Detak Tribe – Tidak banyak orang yang bisa menulis novel di sela-sela tugas militer. Namun, bagi Muhamad Kadar Catur Prastyo, anggota aktif Marinir TNI-AL, menulis justru menjadi cara untuk mengolah pengalaman yang ia temui di lapangan menjadi sesuatu yang bisa ia bagikan kepada banyak orang.
Catur merupakan penulis yang baru-baru ini merampungkan trilogi fiksi bertajuk Di Balik Garis Biru yang terbit melalui Detak Pustaka. Ketiga seri buku itu lahir bukan dari meja kantor yang tenang, melainkan dari pos penjagaan, malam-malam patroli, dan sudut-sudut terpencil Papua.
Tentang Tiga Karya
Trilogi ini mengikuti perjalanan seorang pemuda bernama Saddam Manjanik Kartago. Tokoh Saddam ia gambarkan sebagai anak bandel berlatar belakang keluarga yang dianggap aib desa, hanya lulusan SMP, dan bekerja sehari-hari sebagai kuli panggul sekaligus juru parkir di pasar.
Namun, sebuah percakapan yang ia dengar dari para calon siswa militer mengubah arah hidupnya. Saddam akhirnya berhasil menjadi prajurit Marinir AL. Seri pertama membawa Saddam ke penugasan sebagai ajudan seorang gubernur yang pernah menolak proyek dari sebuah perusahaan besar.
Seri kedua mengangkat misi penyerbuan ke sebuah pulau terpencil di Pasifik yang dikuasai organisasi rahasia bernama Special LAST Group. Organisasi tersebut adalah sebuah kelompok yang mengejar perdamaian dunia dengan cara paling ekstrem, yakni pemusnahan massal
Sementara seri ketiga melemparkan pembaca ke dunia pasca-apokaliptik, di mana bumi sudah runtuh akibat kemenangan LAST. Di sini, Saddam mendapat perintah kembali ke Jakarta untuk mengambil dokumen penting demi membangun ulang Indonesia dari Bunker Monas.
Namun, Catur menegaskan bahwa inti dari trilogi ini bukan soal perang terbuka. “Pada dasarnya trilogi ini bukan bercerita tentang perang terbuka pada umumnya, tetapi tentang perang saraf urat, penanaman doktrin, membuat isu-isu, membuat legenda menjadi hal nyata bagi masyarakat,” jelasnya.
Di balik semua itu, ada satu benang merah yang ia ingin pembaca rasakan, yaitu bagaimana cara mempertahankan harapan dan identitas agar tak padam.
Inspirasi cerita ini tidak datang dari imajinasi semata. Sebagian besar merupakan pengalaman hidupnya sendiri, termasuk dari beberapa penugasan yang ia jalani di Papua.
Hambatan Bukan Penghalang
Ketiga seri itu ia selesaikan dalam waktu sekitar satu tahun. Seluruhnya ia kerjakan saat sedang bertugas di Papua, tepatnya di Enarotali, Paniai. Waktu yang ia miliki untuk menulis pun seadanya. Di sela-sela di antara patroli siang, kegiatan pendekatan dengan masyarakat, hingga momen-momen ketika tugas malam belum ia mulai.
Hambatan terbesar datang ketika ia mendapat perintah membangun pos baru di Distrik Kapiraya, Mimika. Ia mengira di sana sudah ada bangunan yang berdiri. Kenyataannya, gedung pos sudah hangus terbakar akibat konflik perang suku antara Mee dan Komoro, sehingga seluruh pembangunan harus dilakukan dari nol.
“Di situlah yang jadi hambatan utama buat lanjutin ceritanya,” kenangnya. Proses penulisan pun terhenti sementara, dan baru berlanjut setelah pos selesai berdiri.
Di luar hambatan teknis itu, Catur juga bergulat dengan tantangan kreatif, mulai dari kebuntuan alur, pertimbangan soal ending, hingga pertanyaan tentang siapa target pembacanya. Bobot cerita yang tidak ringan membuatnya sadar bahwa tidak semua orang akan mudah menikmatinya.
Pada akhirnya, ia memilih untuk tidak terlalu memikirkan popularitas. “Daripada memikirkan untuk popularitas yang cepet viral, apalagi saya masih pemula, jadi saya pikir ya sudah, biarkan cerita ini akan menemukan pembacanya sendiri,” ujarnya.
Menemukan Rumah di Detak Pustaka
Perkenalan Catur dengan Detak Pustaka bermula dari sebuah iklan di Instagram pada pertengahan 2025, saat ia baru mulai menulis seri pertama. Harga penerbitan yang terjangkau menjadi daya tarik awal. Selain itu, kesan positif terhadap tim yang menurutnya ramah dan responsif juga jadi daya tarik.
Yang semakin meyakinkannya adalah momen saat proses penyuntingan berlangsung. Editor yang menangani naskahnya, Kak Faiza, tersentuh ketika membaca dan mengoreksi cerita tersebut. Bagi Catur, hal itu bukan sesuatu yang kecil.
“Itu membuat saya makin bersemangat menulis cerita saga lainnya, dan akan saya terbitkan lagi di Detak,” tuturnya.
Pesan untuk Penulis Pemula
Kepada para pembaca, Catur menitipkan satu harapan sederhana, agar mereka bisa ikhlas terhadap segala sesuatu yang telah diperbuat, meski banyak rintangan menghadang dan hasil akhirnya belum tentu sesuai harapan.
“Intinya tetap legowo dengan segala permasalahan, dan bisa berpikir dengan tenang,” katanya.
Sementara, untuk mereka yang ingin mulai menulis, namun masih penuh keraguan, Muhamad Kadar Catur Prastyo meninggalkan satu pesan yang ringkas. “Jangan takut bukumu tak laku, karena setiap cerita akan menemukan pembacanya,” pungkasnya.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











