Inspirasi

Isal Yuliyana Putri dan Keberaniannya Mengabadikan Kisah lewat Tulisan

94
×

Isal Yuliyana Putri dan Keberaniannya Mengabadikan Kisah lewat Tulisan

Sebarkan artikel ini
Isal Yuliyana Putri dan Keberaniannya Mengabadikan Kisah lewat Tulisan
Isal Yuliyana Putri, penulis terpilih di ajang lomba Halo Penulis. (Dok. narasumber).

Detak Tribe – Bagi Isal Yuliyana Putri, menulis adalah kegiatan yang ia selipkan di antara pekerjaan kantor dan waktu bersama anaknya. Dalam wawancara bersama Tim Media Halo Penulis, ia bercerita tentang perjalanannya mengikuti lomba, kisah di balik karyanya, hingga harapannya di dunia kepenulisan.

Isal adalah ibu dari satu anak. Selain menulis, ia bekerja di perusahaan swasta, dan di waktu lain ia juga mendesain sekaligus menjual merchandise K-pop fans buatan tangan. Di Halo Penulis, ia mengikuti LM Batch 8, LM Batch 11, dan LP Batch 23. Dari ketiganya, ia meraih predikat penulis terpilih.

Mengatur Waktu untuk Menulis

Cara membagi waktu ala Isal juga cukup fleksibel. Ia biasa menulis di sela jam kantor, atau pada malam hari setelah anaknya tidur. Semuanya ia lakukan lewat ponsel, sehingga ia bisa menulis sambil bersantai.

Menurutnya, aktivitas ini sekaligus menjadi semacam healing. Saat wawancara pun ia masih dalam jam kerja. Namun, pekerjaannya sangat fleksibel, sehingga ia hanya benar-benar sibuk pada jam-jam tertentu.

“Alhamdulillah pekerjaan aku benar-benar fleksibel. Jadi, hanya di jam-jam tertentu saja sibuk di kantor,” ungkapnya.

Ketika Semangat Menurun dan Keraguan Datang

Sama seperti penulis lain, proses menulisnya tidak selalu berjalan mulus. Ada hambatan yang kerap ia hadapi, misalnya semangat yang mudah turun dan keraguan yang tiba-tiba muncul soal kualitas tulisannya.

Kalau sudah begitu, ia biasanya berhenti sejenak. Cara lain yang biasa ia lakukan adalah bercerita kepada teman yang punya hobi sama untuk meminta saran. Terkadang, Isal juga meminta sedikit semangat dari suaminya, yang kebetulan tertarik pada dunia baca-tulis.

Dukungan yang Datang Setelah Terpilih

Awalnya, orang-orang di sekitar Isal hanya tahu bahwa ia hobi menulis. Ia termasuk yang malu membagikan ceritanya di media sosial dengan identitas aslinya. Setelah mereka tahu ia menjadi penulis terpilih, dukungan pun lebih terlihat.

Tulisan pertama yang berani ia perlihatkan mengangkat tema mental illness dari kisah nyata pribadinya. Banyak orang yang membacanya merasa relate, dan tidak jarang ada yang tiba-tiba memintanya menuliskan kisah mereka.

“Mungkin karena aku berani speak-up jadi mereka ngerasa bentuk berdamai memang begitu. Bukan takut dan malu, tapi nunjukin secara berani,” katanya.

Sumber Inspirasi

Terkait sumber inspirasi menulis, Isal Yuliyana Putri mengaku bahwa karya untuk lomba pertama berasal dari kehidupan pribadinya. Isal berharap kisah itu tetap abadi dan selalu ia ingat tanpa rasa sesal.

Untuk inspirasi lomba kedua, ia belum punya gagasan apa pun saat itu. Ia lalu iseng memasang story di WhatsApp dan mendapat balasan dari seorang teman yang baru akrab dengannya. Keduanya ternyata sama-sama suka membaca dan sama-sama pernah mendengar stigma bahwa mental illness itu aib dan terlalu drama.

Teman tersebut kemudian menceritakan kisah hidupnya secara terbuka dan meminta Isal menuliskannya sebagai hadiah ulang tahun, yang menurut Isal permintaan itu masih bertahan sampai sekarang. Ia juga berharap kisahnya bisa dilombakan, dan Isal berencana memberikan bukunya kepada teman itu setelah terbit.

Isal mengakui proses ini sempat terasa berat. Mendalami tema mental illness ternyata sangat menyakitkan baginya. Namun, ia melihat temannya berani bercerita setelah sekian lama menyembunyikannya dari banyak orang, dan itu membuatnya memilih membantu mengabadikan kisah tersebut.

Perjalanan dari Membaca hingga Menulis Sajak

Isal tidak langsung menyukai menulis. Awalnya ia gemar membaca novel dan cerita di Facebook, serta mengikuti penulis-penulis hebat di Twitter. Dari situ ia mulai coba-coba menulis, meski belum berani mengunggahnya.

Setelah lulus, ia mulai tertarik tidak hanya pada cerita fiksi, tetapi juga pada sajak. Hal itu semakin kuat saat ia berkenalan dengan sang suami, yang sering mengiriminya puisi hingga mereka akhirnya saling berbalas sajak. Soal alasan ikut lomba, dorongan utamanya adalah kesempatan berbagi kisah yang tidak banyak orang tahu.

Isal mengaku bukan orang yang mudah menulis kisah nyata. Tetapi bagian hidup itu adalah yang paling menyakitkan sekaligus penuh hikmah, sehingga ia memutuskan mengikuti lomba sebagai bentuk penerimaannya terhadap hidupnya sekarang.

Terima Kasih untuk Halo Penulis dan Harapan ke Depan

Di akhir perbincangan, Isal Yuliyana Putri menyampaikan terima kasihnya kepada Halo Penulis karena telah menjadi wadah bagi penulis yang pemalu sepertinya. Menurutnya, keberadaan penerbit seperti Halo Penulis menjadi jalan yang menumbuhkan kepercayaan diri untuk terus menulis.

Tak berhenti di situ, ia juga mengungkapkan satu mimpinya, yakni tulisannya bisa terbit sebagai jejak bahwa ia pernah menulis, sekaligus memberi manfaat bagi pembacanya. Keinginan menerbitkan buku solo pun ada.

Begitu tahu dirinya terpilih, ia langsung mengabari suaminya, dan sang suami menanggapi dengan kalimat, “Jadi kangen nulis lagi”. Mereka berdua sepakat untuk bisa menerbitkan buku solo berisi sajak-sajak yang ditulis bersama.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.