Detak Tribe – Di balik kesibukan mengajar dan mengurus keluarga, Santa Mareta menemukan caranya sendiri untuk tetap menulis. Ia memilih menunggu anak-anak terlelap, lalu membuka laptop di tengah keheningan malam. Dari situ lahirlah sebuah buku yang kini telah resmi terbit lewat Detak Pustaka.
Perempuan yang bergelar Santa Mareta, A.Md.Rad., SKM., M.Kes ini sehari-harinya berprofesi sebagai dosen. Dunia mengajar baginya bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang bertumbuh yang selalu menghadirkan warna.
Namun, di luar tugas akademisnya, ia juga menyimpan kecintaan pada fotografi dan menulis. Dua hal tersebut menurutnya menjadi cara untuk menangkap dan mengabadikan rasa.
Kecintaan itulah yang akhirnya mengantarkannya untuk menerbitkan buku perdana berjudul Langit Menyulam Kata, Bumi Membisikkan Makna melalui Detak Pustaka.
Buku ini mengangkat tema kebahagiaan dan kekayaan sejati yang tidak diukur dari materi, melainkan dari ketulusan hati, rasa syukur, dan kedekatan dengan Tuhan. Tema itu relevan bagi siapa saja yang sedang mencari ketenangan batin di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
Inspirasi dari Kehidupan Sendiri
Mareta tidak pergi jauh-jauh mencari bahan tulisannya. Inspirasi datang dari lingkaran terdekat, yakni pengalaman pribadi bersama keluarga dan sahabat karib yang menemaninya sehari-hari. Proses menuangkan seluruh gagasan dan perasaan itu memakan waktu sekitar lima bulan hingga naskah benar-benar rampung.
Baginya, yang paling berkesan adalah tulisan pembuka dalam buku tersebut, berjudul “12 Musim Cinta Kita”. Tulisan tersebut memuat catatan perjalanan dua belas tahun pernikahan, dari suka duka yang ia lalui bersama pasangan hingga hadirnya dua putri kecil yang mewarnai rumah tangga mereka.
“Alhamdulillah kami masih diberikan keharmonisan keluarga sampai saat ini,” ujarnya.
Malam Hari adalah Waktu Paling Jujur
Salah satu pertanyaan yang kerap muncul kepada penulis yang juga memiliki pekerjaan penuh waktu adalah soal manajemen waktu. Bagi Mareta, jawabannya sederhana, yaitu memanfaatkan waktu malam hari.
Ia mendeskripsikan dirinya sebagai orang yang tidak bisa berhenti berpikir. Siang hari ia fokus pada pekerjaan, sementara momen menulis ia sisihkan setelah anak-anak tidur dan suasana rumah benar-benar hening. Di hari libur, laptop sudah terbuka sejak pagi.
Sesekali, ketika pulang sore dan sempat tidur sebentar, ia sanggup bertahan begadang hingga pukul dua dini hari. Namun, jika tidak sempat istirahat sore, satu hingga dua jam saja sudah menjadi batas kemampuan matanya.
Hambatan tentu ada. Rasa kantuk yang datang tiba-tiba, anak yang terbangun di tengah malam, atau kondisi pikiran yang sedang buntu dan tidak bisa merangkai kata.
Namun, ia menanamkan satu prinsip pada dirinya sendiri. Prinsip itu adalah setiap malam harus ada progres, sekecil apa pun. Konsistensi itulah yang akhirnya membawa tulisannya sampai ke titik selesai.
Pesan untuk Penulis Pemula
Kepada mereka yang ingin memulai menulis tapi kerap ragu, Mareta punya beberapa pesan praktis. Pertama, niat harus terpasang sejak awal.
Setelah itu, mulai saja dulu tanpa menunggu kondisi sempurna, karena kesempurnaan adalah hasil dari proses yang sudah berjalan. Jangan takut tulisan terasa jelek di awal, dan jangan insecure lebih dulu sebelum mencoba.
Ia juga menyarankan agar pemula menulis dari hal yang paling dekat dengan diri mereka, seperti pengalaman pribadi yang menjadi ladang paling subur untuk ide tulisan.
Membuat target harian, misalnya beberapa paragraf atau halaman per malam, turut membantunya menjaga ritme. Dan saat pikiran benar-benar buntu, istirahat sejenak dan menyegarkan kepala adalah pilihan yang lebih bijak daripada memaksakan diri.
Menulis sebagai Healing, Bukan Sekadar Produktivitas
Ke depannya, Mareta tidak berniat berhenti. Ia mengaku akan terus menulis karena baginya aktivitas tersebut sudah menjadi semacam healing. Baginya, kegiatan menulis adalah cara melepas penat, mengisi waktu luang, serta membuka peluang lain. Sambil terus berkarya, ia juga berencana lebih aktif mempromosikan buku perdananya.
Perjalanan Santa Mareta dalam menulis buku Langit Menyulam Kata, Bumi Membisikkan Makna membuktikan bahwa menulis tidak selalu membutuhkan waktu luang yang luas. Kadang, cukup beberapa jam di malam yang sunyi, dengan tekad yang tidak pernah padam.
Jika kamu ingin menelusuri lebih dalam karya Santa Mareta, kamu bisa mengakses bukunya lewat laman resmi detakpustakatoko.com. Selain itu, kamu juga bisa mengaksesnya lewat tautan ini: Buku Langit Menyulam Kata, Bumi Membisikkan Makna.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.












