Inspirasi

Saifal Hadirkan Jurnalisme Media Elektronik dan Tantangan Era Viralisasi Media Sosial dari Keterbatasan Referensi

29
×

Saifal Hadirkan Jurnalisme Media Elektronik dan Tantangan Era Viralisasi Media Sosial dari Keterbatasan Referensi

Sebarkan artikel ini
Saifal Hadirkan Jurnalisme Media Elektronik dan Tantangan Era Viralisasi Media Sosial dari Keterbatasan Referensi
Saifal penulis buku Jurnalisme Media Elektronik dan Tantangan Era Viralisasi Media Sosial. (Dok. Detak Pustaka).

Detak Tribe – Kesulitan menemukan buku referensi ternyata bisa menjadi titik awal lahirnya sebuah karya. Itulah yang Saifal alami. Ia berhasil menerbitkan buku berjudul Jurnalisme Media Elektronik Dan Tantangan Era Viralisasi Media Sosial bersama Detak Pustaka.

Saifal adalah penulis yang berasal dari sebuah desa di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Di luar aktivitas menulis, Saifal menjalani keseharian sebagai jurnalis di sebuah media televisi nasional. Selain itu, ia juga mengajar sebagai dosen luar biasa (LB) di sebuah kampus swasta di Bandung.

Buku tersebut menghadirkan analisis mendalam tentang bagaimana aktivitas jurnalisme dapat tetap menjaga integritasnya di tengah fenomena viralisasi media sosial yang kerap mengaburkan batas antara fakta dan sensasi.

Tak hanya itu, buku ini juga membahas secara lengkap seluk-beluk jurnalisme media elektronik, mulai dari sejarah perkembangannya, etika jurnalisme, tahapan liputan, berbagai tantangannya, hingga karakteristik jurnalisme media sosial.

Berawal dari Buku yang Tak Kunjung Ia Temukan

Ide penulisan buku ini muncul dari pengalaman pribadi Saifal saat kesulitan mencari referensi. Ia mengaku sudah mencari ke banyak toko buku, namun tidak kunjung menemukan judul tentang jurnalisme media elektronik. Padahal, saat itu ia tengah mendapat tugas mengajar mata kuliah dengan topik tersebut.

Menurutnya, kebanyakan judul yang tersedia di pasaran adalah buku jurnalisme media digital. Padahal, jurnalisme media elektronik dan media digital memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Dari situlah keinginan untuk menulis buku ini muncul.

“Buku yang ada hanyalah jurnalime media digital, sementara untuk jurnalime media elektronik dan media digital memiliki perbedaan,” ungkapnya.

Proses Panjang di Tengah Kesibukan

Penulisan buku ini tidak berlangsung singkat. Saifal membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga tahun untuk menyelesaikannya, terutama karena kesibukannya sebagai jurnalis dan pengajar yang mata kuliahnya tidak selalu sama setiap periode.

Tantangan yang ia hadapi pun tidak sedikit. Selain persoalan waktu yang terbatas akibat pekerjaan, fokus menulis juga kerap terpecah sehingga ia harus membaca ulang referensi setiap kali hendak melanjutkan tulisannya. Belum lagi soal keterbatasan sumber referensi membuat penulisan buku ini terasa cukup berat baginya.

Titik terang datang saat bulan Ramadan 2026. Pada momen tersebut, Saifal memutuskan untuk fokus beribadah sekaligus menulis. Ia bersyukur karena pada akhirnya kemudahan untuk menyelesaikan naskah bukunya datang menghampiri.

“Alhamdulilah Allah beri kemudahan untuk menyelsaikannya,” ujar Saifal.

Harapan untuk Pembaca dan Dunia Jurnalistik

Menurut Saifal, buku ini memuat banyak nilai-nilai kebaikan. Oleh karena itu, ia berharap buku ini dapat mengajak para jurnalis untuk senantiasa menjaga integritas dalam berkarya.

Ia menekankan, bagi jurnalis muslim khususnya, karya jurnalistik yang dihasilkan bukan hanya perlu dipertanggungjawabkan di dunia, tetapi juga kelak di hadapan Allah SWT. Ia pun berharap tulisannya bisa menjadi amal jariyah dan membawa kebaikan bagi orang lain.

Alasan Memilih Detak Pustaka

Selain menjabarkan terkait bukunya, Saifal juga mengungkapkan alasan memilih Detak Pustaka sebagai penerbit. Ia mengaku puas dengan profesionalisme dan pelayanan yang Detak Pustaka berikan.

Menurutnya, Detak Pustaka juga terbuka untuk diajak berdiskusi dan menerima masukan dari penulis, sehingga ia merasa nyaman selama proses penerbitan berlangsung.

Ke depan, Saifal mengungkapkan masih memiliki keinginan untuk menulis buku lain dengan tema berbeda, dan berharap bisa kembali menerbitkannya bersama Detak Pustaka.

“Jelas ada keinginan lagi dong, harapan saya bisa menerbitkan di Detak Pustaka lagi,” katanya.

Pesan untuk Penulis Pemula

Kepada para penulis pemula yang ingin menerbitkan karya pertamanya, Saifal berpesan agar tidak menjadikan materi sebagai tujuan utama dalam berkarya. Menurutnya, hal terpenting adalah menulis dengan harapan karya tersebut dapat menjadi amal jariyah.

Ia juga berharap dunia literasi di Indonesia terus berkembang agar generasi muda semakin kaya akan ilmu pengetahuan. Menurutnya, urusan literasi tidak boleh dianggap remeh dan harus dikelola secara serius, termasuk dengan memberi perhatian dan dukungan lebih kepada para penerbit buku.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.