Inspirasi

Sarihati di Tengah AI, Arby Rahmat Menjaga Puisi Tetap Bernyawa

97
×

Sarihati di Tengah AI, Arby Rahmat Menjaga Puisi Tetap Bernyawa

Sebarkan artikel ini
Sarihati di Tengah AI, Arby Rahmat Menjaga Puisi Tetap Bernyawa
Arby Rahmat dan bukunya Sarihati. (Dok. Detak Pustaka).

Detak Tribe – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), dunia kepenulisan turut mengalami perubahan besar. Hal ini yang membuat Arby Rahmat—penulis buku Sarihati—mengajak para penulis merenungkan tentang pesatnya perkembangan AI yang kini mampu menulis puisi.

Arby merupakan seorang penulis yang tinggal di Bekasi dan bekerja di Jakarta. Buku Sarihati menjadi karya pertamanya yang resmi terbit dan berisi kumpulan puisi modern yang sarat emosi serta pengalaman personal.

Ketertarikan Menulis Sejak Bangku Sekolah

Ketertarikan Arby pada dunia menulis ternyata sudah tumbuh sejak lama, bahkan sejak masa sekolah dasar. Ia mengingat, momen awal perkenalannya dengan menulis berawal dari tugas mengarang yang kerap guru berikan setelah liburan sekolah.

“Biasanya kalau di sekolah dasar itu kan sering dapat PR mengarang, bikin karangan tentang liburan sekolah,” ujarnya.

Dari situlah ia mulai merasa bahwa bermain dengan kata dan gaya bahasa adalah sesuatu yang menyenangkan. Ditambah lagi dengan pelajaran menulis tulisan sambung yang semakin melatih kepekaan berbahasanya.

Seiring bertambahnya usia dan naik jenjang pendidikan, ketertarikannya pada dunia tulis-menulis pun semakin berkembang pesat.

Menemukan Puisi dan Berani Menerbitkan Buku

Perjalanan Arby sebagai penulis terus berkembang hingga ia mengenal berbagai bentuk tulisan, mulai dari cerpen hingga puisi. Dengan banyaknya bentuk karya tulis tersebut, puisi menjadi genre yang paling dekat dengannya.

Ketertarikan itu mulai tumbuh kuat saat ia duduk di bangku SMA kelas 1. Ia mulai menyukai kata-kata unik dan gaya bahasa yang indah, menikmati proses membaca dan mengamati kekuatan diksi dalam puisi.

Keberanian untuk menerbitkan buku justru muncul ketika Arby sudah memasuki dunia kerja. Ia akhirnya memutuskan membuat sebuah buku puisi berisi kumpulan puisi modern dengan rima yang tidak selalu seragam. Dari sanalah Sarihati lahir sebagai representasi perjalanan batin dan kreativitasnya.

Inspirasi dari Pengamen Puisi di Bus

Di era digital saat ini, inspirasi bisa datang dari mana saja. Bagi Arby, salah satu momen paling berkesan yang mendorongnya menulis puisi justru datang dari perjalanan pulang kerja.

Ia terbiasa naik bus dari Jakarta menuju Bekasi. Dalam kondisi lelah sepulang kantor, perhatiannya tertarik pada seorang bapak pengamen di dalam bus. Berbeda dari pengamen pada umumnya, bapak tersebut mengamen dengan membacakan puisi, tanpa alat musik atau tepuk tangan.

Menurut Arby, puisi yang bapak tersebut bacakan bukan puisi biasa. Teknik pembacaan dan pemilihan katanya menunjukkan pengalaman yang matang. Momen itu begitu membekas hingga membuatnya semakin yakin untuk berkarya. Bahkan, Arby menyampaikan niatnya untuk suatu hari memberikan buku Sarihati kepada bapak tersebut.

AI dalam Proses Kreatif Menulis

Tak dapat dipungkiri, AI kini telah masuk ke berbagai lini kehidupan, termasuk dunia kepenulisan. Arby mengakui bahwa saat menyusun buku Sarihati, ia sempat terpikir dan bahkan mencoba menggunakan AI.

Namun, ia menyadari bahwa AI bekerja berdasarkan algoritma dan data yang ada di internet. Menurutnya, yang hebat bukanlah AI itu sendiri, melainkan manusia yang menciptakannya. Oleh karena itu, Arby menekankan pentingnya tetap percaya pada kemampuan manusia dalam berkarya.

Ia mengaku, perasaan awal saat mencoba AI adalah kekaguman. Namun, ia memilih memosisikan AI hanya sebagai alat bantu untuk mencari inspirasi, bukan sebagai pengganti proses kreatif manusia.

Puisi, Emosi, dan Kejujuran

Menjawab pertanyaan tentang puisi buatan AI, Arby mengakui bahwa kecanggihan AI kadang membuat sulit membedakan mana karya manusia dan mana karya mesin. Hal ini menjadi tantangan bersama ke depan, terutama soal kejujuran dalam berkarya.

Menurut Arby, kehadiran AI justru mendorong penulis untuk lebih jujur terhadap karya yang dihasilkan. Ia menilai penggunaan AI sah-sah saja selama digunakan sebagai inspirasi dan tetap diolah dengan sentuhan pribadi.

Dalam Sarihati, Arby Rahmat menegaskan bahwa puisinya bersifat sangat personal. Inspirasi utamanya berasal dari istri dan anaknya. Meski demikian, ia juga menyisipkan puisi bertema isu sosial agar tetap relevan bagi pembaca yang lebih luas.

Setiap puisi dalam buku tersebut menyertakan petikan ilmu, sehingga tidak hanya menyentuh emosi, tetapi juga memberi makna dan pembelajaran bagi pembacanya.

Puisi Tetap Memiliki Tempatnya

Meski teknologi berkembang pesat, Arby tetap optimistis bahwa puisi akan selalu memiliki tempat tersendiri di hati pembaca. Ia percaya setiap karya memiliki pasar dan audiensnya masing-masing.

“Apapun yang kita buat, kita harus yakin bahwa apa yang kita buat itu memiliki pasarnya sendiri,” ujarnya.

Ia pun berpesan kepada penulis muda dan calon penulis agar tidak kehilangan kejujuran dalam berkarya di era AI. Menulis sebaiknya dimulai dari hal-hal yang disukai dan dekat dengan kehidupan, agar prosesnya terasa lebih ringan dan tanpa beban.

Menutup perbincangan, Arby menyemangati penulis untuk terus mengejar apa yang mereka inginkan, melawan rasa malas, dan tidak pernah berhenti belajar. Baginya, persaingan terbesar bukanlah dengan orang lain, melainkan dengan diri sendiri.

Sarihati bukan hanya berisi puisi, melainkan proses kreatif seseorang yang tetap tumbuh di tengah gejolak teknologi. Buku Sarihati karya Arby Rahmat ini dapat kamu beli lewat Detak Pustaka atau klik tautan berikut: Buku Sarihati.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.