Detak Tribe – Vitria Elvi merupakan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di Insan Cendekia Boarding School (ICBS), sebuah sekolah berasrama berbasis pesantren yang terletak di Kompleks Harau, Payakumbuh.
Kesehariannya cukup padat, yakni mengajar, mengurus rumah tangga, dan membesarkan dua anak. Namun, di sela kegiatan itu, ia secara rutin melatih siswa-siswanya untuk menulis dan mengikuti lomba kepenulisan.
Sudah sejak Batch 17 Vol 2, ia membawa siswa-siswanya ikut dalam event Halo Penulis, dan sejak Batch 6 Vol 3 untuk Halo Penyair. Keduanya masih berlanjut hingga sekarang.
Mulai dari Ajakan, Berujung Kebiasaan
Awalnya, Vitria Elvi hanya ingin mendorong siswa agar mau menulis. Ia tidak menyangka, para siswa merespons dengan antusias tinggi. Para siswa bahkan aktif menanyakan jadwal lomba berikutnya. Setiap kali berpapasan dengannya, tidak jarang ada siswa yang langsung bertanya kapan ada event lagi dan menyatakan ingin ikut.
Tantangan yang Paling Nyata
Karena ICBS adalah sekolah pesantren, ada larangan untuk siswa menggunakan ponsel maupun laptop pribadi. Akibatnya, semua proses pengetikan dan pengiriman karya dilakukan melalui satu laptop milik Vitria.
Ia memang pernah mencoba meminjam perangkat dari sekolah, tetapi hanya beberapa kali. Ini karena risikonya cukup tinggi ketika memegang laptop. Ada kemungkinan siswa melakukan hal-hal di luar tugas yang termasuk pelanggaran aturan pondok. Akhirnya, ia memilih menggunakan laptopnya sendiri supaya siswa lebih terkontrol.
Karena kendala itu, para siswa yang bisa mengikuti event terbatas, yakni hanya sekitar 12 siswa. Jumlah ini tergantung seberapa luang waktu yang Vitria Elvi miliki di luar rapat dan kegiatan lain.
Siswa yang belum kebagian giliran harus menunggu event berikutnya. Bahkan tidak jarang, Vitria begadang hingga pukul 00.00 untuk mengecek dan mengirimkan karya satu per satu menjelang tenggat waktu.
Ada pula hambatan di sisi pendaftaran. Banyak akun email siswa yang memerlukan konfirmasi melalui ponsel orang tua, sementara tidak semua orang tua cepat merespons. Bila sudah begitu, karya yang sebenarnya sudah siap kirim terpaksa menunggu gelombang berikutnya.
“Sedih sebenarnya,” kata Vitria. Namun, ia mengajarkan siswa-siswanya untuk menerima situasi tersebut dengan lapang dada.
Respons Positif dari Sekolah dan Orang Tua
Meski penuh tantangan, lingkungan sekitar mendukung langkah yang Vitria ambil. Kepala sekolah mengapresiasi kegiatan ini dan mendorongnya untuk terus melatih siswa dalam bidang menulis. Bahkan, pihak sekolah juga berharap semua siswa kelak memiliki karya yang terbit menjadi buku.
Orang tua siswa pun ikut senang setiap kali karya anaknya lolos. Semangat itu kemudian menular kembali ke siswa, yang semakin antusias untuk ikut di event-event berikutnya.
Bagi siswa yang punya inisiatif lebih, Vitria tidak menutup pintu. Ada yang dari kelas lain sengaja mencari waktu luangnya, menyerahkan karya, lalu mengetik sendiri di laptopnya saat jam istirahat.
Kesan untuk Penyelenggara Event
Vitria mengungkapkan bahwa ada beberapa hal dari Halo Penyair dan Halo Penulis yang ia nilai positif. Pertama, karya siswa tetap terbit dalam buku antologi meski belum meraih juara. Ini adalah esuatu yang menurutnya perlahan membangun rasa percaya diri para siswanya.
Kedua, tenggat pengiriman selalu jatuh di akhir pekan, sehingga ia punya waktu yang lebih teratur untuk melatih siswa setiap minggunya. Ketiga, pengumuman hasil biasanya keluar dalam tiga hari, dan tidak perlu menunggu terlalu lama.
Dan keempat, jarak antar event yang tidak terlalu panjang. Jarak yang cukup dekat antarlomba ini membuat siswa yang belum sempat ikut tidak kehilangan motivasi.
Harapan ke Depan
Menutup pembicaraan, Vitria menyampaikan tiga harapannya untuk dunia sastra Indonesia. Pertama, ia ingin sastra semakin dikenal dan diakrabi oleh anak muda di berbagai daerah, bukan hanya di kota-kota besar.
Masuknya event seperti Halo Penyair ke Harau, Payakumbuh ia anggap sebagai bukti bahwa sastra bisa tumbuh di mana saja, termasuk di lingkungan pesantren.
Kedua, ia berharap sastra tetap menjadi ruang yang jujur bagi anak muda untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran mereka, khususnya lewat puisi dan cerpen.
Ketiga, di tengah perkembangan dunia digital, ia berharap anak muda terus difasilitasi untuk menulis dan menerbitkan karya. Ini karena menurut Vitria, hal itu bisa turut mendorong minat baca dan memperbaiki tingkat literasi Indonesia secara keseluruhan.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











