Inspirasi

Rio Ardiansyah Angkat Realita Guru dan Tantangan Pendidikan di Era AI

85
×

Rio Ardiansyah Angkat Realita Guru dan Tantangan Pendidikan di Era AI

Sebarkan artikel ini
Rio Ardiansyah Angkat Realita Guru dan Tantangan Pendidikan di Era AI
Rio Ardiansyah jadi pembicara webinar Detak Pustaka. (Dok. Detak Pustaka).

Detak Tribe – Webinar Author Development akan kembali Detak Pustaka gelar pada Sabtu, 19 September 2026. Dalam kesempatan kali ini, Rio Ardiansyah hadir sebagai pembicara utama. Rio adalah seorang guru honorer dan pengurus salah satu pondok pesantren di Pasangkayu.

Di tengah rutinitasnya itu, Rio Ardiansyah masih menyempatkan diri untuk menulis. Hasilnya, lahirlah sebuah novel pendidikan berjudul “Menjadi, Bukan Mencari“. Baginya, menulis bukan sekadar hobi, melainkan cara untuk menyuarakan keresahannya terhadap dunia pendidikan yang ia geluti sehari-hari.

Mengangkat Realita Guru Lewat Eksperimen Imajinatif

Novel perdananya ini berangkat dari keprihatinan Rio terhadap rendahnya minat generasi muda untuk menjadi guru. Menurutnya, faktor ekonomi—khususnya gaji yang minim—menjadi salah satu penyebab utama fenomena tersebut. Padahal, tanggung jawab yang seorang guru emban sangatlah besar.

Dari keresahan itulah muncul gagasan menarik dalam bukunya. Sebuah eksperimen imajinatif tentang bagaimana jadinya jika gaji guru mencapai 40 juta rupiah per bulan. Melalui premis tersebut, Rio mencoba mengajak pembaca merenungkan kembali nilai dan penghargaan yang semestinya para pendidik terima.

Sepuluh Bulan di Tengah Kesibukan dan Ujian

Proses penulisan novel ini memakan waktu sekitar sepuluh bulan. Rio mengaku lebih banyak menulis di malam hari. Namun, sesekali ia juga memanfaatkan waktu luang di siang atau sore hari untuk melanjutkan naskahnya di sela rutinitasnya mengajar dan mengabdi di pesantren.

Perjalanan itu tidak selalu mulus. Rio mengaku mood dan fokus menjadi tantangan tersendiri, mengingat menulis membutuhkan konsentrasi yang serius. Ujian yang lebih berat datang ketika laptop yang ia gunakan rusak, dan naskah yang sudah ia kerjakan sempat hilang.

Namun, ia tidak menyerah. Dengan gigih, Rio menulis ulang naskahnya lewat ponsel, hingga akhirnya rampung berkat dukungan dari teman-teman dan gurunya.

“Dan alhamdulillah dengan dukungan dan support dari teman dan juga guru saya, akhirnya selesai juga, walaupun sebenarnya masih ada yang ingin direvisi,” katanya.

Pandangan Rio soal AI

Beranjak ke topik yang lebih kontemporer, Rio turut membagikan pandangannya soal kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan dan kepenulisan.

Menurutnya, AI pada dasarnya sangat membantu, khususnya dalam ranah pendidikan. Namun, ia mengingatkan bahwa penyalahgunaan AI kerap terjadi ketika oknum tidak bertanggung jawab memanfaatkannya untuk hal-hal yang bersifat manipulatif.

Rio juga menyoroti dampak AI terhadap pola pikir murid-murid di daerahnya. Ia melihat kecenderungan siswa menjadi lebih pragmatis, sehingga daya kritis dan rasa ingin tahu mereka justru menurun.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa dampak tersebut sifatnya relatif, tergantung siapa yang menggunakannya. Dari sisi kepenulisan sendiri, Rio justru merasa terbantu, sebab AI bisa menjadi sarana untuk mencari ide-ide segar dalam proses kreatifnya.

Kreativitas dan Literasi Jadi Kunci Bagi Pendidik

Menghadapi era yang serba digital ini, Rio berpesan agar para pendidik tidak terjebak dalam ketergantungan pada teknologi. Menurutnya, seorang pendidik wajib memiliki jiwa yang kreatif dan inovatif.

Sebab, sedalam apa pun penguasaan materi seorang guru, jika cara penyampaiannya monoton, proses transfer ilmu akan terasa membosankan bagi murid. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan literasi secara serius sebagai bekal utama seorang pendidik di masa kini.

“Kira-kira seperti itu dan tentunya yang paling penting untuk seorang pendidik adalah peningkatan literasi yang lebih serius,” jelasnya.

Pesan Penutup

Menutup perbincangan, Rio Ardiansyah menitipkan pesan mendalam bagi para peserta webinar mengenai masa depan menulis dan mengajar di era AI. Baginya, ketika seseorang diberi amanah untuk menjadi pendidik sekaligus penulis, amanah itu harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Ia meyakini bahwa di tengah gempuran AI, tugas manusia bukan untuk bersaing dengan teknologi, melainkan memastikan teknologi tetap digunakan untuk memanusiakan manusia.

Sebab, meski AI dapat membantu proses menulis dan menyampaikan pengetahuan, nilai, keteladanan, dan tanggung jawab tetap lahir dari tangan manusia itu sendiri.

Rio menutup dengan sebuah harapan besar, bahwa sosok-sosok yang kelak mengubah masa depan bisa jadi lahir dari ruang kelas, dari untaian tulisan, dan dari tangan seorang pendidik yang menjalankan tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh.

“Jadi, jangan takut pada masa depan AI. Takutlah jika kita diberi kesempatan untuk mendidik dan menulis, tetapi tidak menggunakannya untuk memberi manfaat,” pesannya.

Sebagai informasi, pendaftaran untuk ikut serta di Webinar Author Development sudah bisa kamu akses lewat laman berikut ini: Daftar Webinar. Daftar dan ikuti webinarnya untuk memperkaya ilmu tentang penggunaan AI yang sesuai untuk kepenulisan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.