Kuliner

KJRI San Francisco Promosikan Tempe sebagai Warisan Budaya Indonesia

21
×

KJRI San Francisco Promosikan Tempe sebagai Warisan Budaya Indonesia

Sebarkan artikel ini
KJRI San Francisco Promosikan Tempe sebagai Warisan Budaya Indonesia
KJRI San Francisco promosikan tempe sebagai warisan budaya Indonesia. (ANTARA/HO-KJRI San Fransisco).

Detak Tribe – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) San Francisco sukses memperkenalkan tempe kepada sekitar 140 orang, mulai dari anggota San Francisco Vegan Society (SFVS), organisasi yang mengampanyekan gaya hidup vegan, hingga para pelaku komunitas kuliner setempat.

Acara yang berlangsung meriah ini menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari pengenalan sejarah dan budaya tempe, lokakarya cara membuat tempe, hingga demonstrasi memasak hidangan vegan ala Indonesia.

Kegiatan kemudian ditutup dengan jamuan makan siang yang seluruh menunya berbahan dasar tempe serta kuliner nabati Nusantara. Hal itu disampaikan langsung oleh KJRI San Francisco, dikutip dari Antara News, Selasa (12/05/2026).

Konsul Jenderal RI San Francisco, Yohpy Ichsan Wardana, menegaskan bahwa tempe bukan sekadar lauk makan orang Indonesia. Lebih dari itu, tempe adalah bagian dari warisan kuliner bangsa yang lahir dari teknik pengolahan pangan asli Indonesia dan terus hidup melalui pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun lintas generasi.

“Tempe adalah contoh indah pertemuan antara kekayaan hayati dan kebudayaan. Di dalamnya ada kedelai, ada jamur Rhizopus oligosporus, dan ada tradisi fermentasi yang telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia,” ujar Konjen Yohpy.

Ia turut menyinggung dimensi hubungan bilateral Indonesia-Amerika Serikat yang tersimpan dalam sebutir tempe. Fakta menariknya, sebagian besar tempe yang beredar di Indonesia saat ini justru dibuat dari kedelai hasil budi daya para petani Amerika.

Sementara di sisi lain, teknik pembuatan tempe itu sendiri berakar dari tradisi pangan Indonesia yang kini makin dikenal luas di Amerika Serikat.

“Dengan pemahaman ini, tempe juga menjadi simbol persahabatan kedua bangsa. Tempe menunjukkan bagaimana pangan dapat mempertemukan bangsa, budaya, dan negara,” tambahnya.

Acara ini juga digelar di tengah momentum Pemerintah Indonesia yang tengah berjuang menominasikan budaya pembuatan tempe ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Keputusan atas nominasi tersebut diharapkan sudah bisa diumumkan tahun ini.

Pengakuan dari UNESCO dipandang krusial untuk semakin mengukuhkan posisi tempe sebagai tradisi pangan yang sehat, berkelanjutan, dan berbasis komunitas.

Dukungan atas nominasi itu pun datang dari tuan rumah. Wakil Presiden SFVS, Ravinder Sehgal, secara tegas menyatakan bahwa budaya pembuatan tempe sudah sepatutnya mendapat pengakuan di tingkat global.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.