Detak Tribe – Kepedulian terhadap lunturnya identitas budaya lokal mendorong seorang guru di Baubau, Sulawesi Tenggara, menuangkan gagasannya lewat sebuah buku. Mahardy Purnama, penulis sekaligus pendidik, kini resmi menerbitkan karyanya berjudul Kisah-Kisah Buton Zaman Kesultanan untuk Anak Sekolah.
Di luar aktivitas menulis, Mahardy berprofesi sebagai pengajar di sekolah islam terpadu jenjang SD hingga SMP di Baubau. Ia juga membimbing anak-anak mengaji Iqro dan Al-Qur’an di TPQ setempat. Buku terbarunya ini menjadi karya pertamanya yang terbit melalui Penerbit HAS.
Kegelisahan atas Identitas yang Kian Memudar
Buku ini mengangkat rangkaian kisah daerah Buton. Mulai dari masuknya ajaran Islam ke tanah Buton, Sulawesi Tenggara, hingga peristiwa-peristiwa di awal abad ke-20. Pada awal abad ke-20, Kesultanan Buton berada di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Belanda.
Gagasan menulis buku ini sesungguhnya sudah terbersit sejak dua hingga tiga tahun sebelumnya. Mahardy menyaksikan sendiri bagaimana banyak generasi muda di kampung halamannya semakin asing dengan sejarah daerah mereka.
“Identitas mereka sebagai orang Buton nampak sudah mulai pudar. Terlebih, bahasa daerah pun sudah hampir tidak terpakai oleh gen M saat ini, dan tidak terpakai lagi oleh gen Z,” ujarnya.
Dengan latar belakang pendidikan Sejarah Islam serta pengalamannya sehari-hari bergaul dengan anak-anak sekolah, ia merasa terpanggil menyusun cerita sejarah lokal dalam bahasa yang sederhana, ringkas, dan tidak membosankan bagi pembaca cilik.
“Dan buku saya ini—kalau saya tidak salah—adalah buku anak pertama yang mengisahkan tentang kisah sejarah lokal di daerah saya ini,” katanya.
Proses Panjang Hadapi Writer’s Block
Penulisan buku ini bukan proses yang singkat. Mahardy Purnama mulai menuliskan kisah-kisahnya sejak 2024. Namun, setelah merampungkan sekitar 15 cerita, ia terhenti karena writer’s block. Selain itu, kesibukan lain yang datang bersamaan juga jadi penghalang.
“Dan malah menyusun naskah buku tema lain lagi, sementara yang ini belum selesai,” ungkapnya.
Titik baliknya terjadi di awal 2026, ketika ia bertekad kembali menghasilkan karya. Dari empat naskah yang tersimpan, ia memutuskan menuntaskan naskah Kisah Buton lebih dahulu. Ia mempunyai keyakinan besar bahwa karya ini akan mendapat sambutan hangat dari pembaca di daerahnya.
Sulitnya Mencari Jejak Sejarah
Selain writer’s block, kendala terbesar yang Mahardy hadapi adalah minimnya sumber referensi tertulis mengenai sejarah lokal. Perpustakaan daerah di kotanya tidak memiliki banyak koleksi buku sejarah setempat.
Sejumlah manuskrip dan koleksi sejarah justru tersimpan di rumah-rumah pribadi warga. Untuk mengaksesnya, ia harus mendatangi langsung pemilik koleksi. Aksesnya pun terbatas, karena ia hanya boleh membaca di tempat tanpa izin meminjam.
Tantangan lain muncul ketika ia harus mengubah bahasa dari sumber referensi yang cenderung formal menjadi bahasa yang akrab dan mudah anak-anak sekolah pahami.
Menembus Keterbatasan Penerbit di Wilayah Timur
Bagi penulis yang berdomisili di Sulawesi, mencari penerbit bukan perkara mudah. Mahardy menuturkan, penerbitan buku di wilayah Sulawesi nyaris tidak ditemukan, bahkan di Makassar sebagai kota terbesar di kawasan timur Indonesia sekalipun. Oleh karena itu, ia pun mengarahkan pencarian ke penerbit-penerbit di Pulau Jawa.
Sebelum menjatuhkan pilihan pada Penerbit HAS, ia sempat menghubungi dua hingga tiga penerbit lain melalui Facebook. Ia mengaku tidak ada alasan istimewa di balik pilihannya pada HAS, selain pertimbangan lokasi penerbit yang berada di Jawa Timur dan dianggap lebih dekat dengan Sulawesi.
Pertimbangan lain yang turut memengaruhi keputusannya adalah biaya penerbitan awal untuk lima eksemplar yang dirasa terjangkau, ditambah kualitas desain sampul yang sudah terlihat baik dari unggahan di media sosial. Setelah menjalin komunikasi lebih jauh, ia menilai pihak HAS bersikap profesional dalam prosesnya.
Pesan untuk Generasi Penerus
Lewat buku ini, Mahardy Purnama berharap adik-adik generasi muda di daerahnya dapat mengenal dan memahami sejarah Buton dengan lebih baik, sekaligus mampu mengambil hikmah dari kisah-kisah yang dituangkan di dalamnya.
“Dan semoga menumbuhkan kembali minat baca mereka, adik-adik saya, anak anak didik kami,” harapnya.
Di penghujung perbincangan, Mahardy menitipkan pesan bagi generasi muda di tengah tren literasi yang terus menurun. Pesannya, buku akan selalu bertahan sebagai sumber ilmu yang tak tergantikan oleh media sosial. Ia mengajak generasi muda untuk terus membaca dan berkarya, karena baginya, buku adalah sahabat terbaik.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











