berprofesi sebagai psikolog dan psikiater. Dari diskusi dengan mereka, Ella memahami bahwa menghadapi masalah bukan berarti terus berkutat di dalamnya, melainkan menemukan pelarian yang sehat. Dan bagi Ella, pelarian itu adalah menulis.

Namun, tidak semua lomba memberikan pengalaman yang menyenangkan. Sebelum bergabung dengan Halo Penulis, ia pernah mengikuti lomba yang penyelenggaraannya tidak amanah.

Ada yang tidak pernah mengumumkan hasil, bahkan ada yang memungut biaya pendaftaran tanpa kelanjutan yang jelas. Pengalaman itu membuat Ella lebih selektif dalam memilih platform lomba.

Menemukan Rumah di Halo Penulis

Kehadiran Halo Penulis menjawab keresahan Ella akan kepercayaan dan konsistensi. Ia melihat platform ini bukan semata sebagai arena kompetisi, melainkan sebagai wadah belajar dan berkembang.

“Halo Penulis hadir sebagai wadah yang membuat aku berani mencoba dan menjadi rutin mengikuti lomba,” tuturnya.

Ke depan, Ella menyimpan sebuah impian sederhana, yaitu memiliki buku sendiri. Saat ini, ia masih merasa belum siap dari sisi promosi, mengingat dirinya yang masih merasa sebagai penulis junior. Namun, impian itu tetap ia jaga.

“Punya antologi cerpen saja buat aku bahagia, apalagi bisa punya buku sendiri,” katanya.

Pesan untuk Penulis yang Baru Memulai

Kepada siapa pun yang ingin mulai menulis, baik sebagai hobi maupun sebagai terapi, Ella Irawan menitipkan satu pesan yang sederhana, namun bermakna.

“Jangan pernah takut untuk mulai menulis. Menulis itu bukan harus bagus, tetapi jujur kepada diri sendiri. Lewat tulisan, aku percaya kita bisa menyembuhkan luka yang tidak bisa kita ceritakan kepada orang lain,” pesannya.

Bagi Ella, tulisan adalah ruang paling aman untuk menjadi diri sendiri, tempat di mana luka boleh diakui, dan penyembuhan boleh dimulai.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.