KesehatanNews

Kenaikan Harga Masker Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, Ini Penjelasan Kemenkes

29
×

Kenaikan Harga Masker Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, Ini Penjelasan Kemenkes

Sebarkan artikel ini
Kenaikan Harga Masker Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, Ini Penjelasan Kemenkes
Ilustrasi masker. (SHUTTERSTOCK/Maridav).

Detak Tribe – Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mengakui adanya kelangkaan stok serta kenaikan harga masker di pasaran. Kondisi tersebut terjadi di tengah meluasnya sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pascaerupsi.

Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan kenaikan harga masker saat ini memang terjadi di sejumlah toko, baik secara offline maupun online.

“Berkenaan dengan beredarnya isu kelangkaan stok dan kenaikan harga masker di pasaran pasca letusan Gunung Anak Krakatau, saat ini memang terjadi kenaikan harga, di beberapa toko offline maupun online,” kata Aji Muhawarman, dikutip dari Detik.com, Selasa (08/09/2026).

Sebelumnya, masyarakat mengeluhkan kesulitan mendapatkan masker secara daring di tengah meluasnya sebaran abu vulkanik Anak Krakatau. Sejumlah toko bahkan dilaporkan menjual masker dengan harga yang tidak wajar, yakni mencapai 10 kali lipat dibandingkan harga biasanya.

Tak hanya menaikkan harga, beberapa toko juga disebut melakukan pembatalan pesanan secara sepihak. Padahal, pembeli sebelumnya telah melakukan checkout dan tidak mendapatkan alasan yang jelas atas pembatalan tersebut.

Meski demikian, Kemenkes menyebut kelangkaan stok masker tidak terjadi secara menyeluruh. Menurut Aji, kondisi tersebut hanya terjadi di sejumlah tempat pada tingkat penjual eceran.

“Kelangkaan stok masker hanya terjadi di sejumlah tempat di tingkat penjual eceran, sementara stok di tingkat produsen dan distributor masih mencukupi,” kata Aji.

Terkait jenis masker yang sebaiknya digunakan, Kemenkes menyebut masyarakat dapat menggunakan masker respirator seperti N95, KN95, KF94 atau masker yang setara. Namun, apabila masker jenis tersebut belum tersedia, masyarakat masih dapat menggunakan masker medis yang ada dengan catatan digunakan dengan cara yang benar.

Masker medis atau masker biasa memiliki kemampuan filtrasi sekitar 50-60 persen. Kemampuan tersebut berbeda dengan masker respirator seperti N95, KN95, dan KF94 yang dapat menyaring hingga 95 persen partikel.

Dokter paru dari RSUP Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), juga mengingatkan bahwa penggunaan masker perlu disertai dengan penggantian secara berkala.

Menurutnya, masker yang digunakan terlalu lama dapat menjadi lembap akibat uap air dari pernapasan. Kondisi tersebut membuat masker perlu diganti agar tetap dapat digunakan secara optimal.

“Harus secara berkala diganti. Termasuk N95, kalaupun Anda pakai pada pekerja di luar misalnya kerjanya sudah 6 jam, 8 jam harus diganti,” kata dr Agus, Senin (07/09/2026).

Dengan demikian, masyarakat yang berada di wilayah terdampak sebaran abu vulkanik Anak Krakatau tetap dianjurkan menggunakan masker, terutama masker respirator seperti N95, KN95, KF94 atau yang setara.

Jika jenis tersebut belum tersedia, masker medis dapat menjadi alternatif dengan penggunaan yang tepat dan tetap memperhatikan penggantian masker secara berkala.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.