Inspirasi

Muhammad Bagaskoro Mengubah Lelah Menjadi Karya hingga Raih Penghargaan Menulis

144
×

Muhammad Bagaskoro Mengubah Lelah Menjadi Karya hingga Raih Penghargaan Menulis

Sebarkan artikel ini
Muhammad Bagaskoro Mengubah Lelah Menjadi Karya hingga Raih Penghargaan Menulis
Muhammad Bagaskoro, juara 2 lomba ajang Nulis Quotes. (Dok. narasumber).

Detak Tribe – Tidak semua penulis punya waktu luang yang cukup untuk berkarya. Muhammad Bagaskoro adalah salah satu contohnya. Di tengah rutinitas membantu berjualan dan menyelesaikan kuliah, ia tetap menyempatkan diri menulis.

Ketekunan tersebut akhirnya berbuah manis, setelah karya perdananya meraih prestasi di sebuah ajang lomba menulis. Bagaskoro sendiri kini berusia 28 tahun dan berdomisili di Wates, Kota Magelang, Jawa Tengah. Sehari-hari, waktunya banyak tersita untuk membantu sang ibu berjualan peralatan rumah tangga di Pasar Kebonpolo.

Di samping itu, ia juga masih berstatus mahasiswa D3 Farmasi di Universitas Shafin Pati. Muhammad Bagaskoro menargetkan bisa wisuda pada November mendatang.

Awal Mula Suka Menulis

Kecintaannya pada tulis-menulis bukan hal baru. Semua bermula sejak bangku SMA, ketika membaca novel dan komik menjadi caranya untuk melepas penat sekaligus menenangkan pikiran.

Kebiasaan menikmati berbagai alur cerita itu lambat laun menumbuhkan keinginan dalam diri Bagas untuk mulai menciptakan tulisan sendiri, terutama dalam bentuk cerpen.

“Dari kebiasaan menyelami berbagai alur cerita itulah, saya mulai tertarik menuangkan imajinasi ke dalam bentuk tulisan, khususnya cerpen,” katanya.

Langkah Pertama Berbuah Prestasi

Keikutsertaan Bagas dalam ajang Nulis Quotes pada mulanya hanya ia dasari rasa penasaran untuk menjajal tantangan baru. Ia perdana mengikuti Lomba Surat Batch 22 Jilid 2 dengan tema “Sepucuk Rasa yang Kusimpan”. Ini merupakan pengalaman pertamanya terjun ke dunia kompetisi menulis.

Melalui karya berjudul Sisa yang Tak Pulang, di luar ekspektasinya sendiri, Bagas berhasil lolos dan meraih posisi Juara 2. Ia sempat merasa ragu apakah pencapaian itu nyata, mengingat ratusan peserta dari berbagai latar belakang ikut serta. Sementara itu, ia mengaku belum banyak pengalaman di dunia perlombaan.

Meski begitu, momen tersebut memberinya rasa percaya diri baru. Di momen itu, Muhammad Bagaskoro berhasil membuktikan bahwa sebuah karya awal pun tetap punya peluang untuk bersaing.

Menyiasati Waktu di Tengah Kesibukan Sehari-hari

Soal membagi waktu, Bagas menjelaskan bahwa ia sebenarnya belum bekerja secara formal. Ia menghabiskan waktu dari pukul 06.00 hingga 16.30 WIB untuk membantu berjualan di pasar, sembari tetap berusaha mencari peluang kerja yang relevan dengan latar belakang pendidikannya di bidang farmasi.

Untuk urusan menulis, ia mengandalkan waktu malam hari, setelah seluruh aktivitas fisiknya usai. Biasanya, proses menulis baru bisa ia mulai sekitar pukul 22.00 WIB.

Waktu yang Bagas butuhkan pun tidak menentu. Terkadang, ia sudah bisa beristirahat pada pukul 23.00. Namun, di lain waktu baru selesai menulis hingga pukul 01.00 dini hari, tergantung seberapa deras ide yang muncul saat itu.

Menurut Bagas, keterbatasan waktu bukan menjadi penghalang, melainkan bagian dari proses merawat hobinya. Ia justru merasa suasana malam yang sunyi, meski datang setelah rasa lelah seharian berjualan, memberi ruang baginya untuk lebih fokus menuangkan imajinasi ke dalam tulisan.

Pergulatan antara Lelah Fisik dan Semangat Berkarya

Bagas mengaku, tantangan terbesar yang ia hadapi selama menulis bukan soal kesulitan merangkai kalimat, melainkan kondisi fisik dan mentalnya sendiri. Sebab, setelah seharian beraktivitas di pasar, tubuhnya kerap sudah terasa lelah saat malam tiba.

Ia menuturkan bahwa tantangan paling berat justru muncul saat ide dan emosi cerita baru mengalir deras di atas pukul 23.00 WIB, tepat ketika tubuhnya sebenarnya sudah membutuhkan istirahat.

Belum lagi, rasa ragu turut menghantuinya karena ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti kompetisi menulis, sehingga sempat muncul kekhawatiran bahwa karyanya tidak cukup layak atau tidak memenuhi standar.

Namun, ia memilih memaknai hambatan tersebut bukan sebagai beban, melainkan sebagai proses yang menyaring ketulusannya dalam berkarya. Bagas merasa, kelelahan fisik yang ia rasakan seolah terbayar begitu tulisannya berhasil selesai tanpa mengorbankan tanggung jawabnya sehari-hari.

Pesan untuk Penulis Pemula

Menutup perbincangan, Muhammad Bagaskoro menyampaikan pesan bagi para penulis pemula yang ingin mengirimkan karya pertamanya ke sebuah perlombaan. Ia mengajak mereka untuk tidak ragu dan tidak berkecil hati dalam mengambil langkah awal.

“Berdasarkan pengalaman saya sendiri yang awalnya sempat merasa tidak percaya diri dan pesimis karena ini adalah karya perdana, ternyata keraguan itu berhasil dipatahkan ketika kita berani mencoba,” ungkapnya.

Ia berpesan agar para penulis muda berani membuang rasa insecure serta ketakutan bahwa karyanya dianggap kurang baik, dan lebih memilih menulis dengan kejujuran hati.

Menurutnya, hasil menang atau kalah adalah urusan belakangan, karena pencapaian sesungguhnya sudah seseorang raih sejak berani melawan rasa takutnya untuk memulai dan mengirimkan karya ke ajang lomba.

Ia berharap semakin banyak generasi muda yang terus mengasah kemampuan, menjadikan setiap proses sebagai ruang belajar, dan tak berhenti berkarya demi menghadirkan suara-suara baru dalam dunia literasi.

“Semangat buat kalian di mana pun kalian berada,” pungkasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.