Detak Tribe – Ifriani Abdul Salam atau Ifry adalah seorang penulis yang kini menjalani kesibukan sebagai pengajar di sebuah kampus sekaligus di madrasah. Di tengah rutinitas mengajarnya, Ifry berhasil menerbitkan dua buku.
Buku pertamanya berjudul Kepada Siapa, Seharusnya Luka Ini Pulang. Sementara, buku kedua berjudul Pulang (Catatan Hati Menyembuhkan Luka, Trauma dan Kembali pada Tuhan). Kedua karya ini lahir dari proses yang berbeda dan rentang waktu yang jauh terpaut satu sama lain.
Perjalanan Panjang Kepenulisan
Buku pertama Ifry sebenarnya sudah ia gagas sejak lama, tepatnya saat ia masih duduk di bangku SMA. Tokoh Kenan dan Reina yang menjadi bagian dari cerita tersebut telah menemaninya sejak masa remaja. Namun, proses penulisannya sempat terhenti cukup lama sebelum akhirnya berlanjut kembali pada pertengahan tahun 2025.
Berbeda dengan buku pertama, buku kedua justru berangkat dari pengalaman pribadi Ifry sendiri. Tulisan-tulisan yang menjadi isi buku ini sebelumnya pernah ia unggah di Instagram dan catatan diari pribadinya. Dari kumpulan tulisan tersebut, Ifry kemudian memutuskan untuk mengumpulkan dan menerbitkannya menjadi sebuah buku utuh.
Menulis di Tengah Kesibukan Kuliah dan Bekerja
Menyusun kedua buku bukan tanpa hambatan. Ifry mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang ia hadapi adalah soal mood dan keterbatasan waktu. Terlebih lagi saat ia tengah menempuh pendidikan S2 sekaligus bekerja di dua tempat berbeda.
Kesibukan ganda tersebut menguras cukup banyak tenaga, sehingga saat sampai di rumah, semangat untuk menulis kerap sudah tidak tersisa. Oleh karena itu, proses penulisan buku kedua pun banyak ia lakukan di sela-sela kesibukan sehari-hari.
“Hambatannya lebih ke mood dan Masalah waktu. Saat itu, aku masih sibuk-sibuknya kuliah S2 sambil kerja juga. Jadi, kalau sampai di rumah itu udah gak ada tenaga dan semangat buat nulis lagi,” ungkapnya.
Pesan Ifry untuk Pembaca
Melalui buku pertama, Ifry mengangkat kisah tiga sahabat. Persahabatan tersebut menghadapi kehancuran akibat ego masing-masing pihak, meski sudah terjalin sejak kecil. Ia berharap pembaca bisa mengambil pelajaran dari kisah tersebut dan menjadikannya bahan refleksi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Sementara pada buku kedua, meskipun terinspirasi dari kisah pribadi, Ifry menegaskan bahwa tidak semua bagian di dalamnya sepenuhnya menggambarkan pengalamannya sendiri.
Ia berharap pembaca dapat memaknai luka yang pernah mereka alami bukan sebagai tanda bahwa Tuhan membenci. Namun, tepatnya sebagai bentuk cinta agar seseorang dapat kembali dan berharap pada tempat yang semestinya.
Alasan Memilih Penerbit HAS
Keputusan Ifry menerbitkan kedua bukunya di Penerbit HAS bermula dari informasi yang ia dapatkan dari seorang teman semasa kuliah S2. Teman tersebut sebelumnya juga sudah lebih dulu menerbitkan buku di penerbit yang sama.
Menurut cerita temannya, Penerbit HAS sangat terpercaya, dengan biaya yang terjangkau, serta memiliki tim—mulai dari admin, editor, hingga manajer—yang ramah dan cepat tanggap. Setelah mencoba menerbitkan karyanya sendiri di sana, Ifry pun merasakan langsung bahwa apa yang temannya ceritakan memang benar adanya.
“Keren lah pokoknya. Akhirnya coba untuk terbit di sini juga,” katanya.
Pesan untuk Penulis Pemula
Bagi para penulis pemula yang ingin menerbitkan karya, Ifriani Abdul Salam memiliki pesan sederhana. Mulailah menulis dan selesaikan tulisan tersebut, karena tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai. Ia mengajak agar tidak perlu takut dinilai orang lain atau khawatir karyanya tidak diminati.
Menurutnya, menulis dan menerbitkan buku tidak selalu harus ditujukan untuk orang lain, karena setidaknya karya tersebut bisa menjadi sesuatu yang berarti bagi diri sendiri terlebih dahulu. Ia pun menggambarkan momen memegang buku pertama sebagai pengalaman yang membawa perasaan campur aduk, namun membanggakan.
Harapan untuk Dunia Literasi Indonesia
Menutup perbincangan, Ifriani Abdul Salam menyampaikan harapannya agar dunia literasi di Indonesia semakin berkembang dan lebih dekat dengan generasi muda.
“Semoga baca buku dan nulis nggak lagi dianggap “kutu buku” atau sesuatu yang membosankan, tetapi justru jadi cara kita buat belajar, berkembang, dan punya sudut pandang yang lebih luas,” harapnya.
Ifry juga berharap semakin banyak orang yang berani memulai langkah menulis, tanpa harus langsung merasa hebat atau terkenal, karena satu tulisan kecil sekalipun bisa memberi makna besar bagi orang lain di kemudian hari.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











