Detak Tribe – Di balik halaman-halaman buku berjudul Aku Capek: Semua Hal Berputar di Kepala, tersimpan suara hati seorang perempuan muda yang memilih menulis sebagai cara untuk bertahan. Penulis itu adalah Sarini Do Mas’ud, mahasiswi jurusan Bahasa Inggris yang akrab disapa Rini.
Bagi Sarini, menulis bukan sekadar hobi, melainkan sebuah aktivitas yang telah menjelma menjadi ruang aman untuk bercerita. Kegiatan menulis adalah tempat ia kembali ketika dunia terasa terlalu bising dan tidak pernah benar-benar mendengarkan keluhannya.
“Saya menyadari menulis itu bukan cuma hobi, tapi jalan pulang,” tutur Sarini.
Ia mengungkapkan, ada masa-masa ketika dirinya tidak mampu bercerita, tidak sanggup mengungkapkan perasaan secara lisan. Dalam kondisi itulah tulisan menjadi perantara bagi segala rasa sakit yang terpendam.
“Di saat dunia tidak pernah mendengarkan apa yang ingin saya katakan, lewat menulis saya bisa mencurahkan semuanya,” ujarnya.
Luka yang Menjadi Bahan Bakar
Keputusan Sarini untuk serius menekuni dunia kepenulisan tak lepas dari luka-luka yang pernah ia alami. Pengalaman pahit yang ia terima sejak kecil justru menjadi bahan bakar terkuat yang mendorongnya untuk bangkit.
“Salah satunya karena luka. Saya nekat dan punya tekad, pokoknya saya harus jadi penulis,” katanya.
Baginya, menulis adalah bentuk perlawanan rasa sakit yang paling sunyi. Sarini ingin membuktikan bahwa luka yang ia terima tidak membuatnya hancur, melainkan melahirkan kekuatan baru.
“Di balik luka yang saya dapatkan, saya ingin membalas dengan cara saya sendiri. Saya ingin menjadi penulis dan tidak dipandang remeh,” ungkap Sarini.
Menulis dengan Jujur pada Diri Sendiri
Dalam proses kreatifnya, Sarini menekankan kejujuran sebagai fondasi utama. Ia tidak pernah memaksa rasa untuk terlihat baik-baik saja. Menurutnya, tulisan yang lahir dari rasa sakit justru keluar secara alami, tanpa rekayasa.
“Apa yang kita tuangkan itu benar-benar keluar dari hati. Kita tidak berbohong kepada diri sendiri,” ucapnya.
Biasanya, Sarini menulis di dalam kamar, pada waktu-waktu istirahat ketika tubuh dan pikirannya sama-sama lelah. Saat itulah ia memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk jujur.
“Di situ saya memilih kesempatan agar bisa bebas menuangkan segala macam lelah dalam tulisan,” katanya.
Antara Menggali Luka dan Menyembuhkan
Menulis, bagi Sarini, memang tidak selalu mudah. Prosesnya kerap membuat luka lama kembali teringat. Akan tetapi, ia percaya bahwa rasa sakit itu bukan untuk memperparah luka, melainkan menjadi jalan penyembuhan. Dengan demikian, seiring waktu ia merasakan bahwa menulis justru membantunya berdamai dengan keadaan.
“Awalnya menulis itu seperti menggali luka. Kita mengingat kejadian-kejadian yang menyakitkan. Bukan berarti membuat kita semakin terluka. Justru dengan menulis, kita mampu mengobati luka itu sendiri,” tuturnya.
Jika Dunia Menulis Tak Pernah Ada
Sarini mengaku, jika dunia menulis tidak pernah hadir dalam hidupnya, ia tidak tahu kepada siapa lagi harus mengadu. “Kalau menulis itu tidak ada, mungkin saya tidak tahu selain mengadu kepada Allah harus kepada siapa lagi,” ujarnya.
Ia merasa selama hidupnya kerap memikul segalanya sendiri—tanpa didengar, tanpa dimengerti, bahkan tanpa ditanya. “Segala macam saya tanggung sendiri dan mengadu kepada Allah,” tambahnya.
Pesan untuk Diri di Masa Lalu
Ketika ditanya apa yang ingin ia sampaikan kepada dirinya di masa lalu, Sarini mengungkapkan bahwa kemampuan bertahan hingga hari ini saja sudah merupakan sebuah keajaiban. Ia juga meminta maaf kepada diri kecilnya—yang tidak pernah merasakan cinta dan kasih sayang sebagaimana mestinya.
“Saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada diri saya. Saya tidak bisa memilih terlahir dari keluarga seperti apa. Dan itu sangat saya sesali untuk diri kecil saya,” ungkapnya dengan jujur.
Buku yang Ingin Memeluk Pembacanya
Melalui buku Aku Capek: Semua Hal Berputar di Kepala, Sarini Do Mas’ud ingin menyampaikan satu pesan sederhana namun mendalam, yakni tidak ada seorang pun yang benar-benar sendirian.
“Saya ingin pembaca tahu bahwa kamu itu tidak sendiri,” ujarnya.
Buku tersebut dihadirkannya sebagai teman bagi jiwa-jiwa yang lelah, sebagai pelukan hangat bagi mereka yang merasa menjalani hidup seorang diri.
“Buku ini akan selalu menemanimu, memeluk tiap jiwa yang terluka,” tutup Sarini.
Bagi kamu yang sedang mengalami hal yang sama dengan Sarini dan ingin mencari teman kala rasa sakit menghampiri, buku karya Sarini Do Mas’ud ini bisa jadi jawabannya. Kamu bisa membeli buku ini di laman resmi Detak Pustaka atau klik tautan ini: Buku Aku Capek: Semua Hal Berputar di Kepala.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.












