News

Siswa NTT Gantung Diri, DPR Minta Evaluasi Sistem Pendidikan

31
×

Siswa NTT Gantung Diri, DPR Minta Evaluasi Sistem Pendidikan

Sebarkan artikel ini
Siswa NTT Gantung Diri, DPR Minta Evaluasi Sistem Pendidikan
Surat yang ditinggalkan siswa asal NTT sebelum ditemukan gantung diri. (Dok. istimewa).

Detak Tribe – Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menanggapi serius kasus meninggalnya seorang siswa kelas IV sekolah dasar (SD) berusia 10 tahun yang ditemukan tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, peristiwa tragis ini menjadi peringatan keras bagi negara dalam melindungi generasi muda.

“Ini bukan hanya kabar duka, tetapi alarm keras bagi negara dan masyarakat. Kejadian ini sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima terjadi di negara mana pun,” ujar Hetifah, dikutip dari detik.com, Rabu (04/02/2026).

Hetifah menegaskan, anak seusia 10 tahun seharusnya mendapatkan perlindungan dan bantuan penuh, bukan merasa putus asa, terlebih jika permasalahannya berkaitan dengan kebutuhan dasar pendidikan. Politikus Partai Golkar itu menilai, kasus ini menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan dan perlindungan sosial di Indonesia.

“Anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi dan dibantu, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena. Peristiwa ini menunjukkan betapa pentingnya kita mengoreksi sistem pendidikan, perlindungan sosial, serta kepedulian lingkungan sekitar,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa pendidikan dasar harus benar-benar gratis dan inklusif bagi seluruh anak Indonesia, tanpa terkecuali. Selain itu, program perlindungan sosial perlu tepat sasaran, khususnya bagi keluarga yang berada dalam kondisi rentan.

“Pendidikan dasar seharusnya betul-betul gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin. Ke depan, sistem pendidikan harus menjamin sekolah dasar gratis, termasuk perlengkapan belajar,” kata Hetifah.

Tak hanya itu, ia menambahkan bahwa kepedulian sosial di lingkungan sekolah maupun masyarakat harus diperkuat, agar anak-anak yang mengalami kesulitan dapat segera dibantu dan tidak merasa sendirian menghadapi kondisi kemiskinan.

“Kepedulian sosial wajib dibangun dengan kuat di sekolah dan masyarakat, supaya setiap anak yang kesulitan bisa segera mendapat pertolongan dan tidak pernah merasa sendirian,” tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR (10), siswa kelas IV SD yang ditemukan tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT. Dalam surat tersebut, korban menuliskan pesan yang ditujukan kepada ibunya.

Surat itu ditulis menggunakan bahasa daerah Bajawa. Dalam salah satu barisnya, YBR mengungkapkan kekecewaan terhadap sang ibu dengan menyebut ibunya pelit. Selebihnya, isi surat tersebut berupa ungkapan perpisahan yang ditujukan kepada ibunya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.