InspirasiPendidikan

Imam Syafei dan Upaya Membuka Jalan bagi Anak yang Terhenti Sekolah

67
×

Imam Syafei dan Upaya Membuka Jalan bagi Anak yang Terhenti Sekolah

Sebarkan artikel ini
Imam Syafei dan Upaya Membuka Jalan bagi Anak yang Terhenti Sekolah
Imam Syafei dan beberapa karya tulisnya. (Dok. Detak Pustaka).

Detak Tribe – Fenomena anak putus sekolah masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Banyak anak kehilangan hak untuk belajar—bukan karena tidak mampu, tetapi karena keadaan memaksa mereka berhenti. Melalui sudut pandangnya, Imam Syafei membagikan pemaparan terkait isu pendidikan di Indonesia.

Imam Syafei sendiri adalah seorang penulis muda dan aktivis pendidikan, yang memiliki pengalaman panjang sebagai pendidik di berbagai jenjang sekolah di Bandung dan sekitarnya sejak 2007.

Ia berupaya menghadirkan narasi yang tak sekadar berbicara data, tetapi dengan empati, refleksi, dan solusi nyata agar publik semakin sadar akan pentingnya pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.

Berangkat dari Pengalaman Pribadi

Ketertarikan Imam pada isu pendidikan bukan tanpa alasan. Ia mengaku, latar belakang hidupnya sangat dipengaruhi oleh dunia pendidikan dan orang-orang yang membantunya semasa sekolah.

“Dulu saya banyak dibantu orang lain di sekolah. Dari situ saya masuk ke dunia pendidikan dan menjadi guru,” tuturnya.

Sebelum berkeluarga, ia bahkan mengajar di sepuluh sekolah sekaligus dari pagi, siang, hingga sore. Pengalaman panjang itu membuatnya semakin memahami kompleksitas persoalan pendidikan, terutama di sekolah formal yang kerap berhadapan dengan masalah keluarga, ekonomi, hingga perundungan.

Sekitar tahun 2001, saat merantau ke Bandung, ia mulai aktif bergerak dalam isu-isu pendidikan. Dari sana, kesadarannya semakin kuat bahwa anak putus sekolah bukan sekadar wacana tahunan, melainkan realitas sosial yang terus berulang.

Realitas Sosial yang Dekat dan Nyata

Menurut Imam, banyak siswa yang tidak mampu bertahan di sekolah formal karena tekanan yang datang dari berbagai arah. Ada yang terhimpit masalah ekonomi, ada pula yang mengalami persoalan keluarga. Tak jarang, lingkungan pertemanan juga menjadi faktor yang membuat anak merasa terasing.

“Di rumah banyak masalah, di sekolah juga rumit. Akhirnya tidak bisa fokus belajar. Itu isu sosial yang nyata,” jelasnya.

Ketika pendidikan terhenti, anak-anak tersebut kerap stuck hingga tidak bisa melanjutkan sekolah, tidak juga memiliki keterampilan untuk bekerja. Dalam jangka panjang, kondisi ini cukup mengkhawatirkan karena dapat berujung pada kemiskinan, pengangguran, dan lingkaran masalah sosial yang semakin kompleks.

Menulis sebagai Jalan Perjuangan

Pengalaman bertemu dan mengamati anak-anak putus sekolah turut memengaruhi karya tulis Imam. Ia menuangkan refleksi dan solusi dalam bukunya yang berjudul Kesetaraan Pendidikan.

Buku tersebut membahas fenomena masalah pendidikan sekaligus menawarkan jalan keluar melalui pendidikan nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan bimbingan belajar.

“Siapa pun bisa melanjutkan pendidikan. Kalau tidak sekolah SD, bisa datang ke PKBM di kecamatan, daftar, dan menyelesaikannya,” paparnya.

Baginya, menulis adalah medium yang tepat untuk memperjuangkan isu pendidikan. Ia percaya, kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Jika anak-anak berhenti sekolah, bagaimana mereka bisa menata hidup secara mandiri.

Meskipun sudah memasuki era serba digital, Imam menilai buku—baik cetak maupun digital—masih memiliki pengaruh besar. Tulisan mampu membimbing, memotivasi, dan menjadi alternatif solusi bagi pembacanya.

Sistem, Orang Tua, dan Peran Sekolah

Imam menilai sistem pendidikan nasional sejauh ini telah mengatur jalur formal dan nonformal dengan cukup baik, termasuk kursus dan program kesetaraan. Namun, keberhasilan sistem tetap membutuhkan peran aktif banyak pihak.

Peran orang tua, misalnya, dinilai sangat krusial. Pendidikan informal pertama dan utama ada di keluarga. Motivasi, semangat hidup, dan arah masa depan anak banyak dibentuk di rumah.

“Sejak lahir sampai dewasa, keterlibatan orang tua sangat penting dalam keberlangsungan pendidikan anak,” ujarnya.

Di sisi lain, sekolah dan guru juga memegang peran strategis. Sekolah bukan hanya tempat memperoleh ijazah, tetapi ruang pembentukan karakter, pengetahuan, dan kualitas individu. Lingkungan sekolah yang suportif dapat menentukan masa depan anak melalui prestasi dan pembinaan yang berkelanjutan.

Tak kalah penting, dunia literasi dan penerbitan juga berkontribusi dalam mengurangi persoalan anak putus sekolah. Menurut Imam, anak yang banyak membaca akan lebih terbuka wawasannya. Literasi ibarat jendela yang memperluas cara pandang dan menumbuhkan motivasi untuk terus belajar.

Pesan untuk Anak yang Terhenti Sekolah

Secara personal, Imam menyampaikan pesan sederhana dan penuh harapan bagi anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah.

“Jangan pesimis, berkecil hati, dan berhenti di situ,” pesannya.

Ia mendorong mereka untuk mencari peluang, memperluas pergaulan yang positif, membaca literasi yang membangun, dan terus meningkatkan motivasi untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Sebab, di balik keterbatasan, selalu ada jalan yang bisa ditempuh—asal ada kemauan dan akses yang diperjuangkan bersama.

Buku-Buku Karya Imam Syafei

Sebagai penulis, ia telah menerbitkan banyak buku dengan berbagai pembahasan. Seluruh buku tersebut dapat pembaca beli melalui laman detakpustakatoko.com. Berikut daftar buku yang telah Imam terbitkan melalui Detak Pustaka pada 2025:

  1. Kesetaraan Pendidikan
  2. Buku Pintar Paket C Setara SMA
  3. Buku Pintar Paket B Setara SMP
  4. Buku Pintar Paket A Setara SD
  5. Jurus Ampuh Lolos Tes TNI POLRI
  6. Panduan Resmi Lolos Tes POLRI
  7. Kewirausahaan Digital: Panduan Praktis Anak Muda Lawan Pengangguran

Melalui karya serta pengalaman hidupnya, Imam Syafei menegaskan satu hal penting, yakni pendidikan bukan sekadar hak, melainkan fondasi masa depan bangsa. Dan selama masih ada anak yang terhenti sekolahnya, perjuangan itu belum selesai.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.