Detak Tribe – Perjalanan Unaisah menjadi penulis telah ia mulai sejak dini. Perempuan yang kini duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar ini telah menekuni kegiatan menulis hingga mengantarkannya menjadi juara.
Jika ditarik mundur, kecintaan Unaisah pada dunia tulis-menulis sudah terjadi sejak kelas 2. Saat itu, buku-buku bacaan mulai rutin hadir di tangannya. Dari kebiasaan itulah, menulis menjadi hobinya.
“Sejak kecil saya memang sudah sering dikasih buku bacaan, dan berakhir menjadi gemar menulis,” tuturnya.
Kebiasaan membaca itu rupanya meninggalkan jejak yang dalam, sehingga mengubahnya dari pembaca pasif menjadi seorang penulis muda yang produktif.
Mengenal Halo Penulis
Perjalanan Unaisah ke panggung lomba kepenulisan pertama kali ia mulai pada 19 Desember 2025. Saat itu, ia pertama kali memutuskan untuk mengikuti lomba di Halo Penulis. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Ia ingin menambah pengalaman sekaligus menorehkan prestasi.
Sejak saat itu, ia tercatat telah mengikuti sejumlah lomba di Halo Penulis. Lomba-lomba yang pernah ikuti yakni Lomba Surat Batch 7 dan Batch 9 Volume 2, serta Lomba Menulis Batch 20 dan Batch 21 Volume 2.
Keputusannya bergabung dengan Halo Penulis pun ternyata tidak ia sesali. Ia merasa nyaman dengan ekosistem yang ada di sana. “Admin-adminnya ramah, dan penjabaran tentang lomba di posternya juga mendetail, jadi langsung paham dan percaya untuk ikut lomba di Halo Penulis,” katanya.
Di Balik Setiap Tulisan
Bagi Unaisah, menulis bukan sekadar hobi atau ajang kompetisi. Ada fungsi yang lebih personal di dalamnya. Ketika tekanan kehidupan nyata datang dan sempat membuatnya patah semangat, ia menemukan jalan keluar lewat tulisan.
“Saya menulis memang untuk melupakan masalah-masalah,” ungkapnya.
Inspirasi pun ia temukan dari hal-hal yang dekat, mulai dari kehidupannya sendiri sampai orang-orang terdekatnya. Tak heran jika karya yang paling berkesan baginya adalah tulisan yang paling personal, sebuah cerita berjudul Yang Tak Lagi Kumiliki. Karya itu ia tulis untuk Lomba Menulis Batch 20 Volume 2.
“Alasannya, karena itu kisah orang terdekat saya,” ujarnya.
Ritual Menulis Sore Hari
Menyeimbangkan kegiatan sebagai pelajar dan penulis tentu bukan perkara mudah. Unaisah memiliki caranya sendiri. Ia mengalokasikan waktu sore hari, atau akhir pekan, sebagai momen khusus untuk menulis. Bukan tanpa alasan ia memilih sore hari. Menurutnya, waktu itu adalah saat rumahnya paling sunyi.
“Wajib sunyi lingkungan sekitar,” katanya.
Selain keadaan yang harus sepi, ada satu syarat lagi yang tak kalah penting saat proses menulisnya, yaitu minuman yang segar. “Kalau nulis tuh kadang sampai haus, pusing mikir alurnya,” ungkapnya.
Harapan untuk Sastra Indonesia
Di penghujung perbincangan, Unaisah menyuarakan harapan yang melampaui usianya. Ia berharap pemerintah semakin serius mendorong budaya literasi di masyarakat, dan semakin banyak orang yang mengenal dunia sastra.
“Karena bagi saya, sastra itu indah, di mana kita bisa menumpahkan perasaan menjadi karya-karya,” tutupnya.
Dari seorang anak kecil yang dibekali buku oleh orang tuanya, Unaisah kini tumbuh menjadi penulis muda yang tidak hanya menulis untuk lomba, tetapi juga menulis untuk dirinya sendiri. Menulis untuk bertahan, untuk sembuh, dan untuk berkarya.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











