Detak Tribe – Uswatun Hasanah, atau akrab dengan nama Nana, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Puisi Halo Penyair Batch 25 Volume 3 yang bertema “Sajak Berselimut Duka”. Capaian itu tidak datang tiba-tiba. Kecintaannya pada tulisan sudah tumbuh sejak ia masih kecil dan terus berkembang hingga kini.
Nana masih duduk di bangku sekolah, sehingga waktunya banyak tersita oleh kegiatan belajar. Saat senggang, ia suka melukis dan sesekali menjadi fotografer di beberapa acara. Ia juga gemar membaca buku, terutama novel, karena dari bacaan itulah ia kerap menemukan hal-hal yang kemudian menjadi bahan inspirasi tulisannya.
Dari Penulis Terpilih Menjadi Juara
Sebelum menjuarai Batch 25, Nana pernah ikut serta dalam Lomba Puisi Batch 8 Volume 3 berjudul “Yang Hilang dari Pelukan”. Kala itu ia belum membawa pulang gelar juara, tetapi ia masuk sebagai penulis terpilih. Pengalaman tersebut justru mendorongnya untuk belajar lebih giat dan mencoba lagi.
Kesempatan itu datang pada Batch 25 Volume 3. Nana mengaku sangat bersyukur atas gelar Juara 1 yang ia raih. Baginya, pencapaian ini menjadi penyemangat untuk terus menulis dan belajar, serta menghasilkan karya yang indah dibaca sekaligus bermakna dan mampu menyampaikan sesuatu kepada pembaca.
Kebiasaan Kecil yang Menumbuhkan Kecintaan
Uswatun Hasanah mulai menyukai dunia tulis-menulis sejak kecil. Awalnya, ia rajin menulis diari tentang kegiatan sehari-hari, lalu lambat laun mulai mencoba menulis cerita pendek.
Pengalaman berkesan datang saat ia duduk di bangku MTs. Gurunya memberi tugas membuat cerpen yang akan dikumpulkan menjadi satu buku, dan Nana mengerjakannya dari awal sampai akhir. Sayangnya, buku itu belum pernah terbit di media mana pun karena hanya dibuat untuk memenuhi tugas sekolah.
Namun, sekolah memberinya piagam penghargaan sebagai penulis dalam buku berjudul “Pengalaman Teman-teman Ku Tentang Status Mobilitas Sosial”. Dari situ, Nana merasa semakin yakin bahwa ia ingin membuat dan menerbitkan bukunya sendiri suatu hari nanti.
Keberanian Ikut Lomba di Bangku SMA
Nana mengaku, keinginan menerbitkan buku sebenarnya sudah lama ada, tetapi terbentur biaya. Saat SMA, Nana memberanikan diri mengikuti lomba puisi. Di lomba pertamanya itu ia memang belum berhasil menjadi juara. Meski begitu, ia merasa bangga karena untuk pertama kalinya memiliki buku yang memuat karyanya.
Buku tersebut tidak hanya berisi tulisannya, melainkan juga karya orang-orang hebat dari berbagai penjuru Indonesia yang sama-sama berpotensi di bidang menulis. Bagi Nana, hal itu tetap menjadi pengalaman yang sangat berarti.
“Rasanya terharu sekali ketika melihat tulisan yang sebelumnya hanya ada di kertas akhirnya bisa menjadi sebuah buku,” katanya.
Cita-Cita Mencetak Novel
Hobi membaca novel sejak MTs turut membentuk impiannya. Nana kagum pada cara seorang penulis membangun alur, menggambarkan suasana, dan membuat pembaca ikut merasakan cerita. Dari rasa kagum itu, terlintas keinginan untuk suatu saat mencetak novel karya sendiri.
“Untuk sekarang, saya masih ingin mengikuti berbagai lomba terlebih dahulu, sambil terus belajar, menambah pengalaman, dan mengenal lebih banyak teman serta komunitas di dunia kepenulisan,” ungkapnya.
Ia berharap bisa mulai mewujudkan impian menulis dan menerbitkan novel setelah kuliah dan memiliki penghasilan sendiri. Oleh karena itu, lomba-lomba yang ia ikuti saat ini ia anggap sebagai cara untuk mencicil mimpi tersebut sedikit demi sedikit.
Tantangan Membagi Waktu dan Rasa Ragu
Dalam prosesnya, Uswatun Hasanah menghadapi beberapa hambatan. Hambatan yang paling sering ia alami adalah kesulitan membagi waktu antara sekolah dan menulis. Selain itu, ia kadang merasa ragu terhadap tulisannya sendiri.
Ia mengatasinya dengan tidak terlalu memaksakan diri, mencari suasana yang nyaman, dan tetap percaya bahwa setiap tulisan adalah bagian dari proses belajar. Bagi Nana, mengikuti lomba bukan semata soal menang atau kalah, tetapi tentang berani mencoba dan terus berkembang lewat karya.
Sambutan Hangat dari Orang Terdekat
Keluarga dan teman-teman Nana menyambut kabar kemenangannya dengan baik. Mereka ikut bangga dan bahagia, bahkan ada yang berkali-kali mengucapkan selamat. Beberapa di antaranya juga baru tahu bahwa Nana bisa menulis puisi.
Orang tuanya menjadi pendukung yang paling berarti. Mereka selalu mendukung bakat apa pun yang Nana miliki. Nana mengaku sangat terharu melihat kebanggaan mereka. Menurutnya, dukungan itu sederhana, tetapi membuatnya makin bersemangat untuk menulis dan mengembangkan bakat.
Tere Liye sebagai Sumber Inspirasi
Di antara para penulis, Nana menyebut Tere Liye sebagai salah satu inspirasinya. Ia menyukai cara penulis tersebut menyampaikan cerita yang sederhana namun mampu membuat pembaca terbawa suasana dan ikut merasakan emosinya. Karya-karya Tere Liye juga membuat Nana semakin tertarik untuk terus membaca dan belajar menulis.
“Dari karya-karyanya juga saya jadi semakin tertarik untuk terus membaca dan belajar menulis,” ujarnya.
Kesan dan Saran untuk Halo Penyair
Uswatun Hasanah mengaku kesannya selama mengikuti Halo Penyair sangat baik. Ia senang karena di sana tidak hanya memperoleh kesempatan berlomba, tetapi juga pengalaman dan kesempatan bertemu banyak penulis lain. Perjalanannya dari penulis terpilih hingga menjadi Juara 1 pun menjadi pengalaman yang sangat berarti.
Untuk ke depan, ia berharap Halo Penyair tetap mempertahankan wadah seperti ini dan lebih sering mengadakan kegiatan yang membantu penulis muda yang sedang berproses agar karyanya dikenal lebih luas.
“Semoga ke depannya semakin banyak penulis yang berani mengirimkan karyanya dan menemukan tempat untuk belajar serta berkembang bersama Halo Penyair,” pungkas Nana.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











