Detak Tribe – Kisah inspiratif kembali datang dari penulis muda Indonesia. Kali ini, cerita penuh inspirasi datang dari Nanang Nualdy atau akrab disapa Nang. Penulis buku Oleh Oleh Khas Sepi ini menceritakan perjalanan menulisnya yang cukup panjang, di sela kesibukan sebagai barista di salah satu kedai kopi di Makassar, Sulawesi Selatan.
Buku kumpulan puisi berjudul Oleh-Oleh Khas Sepi itu lahir bukan dari ambisi sastra, melainkan dari keresahan. Nang menyebutnya sebagai perasaan gelisah yang terus tumbuh di kepala. Perasaan gelisah ini datang dari hidup yang terasa begini-begini saja, tentang kepergian, tentang jatuh cinta kembali, tentang bangkit, dan tentang kedua orang tuanya.
“Buku ini menceritakan tentang keresahan saya sebagai anak muda yang merasa hidupnya begini-begini saja,” ungkapnya.
Inspirasinya datang dari pengalaman pribadi dan orang-orang di sekitarnya. Nang yang merasakan keresahan sehari-hari tak tinggal diam. Ia terus membiarkan hatinya merasakan semua itu, lalu kemudian mengubahnya menjadi rangkaian kata-kata indah.
Ia memilih puisi sebagai medium bukan tanpa alasan. Bagi Nang, puisi memberikan ruang untuk meresapi setiap kata yang ia tulis. Puisi menjadi rumah yang aman baginya untuk meluapkan semua keresahan tanpa takut tentang presepsi orang lain.
Perjalanan Delapan Tahun
Cinta Nang terhadap puisi bermula pada 2018. Namun, keinginan untuk menerbitkan buku harus ia tunda cukup lama. Ini bukan karena malas, melainkan karena keterbatasan ekonomi dan minimnya pengetahuan soal dunia penerbitan.
Yang ia lakukan selama itu adalah terus menulis. Hingga akhirnya pada 2025, ia menemukan Detak Pustaka melalui Instagram. Dengan keberanian yang ia kumpulkan, Nang memberanikan diri bertanya soal syarat penerbitan.
Setelah proses itu ia lalui, Oleh-Oleh Khas Sepi resmi terbit pada 2026. Karya ini menjadi bukti bahwa tulisan-tulisan yang ia kumpulkan selama delapan tahun itu memang layak untuk dibaca dunia.
Writers Block? Bukan Hambatan
Saat ditanya soal hambatan selama proses menulis yang panjang itu, Nang justru menjawab ringan. Ia mengakui pernah mengalami kebuntuan, tetapi tidak menganggapnya sebagai halangan.
“Pada saat mengalami kebuntuan, saya lebih memilih minum kopi dan dengar musik, setelah itu saya lanjut menulis lagi,” katanya.
Ia bahkan tidak pernah memaksakan tulisannya untuk sempurna. Baginya, menulis terlebih dahulu apa yang sedang ia rasakan lebih penting, dan soal bagus atau tidaknya, ia pasrahkan kepada pembaca.
Puisi untuk Orang Tua yang Belum Tahu
Ada satu bagian menarik dalam buku ini, yakni puisi tentang kedua orang tuanya. Menariknya, sang orang tua sendiri belum mengetahui keberadaan buku tersebut. Nang mengaku belum menceritakannya, tetapi ia menegaskan bahwa suatu saat nanti pasti akan memberitahu.
“Biar bisa jadi oleh-oleh yang bisa dikenang ketika saya sudah tiada,” ujarnya.
Setelah Sepi, Sebuah Novel Menanti
Meski buku pertamanya baru saja terbit, Nang sudah menyiapkan langkah berikutnya. Ia berencana menulis novel dengan satu keunikan, yaitu di setiap babnya, akan terselip satu puisi. Sebuah perpaduan yang terdengar personal, sekaligus ambisius untuk seorang tukang kopi yang menulis di sela-sela waktu senggangnya.
Kesepian yang Tidak Perlu Ditakuti
Di penghujung perbincangan, Nanang Nualdy menitipkan pesan untuk para pembacanya. Pesan yang sangat sederhana dan juga mengagumkan.
“Semoga para pembaca tahu kalau kesepian tidak semenakutkan itu, dan semoga mereka mengerti bahwa hal yang membuat mereka down atau sedih bukan cuma mereka seorang yang merasakannya di dunia ini,” pesannya.
Ia juga menyarankan siapa pun yang tidak punya tempat bercerita untuk mulai menulis. Dan bagi mereka yang terjebak dalam kesakitan, Nang punya satu kalimat penutup yang terasa seperti puisi itu sendiri: “Nikmati lukanya sampai sembuh, sampai tragedi bisa menjadi komedi.”
Perjalanan Nanang Nualdy hingga berhasil menerbitkan buku Oleh-Oleh Khas Sepi bukanlah perkara mudah. Oleh sebab itu, memberikan apresiasi terhadap penulis sepertinya sangat berarti. Jika kamu tertarik membaca kisah Nang dalam bukunya, kamu bisa mengaksesnya lewat detakpustakatoko.com.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.












