Detak Tribe – Tidak banyak orang yang memanfaatkan waktu perjalanan menuju kantor untuk menulis buku. Namun, itulah yang Istiqomah lakukan. Perempuan dengan nama panggilan Iis ini merupakan seorang Financial Advisor di salah satu kedutaan besar di Jakarta.
Di sela kesibukannya bekerja itu, ia juga aktif sebagai perencana keuangan profesional sekaligus edukator finansial. Ketekunannya itu membuahkan hasil berupa buku pertama yang ia beri judul Financial Reset 2026. Buku tersebut resmi terbit bersama Detak Pustaka.
Awal Mula Kepenulisan
Keinginan menulis buku ini muncul dari pengamatan Iis terhadap perilaku finansial rekan-rekan kerjanya yang sebagian besar merupakan generasi Z. Ia melihat bagaimana penghasilan bulanan mereka kerap ludes untuk kebutuhan konsumtif dan gaya hidup.
Para generasi Z di lingkungannya kerap mengeluarkan uang untuk nongkrong di kedai kopi, perawatan tubuh, hingga membeli produk skincare bermerek mahal. Hal itu semakin membuatnya prihatin karena keluhan kekurangan uang selalu terdengar setiap kali mendekati akhir bulan.
“Dorongan saya menulis buku karena melihat kebiasaan para young profesional yang hidup dari gaji ke gaji,” jelasnya.
Dari situlah muncul niat untuk mengedukasi generasi muda lewat sebuah buku. Baginya, edukasi secara tatap muka hanya bisa menjangkau orang-orang di sekitarnya saja. Sedangkan lewat buku, pesannya bisa menjangkau lebih banyak anak muda di berbagai daerah di Indonesia, tidak terbatas pada rekan kerja maupun keluarganya sendiri.
Menulis di Sela Perjalanan Kerja
Proses penulisan buku ini berlangsung hampir selama satu tahun. Istiqomah mengerjakannya secara bertahap di sela kesibukan bekerja. Hal yang menarik, sebagian besar isi buku ini justru ia tulis di dalam bus, kendaraan yang biasa Istiqomah gunakan untuk pergi dan pulang kerja.
Setiap pagi, begitu duduk di dalam bus, ia langsung membuka laptop dan menulis, biasanya menghasilkan satu hingga dua halaman. Kebiasaan yang sama juga ia lakukan saat perjalanan pulang, melanjutkan tulisan yang sempat tertunda di pagi hari.
Rutinitas tersebut terus berulang hingga akhirnya terkumpul naskah sepanjang kurang lebih seratus halaman. Setelah naskah selesai, Iis sempat bingung menentukan langkah selanjutnya, karena belum memiliki relasi dengan penerbit mana pun.
Ia kemudian meminta editornya untuk mencoba mendesain naskah tersebut, dan hasilnya cukup baik. Pada mulanya, ia hanya berniat menjadikan tulisannya sebagai ebook tanpa rencana mencetaknya menjadi buku fisik.
Namun, keadaan berubah setelah ia bertemu Pak Eko, sesama perencana keuangan di IARFC Indonesia, yang sebelumnya telah menerbitkan buku melalui Detak Pustaka. Berkat saran dan rekomendasi dari Pak Eko, naskah yang semula hanya berupa ebook itu akhirnya terbit menjadi sebuah buku cetak.
Tantangan Selama Proses Menulis
Selama proses penulisan, Istiqomah mengaku tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya ia mengalami kebuntuan ide, sehingga proses menulis terhenti sementara. Menyusun berbagai gagasan menjadi sebuah alur cerita yang runtut juga menjadi tantangan tersendiri baginya.
“Tapi kadang untuk bantu saya menyusun menjadi ide yang runtut, saya minta bantuan ChatGPT,” katanya.
Di luar bantuan teknologi tersebut, Iis juga memiliki caranya sendiri untuk keluar dari kebuntuan menulis. Salah satu caranya adalah dengan membaca ulang seluruh tulisan yang telah ia buat sejak awal. Menurutnya, dari proses membaca ulang inilah ia sering kali menemukan kembali ide-ide baru untuk dikembangkan.
Apabila kebuntuan yang ia alami cukup berat, Iis memilih menunda kelanjutan tulisannya hingga akhir pekan, saat memiliki waktu lebih luang untuk duduk kembali di depan laptop dan menelaah ulang tulisan-tulisan sebelumnya.
Sambutan dari Orang Terdekat
Ketika buku ini resmi terbit, Iis kebetulan sudah berpindah tempat kerja, sehingga ia belum sempat memberitahukan kabar tersebut kepada rekan-rekan generasi Z di kantor lamanya.
Meski begitu, tanggapan positif justru datang dari adiknya sendiri yang juga bagian dari generasi Z. Adiknya menilai, isi buku tersebut keren dan seolah mampu menampar generasi Z yang masih belum bijak dalam mengelola keuangannya.
Kesan terhadap Detak Pustaka
Mengenai pengalamannya bekerja sama dengan Detak Pustaka, Iis mengaku puas dengan profesionalisme tim yang menanganinya sepanjang proses penerbitan. Ia secara khusus mengapresiasi kerajinan tim dalam menghubunginya, bahkan pada hari Sabtu, sebagai pengingat terkait tahapan penerbitan buku.
“Timnya sangat profesional. Bahkan rajin kontak juga di hari sabtu untuk mengingatkan saya. Ini bagus karena kadang saya lupa balas kalo weekdays dan lagi ada meeting,” ungkapnya.
Pesan Iis untuk Generasi Z
Di akhir perbincangan, Iis menitipkan pesan khusus bagi generasi muda seputar pengelolaan keuangan, sejalan dengan pesan yang ia tuangkan dalam bukunya. Ia mengingatkan bahwa uang dan kekayaan adalah dua hal yang berbeda.
Menurut Istiqomah, uang sebaiknya tidak hanya dinikmati untuk kesenangan sesaat, tetapi juga perlu dipersiapkan untuk kebutuhan masa depan. Meski demikian, ia juga menekankan pentingnya tidak sepenuhnya mengorbankan kenikmatan hidup di masa sekarang demi masa depan, karena keseimbangan antara keduanya tetap perlu dijaga.
Iis turut menceritakan bahwa di bagian awal bukunya, ia menyisipkan pesan pribadi yang ditujukan untuk anak-anaknya kelak ketika mereka sudah dewasa. Pesan tersebut ditulis dengan sepenuh hati, dan ia berharap dapat menyentuh setiap pembaca yang benar-benar meresapi isi bukunya hingga tuntas.
Selain pesan-pesan di atas, Istiqomah juga mengundang para pembaca untuk mengenalnya lebih jauh lewat Instagram resminya @iis.istiqomah06. Para pembaca juga bisa belajar lebih dalam tentang keuangan lewat Instagram @finclass.id yang ia kelola.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











