Detak Tribe – Penulis buku Agape, Bastian Levin Manurung, membagikan pandangannya tentang individuasi yang merupakan sebuah proses menjadi diri sendiri secara utuh. Ia menegaskan bahwa Jung membedakan antara ego dan Self.
Ego, menurutnya, hanyalah pusat kesadaran, yakni kumpulan persepsi, ingatan, dan pikiran sadar yang membentuk identitas serta kontinuitas diri.
Sementara itu, Self adalah keseluruhan jiwa—perpaduan antara yang sadar dan tak sadar. Di sanalah manusia mengenal personalitasnya, berdamai dengan shadow, memahami anima dan animus, hingga akhirnya mencapai keutuhan.
Menulis sebagai Kejujuran Emosional
Sebagai penulis, Bastian mengakui bahwa proses kreatif sering kali lahir dari ruang yang tidak sepenuhnya disadari. Ia teringat percakapannya dengan seorang dosen yang juga sastrawan, yang menyebut bahwa menulis adalah bentuk kejujuran emosional.
Pernyataan itu terasa begitu relevan ketika ia menulis Agape. Dalam fase-fase emosional—baik saat marah maupun bahagia—justru tulisannya mengalir lebih jujur dan terasa “hidup”. Seolah-olah, ada bagian dalam dirinya yang berbicara tanpa sepenuhnya dikendalikan oleh kesadaran rasional.
Di titik inilah, teori Jung menemukan konteksnya dalam praktik menulis. Bahwa karya sastra bisa menjadi ruang perjumpaan antara kesadaran dan ketidaksadaran.
Mengenal Diri: Menenangkan atau Menakutkan?
Namun, mengenal diri sendiri bukan proses yang selalu nyaman. Bastian mengibaratkannya seperti dua sisi mata pisau. Jika dilakukan setengah-setengah, proses itu justru bisa terasa menakutkan. Tetapi jika berani menyelam lebih dalam, ia bisa menjadi pengalaman yang menenangkan.
Masalahnya, banyak orang keliru dalam mengenali diri. Alih-alih melihat ke dalam, mereka justru bercermin pada orang lain—terutama melalui standar media sosial seperti TikTok dan Instagram. Perbandingan yang tak henti-henti itu, menurut Bastian, justru membuat proses individuasi terasa semakin sulit.
Padahal, mengenal diri seharusnya berarti menarik perhatian ke dalam. Bertanya tentang apa yang sebenarnya ada di hati? Karena, pada akhirnya, hanya diri sendirilah yang benar-benar mengetahui isi batin paling dalam.
Mengapa Cerita dari Budaya Berbeda Terasa Mirip?
Menariknya, konsep Jung tentang Self dan ketidaksadaran kolektif juga menjelaskan mengapa kisah-kisah dari budaya berbeda kerap memiliki kemiripan emosional.
Bastian menilai bahwa banyak tradisi dan kepercayaan kuno memiliki pola cerita yang serupa, meski berkembang di wilayah berbeda. Nilai-nilai dan simbol-simbol tersebut diwariskan turun-temurun, membentuk resonansi emosional yang terasa universal. Seolah-olah, manusia dari latar budaya mana pun berbagi kedalaman psikologis yang sama.
Individuasi di Tengah Tekanan Media Sosial
Di era media sosial yang serba cepat, ada satu pertanyaan yang muncul, yakni apakah proses individuasi menjadi lebih sulit? Menjawab hal ini, Bastian melihatnya tidak sesederhana itu. Dalam teori Jung, ada dua gerak dalam individuasi, yakni progresi dan regresi.
“Ada satu yang kelewat ya, semakin sulit atau tidak karena ternyata proses individuasi ini nanti ada dua lagi yaitu progresi dan regresi,” katanya menjelaskan.
Progresi terjadi ketika seseorang berjalan lancar menuju Self, sementara regresi adalah fase mundur—ketika seseorang merasa buntu atau kembali pada konflik lama. Keduanya adalah bagian wajar dari perjalanan.
Oleh karena itu, menurutnya, sulit atau tidaknya proses individuasi di tengah media sosial kembali pada cara individu menyikapinya. Apakah media sosial menjadi alat refleksi, atau justru jebakan perbandingan yang menjauhkan dari diri sendiri.
Sastra yang Abstrak dan Tak Terbatas
Dalam melihat karya sastra, Bastian memandangnya sebagai sesuatu yang abstrak. Setiap pembaca memiliki cara dan rasa yang berbeda dalam menikmatinya. Oleh sebab itu, karya sastra nyaris tak bisa dinilai secara tunggal—ia hidup dalam interpretasi masing-masing orang.
Pandangan ini juga tercermin buku karya Bastian yakni Agape. Agape adalah novel yang mengangkat makna cinta tanpa pamrih. Kata “agape” sendiri berarti cinta yang murni dan tak bersyarat. Namun, dalam kisah Jerusalem Aven dan Athena Diaphenia, cinta justru menjadi jalan panjang menuju pemahaman diri.
Jerusalem—atau Jeru—harus menerima kenyataan bahwa perempuan yang ia cintai selama empat tahun menikah dengan pria lain atas kehendak keluarga. Di balik sikap tenang dan jas hitam yang ia kenakan, ia bergulat antara menerima dan berharap.
Dalam rutinitas sunyi dan secangkir kopi setiap pagi, ia belajar tentang kehilangan, pengampunan, dan cinta yang tak menuntut balasan.
Sementara Athena menyadari bahwa kebersamaan tidak selalu berarti cinta. Di tengah pernikahan yang tampak sempurna, hatinya masih menyimpan gema masa lalu. Pertemuan kembali keduanya—di bawah hujan dan di antara buku-buku filsafat—membawa pembaca menyelami cinta yang matang, yaitu cinta yang tak harus memiliki untuk tetap abadi.
Menuju Proyek Berikutnya
Tak berhenti di Agape, Bastian mengaku tengah memikirkan proyek selanjutnya. Ia tertarik mengeksplorasi konsep Jung tentang persona dan shadow dalam bentuk cerita yang lebih konkret.
“Kayaknya menarik banget kalau saya ceritain seseorang yang akhirnya ketemu salah satu yang tadi diceritain, ada Shadow ada Persona tapi dalam bentuk orang nanti sampai ke self tapi dalam bentuk cerita,” pungkasnya.
Dengan latar belakang sebagai penulis sekaligus pemikir yang akrab dengan psikologi analitik, Bastian Levin Manurung menunjukkan bahwa sastra bukan sekadar rangkaian kata. Ia bisa menjadi ruang refleksi, tempat manusia belajar berdamai dengan bayangannya sendiri—dan perlahan melangkah menuju keutuhan.
Apabila kamu tertarik dengan buku karya Bastian yang berjudul Agape, kamu bisa langsung membelinya lewat website resmi Detak Pustaka. Untuk akses lebih mudah, kamu bisa kunjungi tautan berikut ini: Buku Bastian.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.












