Inspirasi

Rumelah, Bangkit Berkarya Setelah 30 Tahun Tinggalkan Dunia Menulis

56
×

Rumelah, Bangkit Berkarya Setelah 30 Tahun Tinggalkan Dunia Menulis

Sebarkan artikel ini
Rumelah, Bangkit Berkarya Setelah 30 Tahun Tinggalkan Dunia Menulis
Rumelah, juara satu lomba menulis puisi batch 23 volume 3 di Halo Penyair. (Dok. Detak Tribe).

Detak Tribe – Namanya Rumelah, namun dunia sastra mengenalnya lewat nama pena Rainur Rachman. Kehidupan sehari-harinya ia jalani sebagai ibu rumah tangga. Kini, ia berhasil menyandang gelar Juara 1 pada Lomba Puisi Batch 23 Volume 3 di Halo Penyair.

Karya yang berhasil terpilih lahir dari kerinduan yang begitu dalam kepada sang ibu yang sudah berpulang. Lewat kata-kata, Rumelah menghidupkan kembali kenangan masa lalu yang berwarna.

Ia mengenang soal kesedihan, kebahagiaan, hingga motivasi yang pernah ia dapatkan semasa sang ibu masih ada. Rumelah mengaku proses menulisnya berjalan lancar tanpa kendala apa pun. Bahkan, writer’s block yang biasa penulis lain alami sama sekali tidak ia rasakan.

Menulis Lagi Setelah Vakum Tiga Dekade

Kecintaan pada dunia menulis sebenarnya sudah tertanam sejak Rainur masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun, lebih dari 30 tahun lamanya ia meninggalkan aktivitas tersebut. Ketika Halo Penyair membuka ajang lomba puisi, ia memutuskan untuk mencoba peruntungan, awalnya hanya sekadar iseng.

Namun, keikutsertaannya tersebut justru membuahkan hasil dan mendapat apresiasi. Meski menurutnya sendiri, usianya sudah tak muda lagi untuk kembali terjun ke dunia kepenulisan yang terus berkembang.

“Sudah lama sejak saya SD. Sebenarnya hobi ini sudah lebih dari 30 tahun saya tidak geluti lagi,” jelasnya.

Tak Hanya Ciptakan Puisi

Selain puisi, Rainur juga terbiasa menulis cerpen maupun surat. Sebagian karya tersebut hanya ia simpan untuk koleksi pribadi, sementara sebagian lainnya pernah ia ikutkan dalam berbagai kompetisi.

Salah satu pengalaman yang masih membekas terjadi sekitar lima tahun silam, saat ia ikut lomba dari penulis kenamaan dan sempat menghubunginya secara langsung.

Panitia mengabarkan bahwa juri sebenarnya sempat mempertimbangkan cerpennya untuk menempati posisi juara 1. Namun, karena kerapian ejaan yang dinilai kurang, posisinya bergeser menjadi juara keempat atau kelima, detail pastinya kini sudah tak lagi ia ingatnya dengan jelas.

Rencana ke Depan yang Masih Menggantung

Mengenai kelanjutan kariernya di dunia kepenulisan, Rainur mengaku belum mengambil keputusan pasti. Ada dorongan dari sang anak yang menginginkannya menerbitkan buku, tetapi hingga saat ini ia masih mempertimbangkan langkah tersebut secara matang.

“Entah ya. Anak saya ingin saya bikin buku, tetapi saat ini saya belum putuskan,” ungkapnya.

Harapan untuk Halo Penyair dan Sastra Tanah Air

Menulis puisi, bagi Rumelah, bukan sekadar tentang menang atau kalah, melainkan cara untuk melepaskan gejolak emosi, baik ketika sedih, bahagia, maupun bingung, tanpa perlu tampak berlebihan di hadapan orang lain.

Ia berharap Halo Penyair dapat terus menjadi ruang bagi para pencinta menulis sekaligus turut berperan menjaga kesehatan mental penggunanya. Selain itu, ia juga menitipkan pesan agar para penulis senantiasa menjaga kualitas karya tanpa terlalu terbebani oleh persaingan antarsesama peserta.

Di penghujung perbincangan, Rumelah menyampaikan harapannya bagi perkembangan sastra Indonesia. Ia meyakini bahwa negeri ini pernah melahirkan banyak pujangga besar, dan sesungguhnya potensi serupa masih tersimpan hingga kini, layaknya magma yang menanti waktu untuk muncul ke permukaan.

Ia berharap Halo Penyair dapat menjadi salah satu jalan bagi kelahiran kembali para penyair berkualitas, di tengah berbagai tantangan negatif yang dibawa oleh era digital saat ini.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.