Detak Tribe – Di tengah kesibukannya sebagai people and development trainer di sebuah perusahaan swasta di Jakarta, Ifan Refi menyempatkan diri merampungkan sebuah novel fiksi berjudul Oneironaut – Mata Ketiga. Novel yang terbit lewat Detak Pustaka ini lahir dari keresahannya terhadap isu bullying.
Garis Besar Oneironaut – Mata Ketiga
Ifan sengaja tidak menampilkan bullying secara eksplisit dalam ceritanya. Ia justru membangun isu tersebut lewat persoalan stigma yang berkembang di antara para tokohnya.
Salah satu karakter yang berperan sebagai pelaku, misalnya, ia gambarkan sebagai mantan korban bullying di lingkungan sebelumnya. Karena terlalu takut jatuh ke posisi yang sama, tokoh ini justru mencari sosok kambing hitam sebagai bentuk pertahanan diri.
Menurutnya, mekanisme bullying dalam cerita ini memang ia bangun secara bias. Dengan demikian, setiap orang bisa punya persepsi berbeda-beda. Namun, sang korban sendiri juga tidak Ifan gambarkan sepenuhnya bersih.
Sang korban Ifan gambarkan turut memainkan peran yang relate dengan banyak orang. Sibuk mencari validasi dan pengakuan dari lingkungannya, hingga akhirnya ikut membenarkan stigma yang ada demi membuktikan diri bisa diterima.
Pembuktian itu lewat kalimat semacam “Saya bisa masuk kok sama leluconnya mereka” atau “Saya nggak se-kaku dan se-baper itu kok”. Situasi ini terus berkembang sampai para tokoh sadar bahwa stigma yang mereka bangun sendiri telah berubah menjadi tuduhan penyimpangan dan pelecehan.
Melalui world building dan karakter yang sengaja ia buat serba abu-abu, Ifan berharap pembaca akan kebingungan menentukan siapa sebenarnya korban dan siapa pelaku. Baginya, setiap karakter membawa persepsi, opini, dan reaksinya masing-masing dalam menghadapi ketakutan yang mereka alami.
Proses Panjang di Balik Tema yang Sensitif
Ifan Refi mengaku proses penulisan buku ini tidak singkat. Sejak ide pertama muncul hingga akhirnya terbit, ia membutuhkan waktu sekitar 11 bulan. Tentunya, dengan proses yang cukup banyak maju-mundur karena tema yang ia angkat tergolong sensitif dan membutuhkan observasi mendalam terhadap sisi psikologis penyintas.
Observasi tersebut, menurutnya, penting agar karakter yang ia bangun terasa lebih relevan dan dekat dengan pembaca. Selain itu, tantangan terbesar muncul saat ia harus menyampaikan tema berat ini dengan cara yang ringan. Tujuannya agar pembaca tetap bisa menikmati ceritanya tanpa merasa terbebani.
Oleh karena itu, Ifan memilih menutup cerita dengan open ending yang reflektif. Ending seeprti ini bertujuan memberi ruang bagi pembaca untuk merenungkannya sendiri.
Pesan yang Ingin Ifan Sampaikan
Harapan Ifan terhadap pembaca cukup sederhana. Ia ingin pembaca tidak hanya menikmati sisi misteri dari cerita ini. Menurutnya, pembaca juga bisa menangkap nilai moral yang tertuang dalam cerita. Terutama tentang cara bertahan hidup dari luka yang kerap menyamar menjadi rumah.
“Pembaca tidak cuma menikmati dari sisi misterinya, tetapi juga moral valuenya. Tentang cara bertahan hidup dari sember luka yang kerap kali menyamar jadi rumah,” jelas Ifan.
Rencana Kepenulisan Berikutnya
Ifan berencana merilis sekuel dari Oneironaut pada Desember mendatang. Meski merupakan sekuel, buku ini ia rancang berdiri sendiri, sehingga tetap bisa pembaca baru nikmati tanpa perlu membaca buku pertamanya lebih dulu.
Ke depan, ia ingin terus terkenal oleh pembaca sebagai penulis fiksi psikologi, meski tidak menutup kemungkinan untuk mengeksplorasi sub-genre lain seperti sci-fi dan horor.
“Hanya saja saya akan bermain di sub genre lain seperti Sci-fi dan horor mungkin,” katanya.
Alasan Memilih Detak Pustaka
Soal alasan pemilihan Detak Pustaka sebagai rumah untuk karyanya, Ifan menyebut salah satu pertimbangannya adalah kesesuaian visi dan misi. Visi dan misi yang Detak Pustaka bawa sangat sesuai dengannya, karena mendukung penulis pemula.
“Detak Pustaka sejalan dengan yang saya harapkan sebagai sudut pandang penulis terharap platform publish yang luas. Tentunya ini menjadi wadah untuk mendukung penulis pemula dalam proses menerbitkan buku,” ungkapnya.
Adapun faktor lain yang membuatnya semakin yakin adalah isi kontrak yang menegaskan hak adaptasi karya tetap sepenuhnya menjadi milik penulis.
Harapan untuk Dunia Literasi Indonesia
Di akhir perbincangan, Ifan Refi menyampaikan harapannya agar dunia literasi dan penerbitan di Indonesia terus berkembang menjadi ruang yang lebih terbuka, tidak hanya bagi karya-karya besar, tetapi juga cerita-cerita sederhana dan personal yang belum banyak dikenal, namun memiliki pesan untuk disampaikan.
Menurutnya, yang dibutuhkan bukan sekadar industri buku yang besar, melainkan ekosistem literasi yang hidup. Ini karena sebuah buku mungkin selesai di halaman terakhirnya, tetapi gagasan dan perasaan yang ditinggalkannya seharusnya tidak ikut berhenti begitu saja.
“Saya berharap kita tidak hanya punya industri buku yang semakin besar, tetapi juga ekosistem literasi yang semakin hidup,” tutup Ifan.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











