Detak Tribe – Di tengah kesibukan bekerja dan kuliah, Fitri Sayidah menyempatkan diri untuk aktif menulis. Perempuan asal Tangerang ini baru menerbitkan satu buku di Detak Pustaka, yaitu novel Ceritaku Dengan Ibu.
Fitri Sayidah sendiri saat ini bekerja sebagai administrasi retur di PT Kuda Mas Lestari. Ia juga masih menempuh pendidikan di bangku kuliah dan kini berada di semester 7. Oleh karena itu, menulis ia lakukan hanya ketika ada waktu luang.
Tentang Novel dan Proses Penulisan
Novel Ceritaku Dengan Ibu mengisahkan penderitaan seorang ibu sekaligus istri akibat ulah suaminya. Sang suami gemar bermain perempuan dan berjudi hingga harta keluarga habis. Kondisi itu membuat kehidupan keluarga mereka sengsara.
Ide cerita ini berasal dari lingkungan sekitar Fitri. Ia melihat sebagian keluarga hancur karena judi online dan perselingkuhan. Lewat novel ini, ia ingin memberikan edukasi kepada pembaca melalui cerita.
Fitri mulai menggarap buku ini pada 2025. Prosesnya tidak selalu mulus. Ia mengaku cukup sulit mengalirkan cerita, apalagi ini pertama kalinya ia menulis buku dan waktunya terbatas. Naskah pun ia kerjakan hanya di sela waktu senggang. Buku ini akhirnya terbit di Detak Pustaka pada bulan Agustus.
Jeda untuk Menemukan Alur
Seperti penulis pada umumnya, Fitri juga kerap menghadapi hambatan dalam proses menulisnya. Hambatan terbesar Fitri adalah kebingungan dalam mengalirkan jalan cerita. Untuk mengatasinya, ia biasanya berhenti menulis sejenak dan memikirkan alurnya. Setelah menemukan ide baru, barulah ia melanjutkan tulisannya.
“Untuk mengatasi persoalan tersebut, biasanya saya melakukan sebuah jeda beberapa waktu untuk memikirkan alur ceritanya. Setelah saya memiliki ide, baru saya lanjut,” katanya.
Bagian yang Paling Berkesan
Dalam satu novel utuh yang ia tulis, ada satu bagian paling berkesan bagi Fitri. Bagian tersebut berkaitan dengan selembar uang dua ribu. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil, tokoh anak dalam cerita ini masih sangat kecil, tetapi sudah berpikir dewasa dan memahami keadaan orang tuanya.
Bahkan, tokoh anak tersebut juga rela mengurangi uang belanjanya demi kebutuhan lain keluarga. Bagian tersebut menjadi sangat berkesan karena Fitri menilai bahwa anak sekecil itu sudah memiliki rasa empati yang cukup besar.
Harapan untuk Pembaca dan Literasi
Fitri berharap pembaca yang menuntaskan bukunya dapat terbuka pola pikirnya tentang masa depan, serta mampu memilih mana keputusan yang baik dan mana yang buruk.
“Harapan saya untuk para pembaca setelah baca buku dengan tuntas, semoga bisa membuka sebuah pola pikir mereka untuk masa depan mereka,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan kesannya terhadap Detak Pustaka, yang menurutnya sangat bagus apalagi dalam hal memastikan kebutuhan penulis. Untuk dunia literasi Indonesia ke depan, ia berharap semakin banyak anak muda yang gemar membaca, karena setiap bacaan membawa edukasi dan dapat membuka pola pikir menjadi lebih luas.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











