Detak Tribe – Belum banyak yang mengenal nama Darmaga Syanumna. Namun, bagi Nurlita nama pena tersebut menjadi identitas yang mewakili perjalanannya di dunia kepenulisan. Selain aktif menulis, ia juga mengisi kesehariannya dengan bekerja sebagai pengelola administrasi di sebuah usaha minuman.
Kecintaannya pada dunia tulis-menulis sendiri bukan hal yang baru muncul, melainkan telah tumbuh sejak masa SMP di penghujung tahun 2016 dan terus berlanjut sampai sekarang.
Menulis sebagai Pelarian dari Kelelahan Masa Akhir Kuliah
Awal mula Nurlita terjun ke dunia lomba menulis berangkat dari rasa ingin tahu semata. Ia penasaran dengan pengalaman mengikuti kompetisi menulis.
Rasa penasaran itu semakin besar, saat itu ia sedang berada di fase melelahkan sebagai mahasiswa tingkat akhir. Di mana, saat itu ia tengah mempersiapkan sidang kelulusan. Alih-alih larut dalam kelelahan, ia memilih menulis sebagai cara untuk meredakan penat.
Ketertarikannya semakin terarah ketika secara tidak sengaja menemukan akun Instagram Halo Penulis dan memutuskan mengikuti akun tersebut.
Dari situlah pengalaman pertama mengikuti lomba menulis ia mulai, tanpa ekspektasi besar untuk menang atau menjadi penulis terpilih. Namun, hasil berkata lain, karena karyanya justru mendapat kesempatan untuk menjadi buku pada beberapa tema.
Inspirasi Datang dari Kehidupan Sekitar
Meski titik awalnya berkaitan dengan masa sulit sebagai mahasiswa, Nurlita menegaskan sumber inspirasi tulisannya berasal dari hal yang berbeda. Pengalaman pribadi menjadi bahan utama, lengkap dengan kisah dari teman-teman dekat, serta sedikit cerita dari keluarganya sendiri.
“Untuk inspirasi tulisan saya, bukan karena lelah menjadi mahasiswa, tetapi hal lainnya. Pengalaman pribadi, teman dan sedikit dari keluarga,” ujarnya.
Menulis Ulang Luka Lama sebagai Bagian dari Proses
Tidak semua proses kreatif berjalan mulus. Karena sejumlah tema yang ia tulis bersumber dari pengalaman pribadi. Hambatan terbesar muncul saat ia harus kembali mengenang masa lalu yang tidak sepenuhnya membahagiakan.
Namun bagi Nurlita, proses tersebut justru menjadi ruang untuk melepaskan beban dari kenangan pahit, sekaligus membuka jalan bagi karyanya untuk terbit. Ia meyakini, kenangan buruk di masa lalu tidak seharusnya menjadi penghalang untuk melangkah ke masa depan.
Karya yang Paling Dekat di Hati
Di antara berbagai karya yang pernah ditulisnya, satu judul menonjol sebagai yang paling berkesan, yaitu “Melipat Langit dalam Laci” pada tema “Hanya Aku dan Diriku”. Karya ini istimewa karena menjadi wadah baginya untuk menuangkan perasaan yang paling personal dan mendalam.
Konsistensi Berkarya Tanpa Formula Khusus
Soal rahasia di balik pencapaiannya sebagai penulis terpilih, Nurlita mengaku tidak ada trik atau strategi khusus yang ia gunakan. Baginya, kunci utamanya adalah terus berusaha menghadirkan karya sebaik mungkin sesuai standar pribadinya.
“Tidak ada trik khusus, karena saya hanya berusaha untuk membuat karya yang terbaik,” katanya.
Harapan untuk Halo Penulis dan Masa Depan Kepenulisan
Menutup perbincangan, Nurlita menyampaikan apresiasinya kepada Halo Penulis yang telah memberinya kesempatan untuk berproses dan meraih pengalaman baru di dunia menulis.
Ia juga berharap ke depannya dunia kepenulisan dapat terus berkembang, sekaligus tetap membuka peluang bagi para penulis baru untuk terus menghasilkan karya.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











