Inspirasi

Kokoro Kara dan Perjalanan Sudjianto Menemukan Dunia Baru dalam Fiksi

74
×

Kokoro Kara dan Perjalanan Sudjianto Menemukan Dunia Baru dalam Fiksi

Sebarkan artikel ini
Kokoro Kara dan Perjalanan Sudjianto Menemukan Dunia Baru dalam Fiksi
Sudjianto, penulis buku Kokoro Kara. (Dok. Detak Pustaka).

Detak Tribe – Empat puluh tahun mengajar tidak membuat Sudjianto berhenti berkarya. Justru, di masa purna baktinya di perguruan tinggi negeri di Bandung, ia semakin produktif menulis. Bahkan, ia berhasil menerbitkan novel perdananya, Kokoro Kara.

Dalam perjalanannya sebagai akademisi dan penulis, pria yang akrab disapa Sudji ini merambah genre baru, hingga menerbitkan novel Kokoro Kara melalui Detak Pustaka. Langkah yang ia ambil ini terbilang berani bagi seorang akademisi yang selama ini lebih sering menerbitkan karya-karya non-fiksi.

Dari Non Fiksi ke Novel

Sudjianto bukan nama baru di dunia tulis-menulis. Sejak menjadi mahasiswa, ia sudah terbiasa menuangkan pikiran ke dalam tulisan, dan kebiasaan itu ia pertahankan sepanjang kariernya sebagai pengajar. Namun, selama bertahun-tahun, tulisannya hampir seluruhnya berupa karya non-fiksi.

Pergeseran itu datang dari pengalamannya yang panjang saat melawat ke Negeri Sakura. Sebagai peneliti yang sering bolak-balik ke Jepang, bahkan pernah tinggal cukup lama di sana, Sudjianto menyimpan banyak pengamatan tentang masyarakat dan budaya Jepang yang ia rasa belum tersampaikan lewat tulisan.

“Jepang negara modern, tetapi tetap ada unsur-unsur budayanya yang masih bisa tersisa di dunia modern,” tuturnya.

Keinginan untuk mengangkat sisi budaya itu dengan cara yang lebih luwes akhirnya mendorongnya mencoba fiksi. Hasilnya adalah Kokoro Kara, sebuah novel berbahasa Indonesia dengan sentuhan budaya Jepang di dalamnya.

Tiga Buku Sekaligus, Tak Sampai Setahun

Menariknya, Sudjianto tidak menulis Kokoro Kara sendirian dalam satu waktu. Ia terbiasa mengerjakan dua hingga tiga naskah secara bersamaan. Baginya, cara itu justru menghindari dari kebuntuan.

“Kalau jenuh di satu naskah, saya beralih ke naskah lain. Jadi, tidak perlu berhenti,” jelasnya.

Dengan ritme seperti itu, ia bisa menerbitkan satu hingga tiga buku dalam setahun, dan Kokoro Kara pun rampung dalam waktu kurang dari setahun.

Memilih Detak Pustaka

Keputusan menerbitkan novel ini di Detak Pustaka bukan tanpa pertimbangan. Sudjianto sebelumnya sudah bekerja sama dengan penerbit lain untuk karya-karya non-fiksinya, namun untuk novel ia merasa perlu mencari rumah yang lebih tepat.

Setelah membaca profil Detak Pustaka lewat Google dan Instagram, ia merasa penerbit ini cocok untuk kebutuhannya. Dan ternyata keyakinan itu tidak salah. Hasilnya pun memuaskan. Bahkan, novel Kokoro Kara sempat masuk daftar favorit di bulan-bulan awal penerbitannya.

“Kerja samanya bagus, pelayanannya, penerbitannya, sampai pemasarannya,” ungkapnya.

Pesan untuk Penulis Pemula

Sebagai seseorang yang telah lama berkecimpung di dunia akademik dan literasi, Sudjianto punya pandangan yang tegas soal budaya menulis di Indonesia. Ia menyayangkan bahwa banyak orang masih terjebak pada kebiasaan mendengar dan berbicara, tanpa pernah mencoba menulis.

Inspirasinya, sekali lagi, datang dari Jepang. “Masyarakat Jepang selain banyak membaca, juga menulis. Profesi penulis itu bagus, dan siapapun punya potensi untuk menulis, tinggal memulainya,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar penulis pemula tidak terlalu terpaku pada soal kualitas di awal. Menurutnya, “bagus” adalah hal yang subjektif, dan rasa takut dihujat atau dikritik justru menjadi penghalang terbesar. Padahal, kritik adalah bagian dari proses tumbuh.

Bagi Sudjianto, menulis membawa tiga manfaat utama. Pertama, menulis adalah bentuk ibadah, dengan menyebarkan ilmu kepada orang lain.

Kedua, menulis mendorong seseorang untuk terus membaca, karena keduanya tak bisa dipisahkan. Ketiga, menulis adalah investasi jangka panjang. Sebuah buku yang terbit bisa terus menghasilkan passive income bahkan setelah penulisnya tiada.

“Kalau banyak membaca, tetapi tidak menulis, berarti kita pelit, ilmunya hanya kita sendiri yang tahu,” ujarnya.

Harapan untuk Literasi Indonesia

Sudjianto menutup perbincangannya dengan seruan yang lebih luas. Baginya, rendahnya budaya baca di Indonesia bukan masalah satu orang, melainkan tanggung jawab bersama.

Ia menyebut tiga komponen yang harus berperan aktif. Keluarga, sebagai lingkungan pertama yang seharusnya membiasakan anak membaca sejak dini, bukan sekadar menyodorkan gawai.

Selanjutnya, institusi pendidikan, yang perlu menjadikan membaca sebagai kewajiban nyata, bukan sekadar anjuran. Terakhir, pemerintah, yang perlu memperbanyak perpustakaan dan ruang baca hingga ke tingkat komunitas terkecil.

Ia mencontohkan Jepang, di mana ruang baca tersedia bahkan di tingkat RT atau RW. Tentunya, hal ini juga didukung penuh oleh negara.

“Di sana, buku keliling masih ada, perpustakaan ada di mana-mana. Semua disokong pemerintah,” katanya.

Pada akhirnya, pesan Sudjianto sederhana, yakni mulailah menulis, karena dalam menulis tak ada yang melarang apa yang ingin kita ungkapkan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.