Inspirasi

Etrik Maesaroh dan Perjalanan Panjang Menemukan Kemenangan di Tulisan ke-50

125
×

Etrik Maesaroh dan Perjalanan Panjang Menemukan Kemenangan di Tulisan ke-50

Sebarkan artikel ini
Etrik Maesaroh dan Perjalanan Panjang Menemukan Kemenangan di Tulisan ke-50
Etrik Maesaroh, penulis juara 1 di Nulis Quotes. (Dok. narasumber).

Detak Tribe – Etrik Maesaroh, S.Sos berhasil membuktikan dedikasi dalam menulis dengan hasil memuaskan. Perempuan yang menggunakan nama pena Emma ini menjalani kehidupan sebagai pegawai di pemerintahan Kabupaten Sumedang.

Menulis baginya bukan pekerjaan utama, melainkan aktivitas yang ia jalani berdampingan dengan kesehariannya. Keikutsertaan Etrik dalam ajang Nulis Quotes ia mulai pada Batch 21, di mana ia berhasil masuk kategori penulis terpilih.

Semangatnya untuk terus mencoba membuahkan hasil lebih besar ketika ia kembali berpartisipasi di Batch 22 dan meraih Juara 1. Pencapaian ini semakin istimewa karena karya tersebut merupakan tulisan ke-50 yang telah ia tulis selama ini.

Jejak Panjang Kecintaan pada Dunia Tulis-Menulis

Kegemaran Etrik menulis sudah terbentuk sejak masa kanak-kanak, terlihat dari kebiasaannya rutin mengisi buku diari. Ketika menginjak bangku SMP, bakat menulisnya semakin terasah lewat keterlibatan aktif dalam pengelolaan mading sekolah.

Minatnya terhadap dunia sastra tidak berhenti sampai di situ. Sejak masa SMK, kuliah, hingga sekarang, Etrik terus konsisten mengikuti berbagai kompetisi menulis berskala nasional.

Ia mengungkapkan rasa syukurnya bisa bergabung dalam komunitas Halo Penulis Group, khususnya di ajang Nulis Quotes, yang pada akhirnya mengantarkannya meraih gelar juara.

Perjuangan Membagi Waktu antara Kerja dan Menulis

Menjalani dua peran sekaligus, sebagai pekerja dan penulis, bukanlah hal yang mudah bagi Etrik Maesaroh. Ia mengakui secara terbuka bahwa menjaga konsistensi dalam menulis menjadi tantangan tersendiri.

Menurutnya, menulis bukan hanya soal merangkai kalimat, tetapi juga menuntut kebiasaan membaca yang tekun, mengingat setiap tulisan harus sesuai dengan kaidah EYD dan KBBI yang berlaku. Meski begitu, pekerjaannya justru menjadi alasan tersendiri baginya untuk menulis.

Aktivitas menulis ia jadikan sebagai sarana melepas penat setelah lelah bekerja. Untuk memancing inspirasi, Etrik kerap menghabiskan waktu nongkrong sambil menyeruput kopi. Dari cerita ini, terlihat jelas bahwa mengatur waktu antara pekerjaan dan menulis memang menjadi tantangan yang paling sering ia rasakan.

Menaklukkan Kebuntuan Ide

Di luar soal waktu, Etrik juga kerap berhadapan dengan tantangan berupa kebuntuan ide, terutama saat menentukan judul dan penutup cerita. Kedua hal tersebut ia akui sebagai bagian yang paling sering membuatnya kesulitan.

Sebagai solusinya, ia selalu menyediakan catatan di mana pun ia berada, sehingga setiap kali ide muncul secara tiba-tiba, ia bisa langsung mencatat atau mengetiknya melalui ponsel.

“Cara aku antisipasi itu adalah selalu siapin notes. Jadi, kalau sewaktu-waktu aku dapat inspirasi aku langsung catat atau ketik di ponsel, ungkapnya.

Berbagi Kiat Sukses Mengikuti Lomba Menulis

Berdasarkan pengalamannya yang panjang di dunia lomba menulis, Etrik memberikan sejumlah saran bagi mereka yang ingin mencoba peruntungan serupa. Ia menyarankan agar niat mengikuti lomba diarahkan untuk mengukur kemampuan menulis diri sendiri sekaligus melatih kedisiplinan.

Menurutnya, kemenangan hanyalah bonus dari sebuah proses panjang. Hal yang lebih berarti adalah keberhasilan dalam menyelesaikan sebuah karya hingga tuntas.

“Menang itu bonus, tetapi proses penyelesaian karya tulisan adalah kemenangan yang sebenarnya,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya memahami tema serta kriteria penilaian dari masing-masing penyelenggara lomba, karena setiap kompetisi memiliki karakter dan selera penilaian yang berbeda satu sama lain.

Rasa Syukur atas Pencapaian yang Tak Terduga

Etrik Maesaroh mengaku pencapaiannya meraih Juara 1 datang di luar dugaan. Ia menjelaskan bahwa dari total 50 karya yang telah ditulisnya, terdapat 4 karya yang sempat dibukukan sebelumnya.

Namun sayangnya, predikat yang ia raih hanya sebatas penulis terpilih dengan posisi 5 hingga 10 besar. Gelar Juara 1 baru benar-benar ia dapatkan setelah aktif mengikuti ajang Nulis Quotes.

Ia turut menceritakan bahwa latar belakang menulisnya sebenarnya lebih condong ke genre puisi. Keikutsertaannya dalam kategori lomba menulis surat baru terjadi sebanyak dua kali, dan keduanya berlangsung di ajang Nulis Quotes.

Etrik pun mengaku sempat membaca karya-karya peserta lain, baik dari penulis baru maupun yang sudah berpengalaman, dan menilai bahwa kualitas karya-karya tersebut sama-sama layak mendapat apresiasi.

Doa dan Harapan untuk Sastra Tanah Air

Menutup perbincangan, Etrik menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Halo Penulis Group yang telah menjadi wadah sekaligus rumah bagi para penulis untuk berkarya.

Ia berharap Nulis Quotes dapat terus menjadi ruang bertumbuh bagi generasi penulis, sekaligus terus berkembang baik dari sisi tim maupun kualitas penyelenggaraan setiap eventnya.

Di akhir kesempatan, ia juga menitipkan harapan agar dunia sastra Indonesia tidak pernah surut, sehingga senantiasa mampu melahirkan generasi-generasi baru yang mencintai dan menghidupkan dunia literasi.

“Mudah-mudahan dunia sastra Indonesia tidak pernah padam, agar tetap melahirkan generasi pecinta literasi,” pungkasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.