Inspirasi

Sisma Rafanda Azzahra, Penulis Pemula yang Menang di Halo Penyair Batch 17

51
×

Sisma Rafanda Azzahra, Penulis Pemula yang Menang di Halo Penyair Batch 17

Sebarkan artikel ini
Sisma Rafanda Azzahra, Penulis Pemula yang Menang di Halo Penyair Batch 17
Sisma Rafanda Azzahra, juara satu lomba puisi di Halo Penyair Batch 17. (Dok. Detak Tribe).

Detak Tribe – Namanya Sisma Rafanda Azzahra atau Sisma. Ia adalah penulis pemula yang berhasil meraih juara 1 lomba puisi Halo Penyair batch 17. Naskah yang berhasil mengantarkannya menjadi juara bertajuk “Kasih Tak Sampai”. Menariknya, ini adalah pengalaman pertama Sisma terjun ke ajang lomba menulis.

Di sela kesibukannya menulis, Sisma menjalani hari-hari seperti remaja pada umumnya. Ia bersekolah sembari sesekali membantu meringankan pekerjaan orang tua di rumah.

Mulai Menulis Sejak Kelas 8

Ketertarikan Sisma pada dunia menulis sudah terjalin sejak duduk di kelas 8. Perjalanan itu kemudian membawanya untuk mencoba peruntungan dengan mengirimkan naskah ke lomba Halo Penyair pada 8 Mei lalu.

Keputusan tersebut muncul dari keyakinan sederhananya. Ia yakin bahwa tulisan yang hanya tersimpan di kertas tanpa pernah ia bagikan akan terasa sia-sia.

Bermula dari Kalimat yang Tak Pernah Terucap

Cerita di balik “Kasih Tak Sampai” berasal dari sepenggal kalimat yang tidak pernah sempat Sisma sampaikan kepada orang yang menjadi tujuannya. Dari pengalaman itu, ia menyadari bahwa perasaan serupa, rasa sayang yang tidak pernah tersampaikan, juga dialami banyak orang dengan caranya masing-masing.

Pemikiran itulah yang akhirnya mendorongnya untuk mengikutsertakan naskahnya dalam perlombaan, dengan harapan kecil bahwa karyanya bisa membawa hasil baik.

Pergulatan Batin Selama Proses Menulis

Menuliskan kisah yang berakar dari pengalaman pribadi bukan tanpa rintangan. Sisma sempat merasa ragu sebelum akhirnya memutuskan untuk meminta izin lebih dulu kepada orang yang menjadi inspirasi ceritanya, terkait penggunaan namanya dalam naskah.

Selama proses penulisan pun, ia kerap harus membantu orang tuanya, sehingga waktu menulisnya kerap terpotong. Ada pula momen di mana proses menulis ulang justru membuatnya kembali teringat dan merindukan sosok tersebut.

Reaksi Sang Inspirasi Ketika Tahu Naskahnya Menang

Ternyata, orang yang menjadi inspirasi dalam tulisan Sisma mengetahui kabar kemenangan tersebut. Responsnya pun penuh dukungan, ia mengucapkan selamat dan menyemangati Sisma agar terus menulis serta mengikuti kompetisi-kompetisi berikutnya.

Pesan untuk Penulis Pemula

Meski masih menyebut diri sendiri sebagai pemula, Sisma tak ragu berbagi beberapa pelajaran yang ia petik dari pengalamannya. Menurutnya, hal pertama yang perlu penulis lakukan adalah mulai menulis tanpa terlalu terbebani akan kekalahan. Ini karena ia sendiri sama sekali tidak menyangka bahwa karyanya akan terpilih sebagai pemenang.

Ia juga mengingatkan pentingnya kejujuran dalam bercerita, menulis dari hati, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang populer. Selain itu, ia menekankan bahwa naskah yang berhasil menang biasanya lahir dari proses revisi yang panjang, bukan semata dari ide awal yang sempurna, sehingga penulis pemula tidak boleh menyerah di tahap penyuntingan.

Menghadapi Writer’s Block dengan Cara Sendiri

Sisma turut membagikan pengalamannya menghadapi writer’s block. Baginya, kebuntuan menulis bukan disebabkan oleh kekurangan ide, melainkan oleh rasa takut berlebihan bahwa tulisan yang ia hasilkan tidak akan sebaik yang ia bayangkan.

Untuk mengatasinya, ia memilih tetap menulis meski hasilnya terasa jauh dari sempurna. Menurutnya, tulisan yang kosong tidak mungkin bisa ia sunting, sementara tulisan yang sudah ia tulis, meski masih kasar, tetap bisa ia perbaiki menjadi lebih baik.

Halo Penyair sebagai Rumah bagi Naskahnya

Keikutsertaan dalam Halo Penyair meninggalkan kesan tersendiri bagi Sisma. Ia menyebut ajang tersebut sebagai rumah yang mengajarkannya bahwa naskah yang semula terasa “tak sampai” pada akhirnya tetap menemukan tempat untuk sampai. Ucapan terima kasih pun ia sampaikan atas kesempatan yang telah Halo Penyair berikan.

Harapan untuk Sastra Indonesia dan Mimpi Menerbitkan Buku Solo

Di akhir perbincangan, Sisma menyampaikan harapannya untuk masa depan sastra Indonesia. Ia berharap dunia sastra Tanah Air dapat menjadi ruang yang terbuka bagi siapa saja, tanpa terkecuali, mulai dari pelajar, ibu rumah tangga, hingga perantau.

Tak lupa, Sisma juga mengungkapkan keinginannya untuk suatu hari menerbitkan buku solo. Baginya, keinginan itu bukan tentang popularitas, melainkan harapan sederhana agar kelak ada satu buku miliknya yang terpajang di rak seseorang.

Saat seseorang membuka kemudian membaca karya Sisma, ia merasa relate dengan karya tersebut. Bagi Sisma Rafanda Azzahra, hal itu sudah cukup untuk membuatnya merasa bahagia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.