Detak Tribe – Prestasi membanggakan datang dari Ahmad Dimyati Ridwan lewat karyanya, Menua Bersamanya, yang sukses raih Juara 2 pada Lomba Menulis Gateplus dengan tema “Dari Tulisan Menjadi Layar Lebar”. Keberhasilan ini membuka jalan bagi naskahnya untuk terus melangkah, termasuk menuju JAFF Market 2026.
Rasa Campur Aduk Terima Kemenangan
Ketika mengetahui Menua Bersamanya berhasil raih juara 2, Adim mengaku reaksinya campur aduk. Ia merasakan haru, kaget, dan lega bercampur jadi satu. Adim juga terus terang tidak menyangka naskahnya bisa melaju sejauh ini.
Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa tulisan yang tercipta dari hati dan kejujuran ternyata mampu menghadirkan resonansi kuat bagi pembacanya. Bahkan, mampu menarik perhatian para juri kompetisi. Ia bahkan menyebut pencapaian ini sebagai kejutan terindah yang ia alami sepanjang tahun.
Alasan Ikut Kompetisi
Keputusan mengikutsertakan Menua Bersamanya dalam lomba tidak lepas dari keinginan Adim untuk melihat tokoh Rafa, Alika, dan Rania hidup dalam bentuk visual di layar film.
Di sisi lain, Adim menilai persoalan dalam Menua Bersamanya sangat relevan dengan kondisi banyak anak muda saat ini. Mulai dari berjuang menyelesaikan skripsi, memikul beban ekspektasi dari orang terdekat, hingga proses belajar mengikhlaskan seseorang yang pernah berarti.
“Saya ingin menyuarakan perasaan mereka yang sedang berada di fase krisis tersebut ke panggung yang lebih luas. Kompetisi Kelanara x Gateplus ini adalah kendaraan yang paling tepat untuk mewujudkan mimpi itu,” katanya.
Pengalaman Panjang di Dunia Menulis
Meski kemenangan ini terasa seperti awal baru, Ahmad Dimyati Ridwan sesungguhnya bukan pendatang baru di dunia kepenulisan. Menua Bersamanya merupakan karya keenamnya, sekaligus novel kedua yang sudah resmi memiliki ISBN.
Sepanjang perjalanannya, ia telah berkecimpung dalam berbagai proses penulisan dan kurasi, baik di ranah karya fiksi maupun tulisan ilmiah. Kendati demikian, ia mengaku bahwa mengikuti kompetisi yang secara khusus menyasar adaptasi film nasional tetap menjadi pengalaman baru yang memacu semangat dan antusiasmenya.
Pesan untuk Para Penulis yang Sedang Berjuang
Di akhir perbincangan, Adim menekankan pentingnya menulis dengan kejujuran. Ia mengingatkan agar para penulis muda tidak terlalu terpaku mengejar tren pasar sampai melupakan esensi atau “nyawa” dari tulisan mereka sendiri.
Sekecil apa pun perasaan yang penulis alami, baik kegelisahan maupun kebahagiaan, menurutnya layak untuk mereka tuangkan ke dalam karya. Ia menegaskan bahwa Menua Bersamanya menjadi bukti nyata bagaimana perasaan yang ia tulis dengan tulus mampu berkembang menjadi sebuah karya besar.
“Teruslah menulis, jadikan setiap penolakan sebagai bahan bakar untuk memperbaiki diri, dan biarkan karya kalian menemukan takdir serta pembacanya sendiri,” pungkasnya.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











